Tampilkan postingan dengan label Pengelolaan Hasil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengelolaan Hasil. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Desember 2016

PENGOLAHAN HASIL KOPI DAN KIBI OLEH KELOMPOK NUAHEU PEGA

PENGOLAHAN HASIL KOPI DAN KIBI OLEH KELOMPOK NUAHEU PEGA

Nuaheu, KN. Kibi adalah sebuah makanan lokal orang Lio. Kibi dibuat dari beras merah yang digoreng dan ditumbuk. Namun pada perkembangan sekarang, kibi hampir tidak diproduksi lagi, karena masuknya produksi cemilan dari luar yang jauh lebih menarik.

Untuk itu, dalam program peningkatan pendapatan petani dengan pengelolaan hasil dengan memanfaatkan potensi lokal maka kelompok Nuaheu Pega, memilih kibi sebagai makanan lokal yang diproduksi. Kegiatan pengolahan hasil kibi dilaksanakan pada hari Jumat, 11 November 2016 di Nuaheu, Desa Bu Selatan, Kecamatan Tanawawo.

Kegiatan pengolahan kibi semua anggota hadir dan berperan aktif dalam proses pengolahