Tampilkan postingan dengan label Penelitian Lembaga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penelitian Lembaga. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 Agustus 2017

WTM DAN PEMDES BHERA SELENGGARAKAN PELATIHAN MANAJEMEN

Martinus Maju sedang memfasilitasi Pelatihan di Lekebai (2/8/17)
Maumere-KN. Wahana Tani Mandiri (WTM) dalam Program Penguatan Kapasitas Masyarakat Tani dalam Adaptasi Perubahan Iklim lewat Usaha Tani Berbasis Konservasi, dalam kerja samanya dengan Miseror itu, dalam pelaksanaan Pelatihan Manajemen Kelompok Tani bekerja sama dengan Pemerintah Desa Bhera, Kecamatan Mego.

Kegiatan pelatihan ini dihadiri oleh Simon Wara (Kepala Desa Bhera), Wihelmus Wara (Ketua BPD Bhera), Martinus Maju (Fasilitaotor Lapangan Kecamatan Mego dan Yohanes Dawa (Fasilitator Lapangan Kecamatan Tanawawo) serta Herry Naif (Koordinator Program WTM-CEPF). Peserta kegiatan yang hadir dalam kegiatan itu adalah pengurus kelompok (ketua dan sekretaris dari 11 kelompok tani di desa Bhera).

Simon Wara, pada acara pembukaan mengatakan bahwa manajemen kelompok tani yang ada di desa Bhera baik yang didampingi WTM maupun yang belum didampinginya harus dibenahi. Bila tidak kelompok tani itu akan menjadi Bebu (bentuk dan bubar), kata Simon.

Sebelum dilakukan acara itu, dilakukan pengukuhan 2 kelompok tani yakni; Kelompok Bitawara dan Rate Wae) sebagai kelompok tani baru di desa itu.

Sedangkan, Wihelmus Wara (Ketua BPD Bhera) mengatakan bahwa kelompok-kelompok tani yang ada ini harus serius mengikuti peningkatan kapasitas yang diselenggarakan oleh lembaga-lembaga yang masuk ke desa ini, agar dari waktu ke waktu ada perubahan yang signifikan. Malah lebih bagus kalau semua kelompok dampingan yang ada di desa ini didampingi WTM, katanya.

Sedangkan Martinus Maju (Fasilitator Lapangan WTM) mengulas bahwa kelompok-kelompok tani yang ada hari ini bukanlah kelompok baru, karena telah sejak lama didampingi WTM. Hanya saja bahwa dalam sekian lama perlu ada pemugaran manajemen sehingga juga ada reorganisasi dan restrukturisasi.

Lebih dari itu, kelompok tani harus memiliki sebuah perencanaan, monitoring dan evaluasi. Karena itu akan menjadi indikator untuk dilihat sehat tidaknya sebuah kelompok tani yang ada, kata Tinus.

Herry Naif, Koordinator Program CEPF membawakan materi tentang tipe-tipe kepemimpinan dan Kerja sama. Dalam materi itu, para peserta menyebutkan berbagai tipe pemimpin yang tampak selama ini seperti: otoriter, demokratis, karismatik dll.

Dalam ulasannya, Herry menegaskan bahwa sebuah kelompok tani harus diorganisir dan memiliki manajemen yang transparan dan akuntable. Dengan itu bisa dibangun kerja sama dengan pihak luar karena secara internal sudah kuat. Tetapi bila dalam kelompok masih amburadul maka jangan bermimpi untuk bekerja sama dengan pihak luar. (Ryn-KN)



Rabu, 12 Juli 2017

BEATRIKS SIAP MENYAMBUT KUNJUNGAN OXFAM

Beatriks Rika, Female food Hero, 2015
Betriks Rika adalah seorang petani peneliti yang berhasil dalam melakukan pemuliaan tanaman padi atau perkawinansilang  padi pada tahun 2015 dan mendapat penganugerahan dari OXFAM sebagai Perempuan Pejuang Pangan. Ini merupakan kebanggaan tersendiri dari sosok seorang Betris juga pihak lembaga yang mendampinginya selama ini yakni WTM.

Betriks Rika nama lengkapnya berasal dari Dusun Nualolo,Kecamatan Mego, Kabupaten Sikka pada hari Rabu kemarin tangal 11 Juli 2017 didatangi oleh staf WTM Maria Martha Muda yang adalah Koordinator bidang Advokasi, Riset, dan Pengelolaan Lingkungan, bermaksud bertemu langsung bungsu Beti sapaan akrabnya dalam rangka berdiskusi bersama tentang persiapannya dalam rangka kunjungan OXFAM di tanggal 13 Juli mendatang.

Setelah sampai di rumahnyaBetris dan Erin langsung berdiskusi terkait persiapan yang selama ini sudah dia lakukan. Sementara itu di depannya ada sebuah nyiru  di dalamnya berisi padi yang sementara ia tampi. Di sela-sela diskusi itu, Betris mengatakan bahwa padi ini baru selesai panen hanya dapat 3 karung saja, biar untuk buat makan saja. Diskusi itu cukup hangat dan beliau merasa senang karena selalu dikunjungi oleh orang-orang penting yang adalah Mitra WTM yang selama ini mendampingi beliau juga anggota yang lain di kelompok Lowo Lo’o.

Antusias dari mama Betris ini mucul karena orang yang berkunjung ke lahan penelitiannya bukan saja dari MASIPAG Filipina tetapi OXFAM dari Jakarta yang selalu setia sebagai mitra WTM dalam mendampingi kelompok-kelompok tani yang cukup berhasil dalam mendampingi petani di  di 3 di Wilayah dampingan yakni Mego, Magepanda, dan Tanawawo di Kabupaten Sikka. Saya sudah tanam padi F 2, rumah pembibitan juga saya sudah siapkan dengan baik.

Di lahan itu saya pasang dengan spanduk supaya kalau ada orang lewat mereka tahu bahwa di sini ada yang melakukan penelitian, ungkap bungsu Beti sapaan sayangnya. Rumah pembibitannya menggunakan atap daun kelapa, pagarya di pasang dengan bambu dan di kelilingi oleh kelambu bekas sehingga kelihatan bersih dan rapih. Di dalam rumah itu juga sudah disiapkan dengan beberapa polibag yang nantinya akan di isi padi yang mau dikawinsilangkan.

Padi F 2 itu yang dijuluki 3 S yang artinya  Sega, Sela Sona nama ini yang diambil dari nama keturunan nenek moyang  yang di tanam di lahan sekarang. Beliau sangat semangat dan berharap mudah-mudahan kunjungan nanti bermanfaat  bagi WTM,  bagi mama Beatrix sendiri juga untuk semua anggota kelompok Lowo Lo’o karena anggota ini yang selalu memberikan suport dan motivasi bagi bungsu beti apalagi merupakan kunjungan pertama OXFAM untuk mereka.

Kamis, 23 Maret 2017

DESA HALE FOKUS PADA REVITALISASI NILAI-NILAI LOKAL

Maumere, KN. Presentasi hasil Studi Pengelolaan Sumber daya Alam (PSDA) sebagai bentuk penyempurnaan terhadap hasil studi yang dilakukan kader tani dan fasilitator lapangan bersama kelompok di desa Hale, kecamatan Mapitara dihadiri oleh duapuluhan orang dari kader tani, kepala dusun, tokoh masyarakat dan para undangan lainnya di kantor Desa Hale (22/03).

Kegiatan ini Pejabat Sementara Kades Hale, didampingi Herry Naif (Koordinator Program WTM – CEPF) dan Yanny (Ketua BPD Hale).
Herry Naif, dalam sambutannya memberi apreseasi kepada tim Pengkaji karena telah berhasil melakukan kajian lapangan. Bahwa, selama ini para petani mungkin tidak pernah dipikirkan untuk menjadi peneliti, tetapi kami mencoba melibatkan para kader tani kami menjadi peneliti dan ternyata sukses.

Diharapkan hasil studi ini menjadi sebuah kerangka dasar bagi pemerintah desa dan warga dalam upaya perbaikan manajemen ekosistem dan pendapatan petani terutama dalam proses pembangunan. Selain itu, pemerintah desa juga perlu meresponsnya dengan mengakomodir apa yang direkomendasikan dalam studi ini mulai dari perencanaan hingga pada monitoring, ajak Naif.

Yanny, Ketua BPD Hale mengatakan bahwa WTM bukan lembaga baru di Mapitara. Sejak tahun 2009 hadir di Mapitara dengan program kebencanaan. Kami berharap program yang sudah berjalan hampir setahun ini akan memberikan nilai-nilai positif dalam pembangunan yang berpihak pada keberlanjutan.

Dalam sambutan pembukaan, Alfons (PJS desa Hale) memberi apreseasi kepada WTM yang mendorong pembangunan yang berpihak pada lingkungan dan manusia. Untuk itu, para peserta seyogyanya memberi dukungan pada pelaksanaan program WTM yang sedang berjalan karena ini berasas pada suatu niat baik, yakni meningkatkan pendapatan petani dan penyelamatan ekonomi. Apalagi WTM dalam programnya mendorong pengelolaan sumber daya alam yang eco-humanis.

Alfons, juga menegaskan bahwa semua hal dan perilaku harus berasas pada norma hukum yang berlaku. Bila tidak, kita akan menuai persoalan-persoalan ke depan, ujar pegawai kantor camat yang sedang dipercaya sebagai pejabat sementara desa Hale. Setelah acara seremonial, dilanjutkan dengan penyampaian proses penelitian oleh Albertus Ruben, Kader Tani WTM bahwa proses penelitian ini sudah dilakukan bersama 7 (tujuh) kelompok dampingan WTM di desa Egon Hale yang kami dampingi dengan metode Participatory Rural Appraisal (PRA) dengan 4 alat bantu yakni: Kelender Musim, Pemetaan, Transek dan Diagram Venn.

Kemudian dilanjutkan dengan presentasi hasil studi yang difasilitasi oleh Mus Mulyadi (Fasilitator WTM). Dari presentasi yang dilakukan ini berhasil mengelompokan beberapa permasalahan pokok yang terjadi, yang diklasifikasi sebagai bidang skala prioritas diantaranya: Lingkungan hidup, Pertanian, Peternakan dan Pengukuhan lembaga Adat yang mana akan mengidentifikasi berbagai nilai lokal dan kembali merevitalisasinya dengan membentuk struktur Adat. (Ryn – KN)

DESA HALE MEMFOKUSKAN DIRI UNTUK REVITALISASI NILAI-NILAI LOKAL

Maumere, KN. Presentasi hasil Studi Pengelolaan Sumber daya Alam (PSDA) sebagai bentuk penyempurnaan terhadap hasil studi yang dilakukan kader tani dan fasilitator lapangan bersama kelompok di desa Hale, kecamatan Mapitara dihadiri oleh duapuluhan orang dari kader tani, kepala dusun, tokoh masyarakat dan para undangan lainnya di kantor Desa Hale (22/03).

Kegiatan ini Pejabat Sementara Kades Hale, didampingi Herry Naif (Koordinator Program WTM – CEPF) dan Yanny (Ketua BPD Hale). Herry Naif, dalam sambutannya memberi apreseasi kepada tim Pengkaji karena telah berhasil melakukan kajian lapangan. Bahwa, selama ini para petani mungkin tidak pernah dipikirkan untuk menjadi peneliti, tetapi kami mencoba melibatkan para kader tani kami menjadi peneliti dan ternyata sukses.

Diharapkan hasil studi ini menjadi sebuah kerangka dasar bagi pemerintah desa dan warga dalam upaya perbaikan manajemen ekosistem dan pendapatan petani terutama dalam proses pembangunan. Selain itu, pemerintah desa juga perlu meresponsnya dengan mengakomodir apa yang direkomendasikan dalam studi ini mulai dari perencanaan hingga pada monitoring, ajak Naif.

Yanny, Ketua BPD Hale mengatakan bahwa WTM bukan lembaga baru di Mapitara. Sejak tahun 2009 hadir di Mapitara dengan program kebencanaan. Kami berharap program yang sudah berjalan hampir setahun ini akan memberikan nilai-nilai positif dalam pembangunan yang berpihak pada keberlanjutan.

Dalam sambutan pembukaan, Alfons (PJS desa Hale) memberi apreseasi kepada WTM yang mendorong pembangunan yang berpihak pada lingkungan dan manusia. Untuk itu, para peserta seyogyanya memberi dukungan pada pelaksanaan program WTM yang sedang berjalan karena ini berasas pada suatu niat baik, yakni meningkatkan pendapatan petani dan penyelamatan ekonomi. Apalagi WTM dalam programnya mendorong pengelolaan sumber daya alam yang eco-humanis.

Alfons, juga menegaskan bahwa semua hal dan perilaku harus berasas pada norma hukum yang berlaku. Bila tidak, kita akan menuai persoalan-persoalan ke depan, ujar pegawai kantor camat yang sedang dipercaya sebagai pejabat sementara desa Hale. Setelah acara seremonial, dilanjutkan dengan penyampaian proses penelitian oleh Albertus Ruben, Kader Tani WTM bahwa proses penelitian ini sudah dilakukan bersama 7 (tujuh) kelompok dampingan WTM di desa Egon Hale yang kami dampingi dengan metode Participatory Rural Appraisal (PRA) dengan 4 alat bantu yakni: Kelender Musim, Pemetaan, Transek dan Diagram Venn.

Kemudian dilanjutkan dengan presentasi hasil studi yang difasilitasi oleh Mus Mulyadi (Fasilitator WTM). Dari presentasi yang dilakukan ini berhasil mengelompokan beberapa permasalahan pokok yang terjadi, yang diklasifikasi sebagai bidang skala prioritas diantaranya: Lingkungan hidup, Pertanian, Peternakan dan Pengukuhan lembaga Adat yang mana akan mengidentifikasi berbagai nilai lokal dan kembali merevitalisasinya dengan membentuk struktur Adat. (Ryn – KN)

Rabu, 22 Maret 2017

DESA EGON GAHAR MEREKOMENDASIKAN 3 PERDES

Maumere, KN. Setelah beberapa bulan dilakukan Studi Pengelolaan Sumber daya Alam di Kelompok-kelompok dampingan WTM, kemudian dilanjutkan dengan Presentasi Hasil Studi Pengelolaan Sumber daya Alam di desa Hale sebagai bentuk penyempurnaan terhadap hasil studi tersebut. Kegiatan presentasi ini dilakukan dihadiri oleh duapuluhan orang dari kader tani, kepala dusun, tokoh masyarakat desa Hale dan para undangan lainnya.Kegiatan ini dibuka Pejabat Sementara Kepdes Hale didampingi Herry Naif (Koordinator Program WTM – CEPF) dan Yani (Ketua BPD Egon Gahar) di Aula Kantor Desa Hale (22/03).

Herry Naif, dalam sambutannya mengatakan bahwa presentasi hasil studi ini merupakan hasil kerja para kader, anggota kelompok tani di desa Hale dan para fasilitator lapangan WTM selama beberapa bulan. Kegiatan presentasi ini mengalami penundaan terus karena desa Hale belum adanya Surat Keputusan Pengangkatan Pejabat Sementara dari Bupati Sikka.

Untuk itu, kami memberi apreseasi kepada para pihak yang bekerja keras sampai terselenggaranya kegiatan ini. Diharapkan hasil studi ini memberikan sebuah masukan postif bagi pemerintah desa dan warga dalam upaya perbaikan manajemen ekosistem dan pendapatan petani. Selain itu, pemerintah desa juga perlu meresponsnya agar program yang berjalan ini akan bermanfaat bagi petani, ajak Naif.

Yani, Ketua BPD Hale mengatakan bahwa WTM bukan hanya program ini, tetapi sebelumnya WTM juga sudah mendampingi warga ini sejak 2009 dalam program Building Resiliance. Hari ini, saya melihat bahwa motivasi WTM dalam usaha pertanian berkelanjutan ini tentunya bermanfaat bagi petani. Karena itu, presentasi hasil studi ini akan memberikan nilai-nilai yang perlu direspon pemerintah desa dan warga.

Sedangkan dalam sambutan pembukaan, Pejabat Sementara Desa Hale mengajak para peserta dan Warga pada umumnya untuk selalu memberi dukungan pada pelaksanaan program yang sedang berjalan, karena program ini tentunya berasas pada suatu niat baik, yakni meningkatkan pendapatan petani dan penyelamatan ekonomi. Apalagi WTM dalam programnya mendorong pengelolaan sumber daya alam yang eco-humanis. Yang mana pengelolaan Sumber daya alam harus berpihak pada manusia dan lingkungan.
Beliau juga mengajak warga desa Hale untuk selalu menjaga kawasan. Bila tidak, kita akan menuai persoalan-persoalan ke depan, ujarnya.

Setelah acara seremonial, dilanjutkan penyampaian alur-proses penelitian Robertus Ruben, Kader Tani desa Hale. Bahwa proses penelitian ini sudah dilakukan pada 7 kelompok dampingan WTM di desa Hale yang kami dampingi dengan metode Participatory Rural Appraisal (PRA) dengan 4 alat bantu yakni: Kelender Musim, Pemetaan, Transek dan Diagram Venn. Dari kegiatan ini kami telah menemukan berbagai permasalahan yang terjadi di desa ini. Lalu dilanjutkan dengan presentasi yang difasilitasi oleh Mus Mulyadi (Fasilitator Lapangan WTM).

Kegiatan presentasi ini berjalan seru yang berproses selama 4 jam ini berhasil mengelompokan beberapa permasalahan pokok yang terjadi, yakni: Lingkungan Hidup, Pertanian dan Pembentukan Lembaga Adat dan Kesehatan. Dari keempat permasalahan ini direkomendasikan Peraturan desa terhadap Penyelamatan Lingkungan, Pengelolaan Pertanian dan Peternakan agar memberikan sanksi yang tegas kepada para pelaku. Selain itu juga perlu direvitalisasi nilai-nilai lokal dengan kembali dibentuk dan dikukuhkan lembaga adat. (Ryn-KN)

Kamis, 09 Februari 2017

Breaving Materi Kedaulatan Pangan Bersama Beatriks Rika

Maumere, KN. Beatrix Rika, sosok petani perempuan sederhana yang memiliki dedikasi tinggi dalam dunia pertanian, sejak masih muda dengan mengelola lahan sawah dan kebun landang di Lowo Lo'o. Di kebunnya ia menanami tanaman pangan, seperti: padi, jagung serta hortikutura, sambil aktif sebagai kader posyandu.

Sejak tahun 2014, Beatriks sebagai kader tani WTM mendampingi 5 kelompok di desa Bhera, yakni: kelompok santu Yosef, Sinar Tani, Usaha Bersama, Lowo Lo’o, dan Wore Tau Mbombe. Beatrix adalah anggota kelompok tani Lowo Lo’o dan menjadi kader tani yang berperan mendampingi dan memotifasi 5 kelompok tani di wilayahnya dengan jumlah anggota 75 orang (55 perempuan. 25 laki-laki). Di samping beliau bersama fasilitator lapangan WTM memfasilitasi kelompok dampingan, ia juga terlibat dalam penelitian pemulian benih padi lokal kupa dan dan ciherang. “Alasan kami lakukan kawin silang ini karena selama ini kami bergantung pada benih dari luar sementara benih yang ada belum sempurna serta masih tidak mampu bertahan terhadap hama dan iklim setempat,” ungkapnya.

Berkat ketekunannya ia telah berhasil sampai pada tahap F2 untuk jenis padi baru. Hasil benih F2 akan dikawinkan lagi untuk kemudian menghasilkan benih lokal baru yang dinamainya padi 3S (Sega, Sela, Sona).

"Berdasarkan penelitian yang kami lakukan, apabila berhasil maka kami akan menghasilkan benih baru yang besar bulirnya, tahan hama, dan tahan terhadap iklim lokal yang panas,” ungkap Ibu Beatriks.

Dari kesuksesan itu, Beatriks Rika kemudian diikutsertakan dalam pemilihan/nominasi perempuan pejuang pangan oleh oxfam Indonesia. Dari proses seleksi itu, Beatriks Rika kemudian terpilih dari 9 perempuan pejuang pangan di Indonesia. Sebuah proses telah dilakukan untuk mendorong kedaulatan benih dari petani. Proses penganugerahan itu telah membangkitkan adrenalin para petani untuk terlibat dalam setiap proses yang dilakukan. Bahwa secara metodologis, tentunya penelitian ini harus di-back-up oleh para akademisi tetapi sebuah hal positif bahwa petani membutuhkan pengetahuan praktis dalam melakukan proses pemulian benih.

Untuk itu, secara lembaga (Wahana Tani Mandiri - WTM) berinisiasi menggagas kerja sama dengan Oxfam Indonesia sebagai salah satu bentuk kampanye sekaligus penyebarluasan pengetahuan dengan pola “study farmer to farmer” terutama ke kelompok dampingan WTM dan beberapa lokasi lain yang dipandang perlu.

Mengawali kegiatan ini dengan dilakukan Breavinng materi Kedaulatan pangan oleh Carolus Winfridus Keupung (Direkur WTM), Alexander Bambang (Koord Advokasi Pertanian), Maria Marta Muda (Koordinator Advokasi dan Riset dan Pengelolaan Lingkungan Hidup), Herry Naif (Koordinator Program CEPF). Kegiatan ini difasilitasi oleh Carolus Win Keupung, yang mana dalam materi itu ia menegaskan bahwa kedaulatan pangan menjadi hal yang urgen. Dan salah satu wujud kegiatan itu adalah Pemulian.

Sedangkan Beatriks Rika, yang ditemui terpisah mengatakan bahwa sangat bangga karena ia diberi kesempatan untuk berbagi bersama petani, study farmer to farmer. Kegiatan ini membuatnya harus banyak belajar dari petani yang lain, selain ia mensharingkan pengalamannya dalam pemulian dan bagaimana petani harus mencapai kedaulatan benih.

Sedangkan Maria Marta Muda (Koordinator advokasi, Riset Pengelolaan Lingkungan) mengatakan bahwa penelitian ini hendaknya menjadi momentum bagi petani untuk belajar satu sama lain. Lebih dari itu, para petani juga lebih melihat pangan secara umum dalam memenuhi kebutuhan akan pangannya. Saya akan coba membantu mendesain model penelitian yang akan diemban, ujarnya.

Jumat, 06 Januari 2017

WTM Presentasi Hasil Studi PSDA di desa Hebing

Maumere, KN. Wahana Tani Mandiri (WTM) kerjasama dengan Critycal Ecosistem Partnership Fund (CEPF) melakukan penelitian studi Pengelolaan Sumber Daya Alam untuk wilayah kecamatan Mapitara. Tidak terasa selama 4 (empat) bulan WTM bersama kader melakukan penelitian melalui pengambilan data di setiap dusun dan kelompok tani sebagai data primer dalam penelitian tersebut, terutama yang berkaitan dengan lingkungan hidup. Sebab studi ini difokuskan pada isu penyelamatan lingkungan hidup.

Berkat kerja sama dan koordinasi yang baik antara pihak desa, BPD, kelompok tani dan WTM melakukan persentase Sudi PSDA di desa Hebing Kec Mapitara. Kegiatani ini dilaksanakan pada hari Jumat 7 Januari 2017 di Aula kantor desa Hebing. Peserta yang menghadiri kegiatan tersebut berjumlah 32 orang utusan dari desa, BPD, kepala dusun, RT/RW, kader tani, serta utusan dari kelompok tani dampingan WTM. Sedangkan staf WTM sebagai fasilitator dalam kegiatan tersebut.

Kegiatan persentasi Studi PSDA dibuka oleh Sekretaris Desa (Sekdes) Hebing. Dalam sambutannya Sekdes menyampaikan terima kasih banyak kepada pihak WTM yang telah mendampingi beberapa kelompok tani yang ada di desa Hebing. Kehadiran WTM di desa Hebing diharapkan dapat memberi suasana baru dan perubahan yang nyata bagi petani sehingga petani yang tergabung dalam kelompok tani secara perlahan bisa mempraktekkan sistem pertanian terpadu di kebun, ujarnya.

Sebelum presentase dimulai, Sekdes mengarahkan peserta untuk serius serta memberi masukan-masukan terkait permasalahan yang terjadi di desa Hebing, sehingga secara bersama pula masalah tersebut bisa diselesaikan lewat berbagai upaya-upaya penyelesaian.

Sedangkan, Ketua BPD menegaskan bahwa kami sangat antusias dengan kehadiran WTM di wilayah kami. Menurutnya lembaga ini adalah lembaga sosial yang turun langsung di tengah-tengah masyarakat untuk tujuan mulia, yaitu membantu menyelesaikan permasalahan masyarakat, demikian pengakuannya. Berkaitan dengan kegiatan PSDA, ia menegaskan bahwa kegiatan ini sudah berlangsung sejak 4 bulan yang lalu mulai dari pembekalan, sosialisasi sampai pada metode untuk pengambilan gagasan (pagas). Menurutnya WTM membuat pagas di setiap dusun berdasarkan pendapat, masukan masyarakat yang secara nyata dialami. Pada kesempatan ini, diharapkan supaya masukan masukan tersebut kita bahas bersama sampai pada hasil perencanaan yang nantinya bisa direalisasikan oleh desa bersama WTM, harapnya.

Setelah acara seremonial pembukaan kegiatan, persentasi diserahkan sepenuhnya kepada tim pengkaji PSDA. Dalam hal ini, kegiatan presentase difasilitasi oleh koordinator advokasi dan lingkungan (Wilfridus Woda) tentang analisa masalah berdasarkan data terkait permasalahan di desa Hebing. Kemudian dilanjutkan oleh Koordinator Pertanian (Dedy Alexander) terkait pengelompokan masalah dan upaya penyelesaian masalah sehingga dapat menyimpulkan suatu perencanaan yang prioritas.

Kegiatan presentasi ini menjadi momentum konsultasi publik dari hasil studi agar kemudian disempurnakan untuk menghasilkan sebuah potret ekologi yang mana juga akan ditemukan cara-cara ampuh dalam mengatasi berbagai permasalahan yang berkaitan dengan upaya penyelamatan ekologi dan bagaimana meningkatkan pendatapan petani melalui sebuah pola pertanian yang selaras alam (berkelanjutan) agar kawasan ini mengalami keseimbagan ekologi. Dengan demikian, upaya dalam menghadapi problem besar yang sedang mengkhawatirkan kerusakan lingkungan diminimalisir. (Tim KN)

Jumat, 07 Oktober 2016

POTRET SUMBER MATA AIR DAN ANALISANYA DI WILAYAH KECAMATAN MAGEPANDA, MEGO DAN TANAWAWO

Oleh: Herry Naif

 Air menjadi sebuah kebutuhan yang tak terpisahkan dari manusia dan semua makhluk hidup yang lain. Air menjadi unsur hakiki. Tiada kehiduapan tanpa air. Kebutuhan akan air terus meningkat dari waktu ke waktu. Seiring dengan itu pula, banyak sumber mata air yang mengalami penurunan debit akibat rusaknya kawasan tangkapan air (water scatchman area). 
Beberapa dasawarsa lalu, krisis air adalah masalah perkotaan sebab di sana banyak jumlah penduduk dan banyak lahan dikonversi. Kini, kelangkaan air tanpa mengenal sekat wilayah, baik di daerah kota maupun daerah hulu sekalipun. Belum lagi perampasan air dari perusahaan-perusahan pun kian meningkat, setelah adanya privatisasi air yang terurai dalam Undang-Undang Sumber Daya Air Nomor 7 Tahun 2004, yang mana secara prinsipil mengatur tentang hak guna pakai air dan hak guna usaha air. Itu berarti bahwa dalam undang-undang tersebut mencuatkan kontroversi tentang hak guna usaha air yang dapat diberikan kepada perseoangan atau badan usaha dari pemerintah daerah. Ini seakan memantik kontroversi tentang monopoli atau penguasaan air sebagai salah sumber daya alam yang sebetulnya merupakan kebutuhan dasar manusia. 
Keterlibatan sektor swasta dalam investasi air akan memperparah upaya pemenuhan kebutuhan air bagi rakyat yang populasinya terus bertambah, sedangkan jumlah debit air berbanding terbalik dimana debit air semakin menurun seturut kerusakan lingkungan terutama daerah-daerah kawasan tangkapan air. 
Dalam konteks kabupaten Sikka, terutama di kecamatan Mego, Magepanda dan Tanawawo belum mengalami eksploitasi air oleh perusahaan tetapi permasalahan air menjadi krusial. 
Karena itu, Wahana Tani Mandiri melihat bahwa permasalahan air tanpa mengenal sekat ruang. Kondisi ini sangat terasa pada tahun 2016 di Sikka mengalami musim kemarau/musim panas yang mana banyak mata air menjadi kering dan berdampak pada tanaman pertanian dan tanaman umur panjang petani pun mengalami kematian/kekeringan. Suatu pengalaman yang dilihatnya sebagai fenomena alam yang ekstrim. 
Menjawabi fenomena alam tersebut, WTM dalam kerja samanya dengan Misserio dalam Program “Penguatan Kapasitas Masyarakat Tani Adaptasi Perubahan Iklim lewat Pendekatan Usaha Tani Berbasis Konservasi” (2014 – 2016) memfokuskan diri pada penyelamatan ekologi melalui sebuah model pengelolaan pertanian yang berbasis konservasi. 

POTRET KONDISI MATA AIR DI WILAYAH DAMPINGAN 
Untuk mengetahui kondisi perkembangan kondisi mata air di setiap wilayah dampingan WTM terutama di 3 Kecamatan, yakni: Magepanda, Mego dan Tanawawo dilakukan pengidentifikasian mata air di setiap wilayah desa terutama kelompok tani yang didampingi untuk mengetahui sejauhmana yang dilakukan para pihak dalam merespon kondisi tersebut. 
Dari hasil pengidentifikasian sumber mata air di ketiga kecamatan tersebut kemudian dilakukan analisa untuk mengetahui secara pasti kondisi riil dari sumber-sumber mata air yang ada. Dari analisis yang dilakukan WTM, seperti tergambar dalam grafik kondisi mata air ditemukan bahwa yang masih memiliki kondisi lingkungan hidup yang masih baik adalah wilayah Mego dan Tanawawo. Sedangkan wilayah Magepanda dinilai sudah pada tingkatan krisis ekologi. 
Namun, wilayah Magepanda diuntungkan secara geografis karena berada dikawasan hilir yang mana mendapatkan manfaat dari kondisi lingkungan di kawasan hulu, yakni: Mego dan Tanawawo. Sebab dengan data tersebut, WTM dan berbagai pihak yang berkewenangan secara pasti bisa menentukan model advokasi dan intervensi apa yang dilakukan dalam penyelamatan ekologi. Dari data yang dikumpulkan WTM dapat dilihat, bahwa ada 136 sumber mata air, dengan total luasan kawasan tangkapan air 203,75 Ha. Bila dirata-ratakan maka setiap mata air memiliki luasan 1,4 Ha. Itu berarti bahwa jumlah luasan kawasan tangkapan air masih sangat kecil dalam memberi jaminan akan pemenuhan kebutuhan air, apalagi diperparah oleh kondisi kualitas lingkungan hidupnya. 
Dengan demikian, dapat dilihat bahwa kondisi ekologi sedang mengalami penurunan kualitas yang akan berdampak pada penyediaan air. Apabila kita coba melihat kondisi riil setiap wilayah kecamatan dan desa, kita tentunya memiliki beberapa pertanyaan dasar? Apakah kondisi lingkungan dan sumber mata air masih bisa menjamin kebutuhan warga? Ataukah akan terjadi hal yang paling buruk dimana warga akan mengalami keterdesakan air yang lebih parah dari sekarang. 

KECAMATAN MAGEPANDA 
Kecamatan Magepanda adalah salah satu wilayah penghasil beras, karena memiliki dataran persawahan yang cukup luas. Kondisi ini menjadikan kecamatan Magepanda sebagai salah satu gudang beras (pangan) di kabupaten Sikka. Tidak heran bila Magepanda semestinya menjadi wilayah harus mendapatkan perhatian lebih kepada bagaimana mengelola persawahan yang ada. Dari data terlihat bahwa wilayah desa Done yang memiliki kawasan hutan (13, 25 ha), Reroroja (11,50), Magepanda (2,50 Ha) dan Kolisia (1,50 ha). Dari kacamata luasan wilayah Done lebih luas dari ketiga desa lainnya, tetapi dari data kondisi mata air yang ada, wilayah Done memiliki 6 sumber mata air yang kering dari 11 sumber mata air. Pastinya muncul pertanyaan, mengapa demikian? Sedangkan bila dilihat dari logika tentunya tidak benar. Tetapi secara analisis kami melihat dari letak geografis yang mana wilayah Done itu berada di lembah yang masih memiliki ketinggian lebih dari ketiga wilayah lainnya. Bahwa kawasan tangkapan air yang ada itu berkontribusi kepada sumber mata air yang berada di bawa seperti Magepanda dan Kolisia. Dari analisis kawasan mata air di kecamatan Magepanda, dapat dilihat dalam kacamata ekologi secara jelas tergambar bahwa daerah hulu adalah penyumbang air bagi kawasan hilir, seperti tergambar Magepanda (2,50 ha) dan Kolisia (1,50 ha) memiliki sedikit kawasan tetapi mereka memiliki ketersedian air jauh lebih baik dari wilayah Done.

KECAMATAN MEGO 
Kecamatan Mego merupakan wilayah kecamatan yang memiliki kawasan pengunungan dan pesisir. Wilayah Mego memiliki dataran persawahan yang kurang luas dibanding wilayah Magepanda. Namun dipotret dari data luasan kawasan tangkapan seluas 157, 25 ha, lebih luas dibanding dengan Tanawawo dan Magenpanda. Sedangkan dalam konteks wilayah desa, Napugera memiliki luasan (123 ha) yang lebih luas dibanding dengan wilayah desa lainnya. Yang memiliki luasan kawasan tangkapan yang kecil adalah Dobo (1 Ha) dan Korobhera (1,25 Ha). (Lih. Tabel. 3) Sedangkan, wilayah Korobhera adalah wilayah pesisir dan berada di dataran rendah dan menjadi kawasan hilir dari Kaliwajo yang tentunya mendapatkan banyak air sehingga dapat dimanfaatkan untuk mengairi persawahan. Mayoritas penduduk wilayah Dobo adalah petani lahan kering. Malah, daerah ini menjadi daerah yang setiap tahun mengalami keterbatasan air karena sangat bergantung pada sumber mata air yang teradapat di wilayah Dobo Nuapu’u. 

KECAMATAN TANAWAWO 
Kecamatan Tanawawo merupakan wilayah kecamatan yang terletak kawasan pengunungan. Kendati demikian, di wilayah ini terdapat areal persawahan yang secara sporadis, di daerah-daerah pinngir kali/suangai. Wilayah persawahannya tidak seluas wilayah Magepanda dan Mego. Bila dilihat dari data luasan kawasan tangkapan di kecamatan Tanawawo. wilayah desa Bu Selatan memiliki luasan (4 Ha) yang lebih luas dibanding dengan wilayah desa lainnya. Yang memiliki luasan kawasan tangkapan yang kecil adalah desa Poma (1 Ha). Dari data yang ada kita melihat bahwa upaya penyelamatan lingkungan hidup terutama kawasan tangkapan air masih sangat kecil. Tetapi secara umum dilihat bahwa kondisi mata air di wilayah Tanawawo masih memiliki kondisi yang baik dimana dari 42 sumber mata air yang terdata, ternyata 64,29 % masih stabil. Artinya bahwa kondisi mata airnya stabil sekalipun pada musim kemarau atau musim panas. 

KETERLIBATAN PARA PIHAK DALAM MENGHADAPI KRISIS EKOLOGI 
Jawaban atas kian buruknya kondisi lingkungan terutama kawasan tangkapan air kemudian mendorong para pihak untuk terlibat dalam penyelamatan kawasan dan pemulihan lingkungan. Untuk melihat respons tersebut, kami mencoba membuat grafik keterlibatan para pihak di wilayah Magepanda. Dari grafik yang ada, digambarkan bahwa keterlibatan lembaga-lembaga sosial (LSM) jauh lebih tinggi dibanding dengan pemerintah. Itu berarti bahwa kebijakan penyelamatan kawasan tangakapan air belum direspons secara serius oleh negara/pemerintah. Padahal itu salah satu tugas negara untuk melindungi sumber-sumber penghidupan rakyat (air). 

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
Dari telaahan beberapa data, disimpulkan bahwa upaya penyelamatan lingkungan harus terus digalakan dalam berbagai wujud kegiatan. Kesadaran ekologis mulai tumbuh kembang dalam masyarakat di 3 kecamatan ini agar proses pemulihan dan penyelamatan dilakukan itu dilakukan atas inisiatif mereka sendiri. Bukan bergantung pada pihak lain. Karena itu, advokasi penyelamatan ekologi itu harus sampai pada: • Pembagian tata ruang yang mana dialokasikan untuk kawasan tangkapan air itu dipulihkan dan dilindung; • Adanya peraturan desa yang mengatur tentang perlindungan kawasan tangkapan air dan adanya sebuah sistem pengelolaan sumber daya alam yang berpihak pada penyelamatan ekologi • Didorong keterlibatan para pemangku adat dalam upaya pemulihan dan penyelamatan lingkungan • Mendorong pertanian yang berbasis pada konservasi

Jumat, 08 Juli 2016

EMPAT PETANI DAMPINGAN WTM, BERHASIL KAWIN SILANG PADI



EMPAT PETANI DAMPINGAN WTM, BERHASIL KAWIN SILANG PADI
Rusdy MagaJun 24, 2016EconomicComments Off On EMPAT PETANI DAMPINGAN WTM, BERHASIL KAWIN SILANG PADI
Beatrix Rika, Kanis Garu dan Herjon sedang melakukan pemulian tanaman tanaman padi


Zonalinenews-Maumere, Dua pelatihan kawin silang yang diselenggarakan WTM, kerja sama dengan Miserior Jerman dalam program “Program Penguatan Kapasitas Masyarakat Tani dalam Adaptasi Perubahan Iklim lewat Pendekatan Usaha Tani Berbasis Konservasi” telah menghasilkan 4 petani peneliti yang sukses. Keempat petani diantaranya, Beatriks Rika (Lekebai), Siprianus Rehing (Bu Selatan), Yohanes Dara dan Sirilus (Parabubu). Keempat petani tersebut, memilih benih lokal sesuai dengan keinginan masing-masing. Beatriks mengawinkan pare kupa dengan ciherang. Sipri menginkan pare gorothuna dengan menge, Yohanes Dara dan Sirilus mengawinan pare laka dan bebonaja.
Menurut  Direktur Wahana Tani Mandiri (WTM) Carolus Winfridus Keupung , WTM dalam kerjasama dengan Miserior Jerman salah satu aktivitas adalah Penelitian Kawin Silang Padi (Pemulian Benih Padi). Bagi Wahana Tani Mandiri dan petani dampingannya, penelitian bukanlah hal yang baru. “ Mengapa WTM mengembangkan pertanian organik sekarang karena ini juga hasil penelitian bersama petani dampingan, pada tahun 2002. Padahal awalnya kami adalah bagian dari kimia, demikian ujar Carolus Winfridus saat ditemui di kantornya,Kamis 23  Juni 2016 pukul  10.00 Wita
Carolus Winfridus menjelaskan, WTM juga secara kelembagaan melakukan kajian pertanian untuk mengetahui secara pasti tentang sebuah tanaman. Dari pengalaman ini, saya menyimpulkan bahwa penelitian itu bukanlah hal baru, ujar mantan direktur WALHI NTT
Terkait dengan penelitian kawin silang yang sedang dilakukan petani, dan keempat petani yang sukses itu, kami berbangga. Bahwa di tengah keterpurukan iklim yang dinilai tidak bersahabat yang mana ketidakpastian musim penghujan dan curah hujan yang sangat rendah, masih ada petani yang sukses melakukan penelitian. Kami berharap pengalaman sukses ini menjadi motivasi bagi petani yang lain agar kemudian juga mencoba melakukan penelitian.
Koordinator Advokasi, Lingkungan Hidup dan Pengelolaan Hasil – WTM, Herry Naif mengatakan penelitian kawin silang demi pemulian benih sepintas dinilai gampang. Benar. Tetapi ada banyak faktor yang bisa mendukung dan menghambat penelitian mulai dari petani peneliti sendiri maupun faktor-faktor eksternal.
Sebenarnya, ada dua puluhan petani yang melakukan penelitian tetapi gagal karena para petani peneliti tidak serius dalam melakukan pemantauan dan perawatan. Tetapi bagi kami ini adalah sebuah dinamika agar membuat petani melakukan pembelajaran.
“Para petani telah mencoba mengikuti langka-langka penelitian sesuai dengan apa yang  diperoleh dalam pelatihan yang fasilitasi oleh Matian Pagang (Lembor – Manggarai Barat) dan Yuni (Masipag Filipina), “ujar Herry.
Beatriks Rika, petani peneliti pertama yang sukses kawinkan padi dan pada hasil kawin (F1)  yang disebutnya padi 3S (Sengga, Sanggo, Sedu) itu sudah ditanam di pematang sawah yang berumur 30 hari. “Awalnya padi itu daunnya kuning. saya begitu kuatir bila padi itu mati. Tetapi ternyata seminggu kemudian setelah perpindahannya ke sawah, mulai menampakan daun hijau dan padi itu sudah 20 cm tingginya. Bentuk daunya melengkung, panjang dan lancip. Jumlah anakan baru 1, ujar beatriks saat ditemui di rumah kediamannya di Lekebai, desa Bhera, Kecamatan Mego.
Lanjut  Beatriks , sampai saat ini dirinya masih mengikuti perkembangannya untuk mengetahui apakah dia mengikuti sifat pada yang mana? Apakah jantan (kupa) atau ciherang (betina). “ Kemudian saya mau tau sifat baru apa saja yang akan muncul dari hasil kawin tersebut, sehingga saya harus serius mengikutinya, ujar kader Tani WTM yang mendampingi 3 kelompok tani di desa Bhera,”ujar Betrriks.(*Angga)
Sumber: http://www.zonalinenews.com/2016/06/empat-petani-dampingan-wtm-berhasil-kawin-silang-padi/

<marquee>WTM LAKUKAN VAKSIN AYAM DI 3 KELOMPOK TANI DI EGON GAHAR</marquee>

Ansel Gogu (Kader Tani WTM) sedang Vaksin ayam anggota Kel. Tani Egon Gahar, KN , Dalam rangka mendorong sebuah pola budi daya ternak t...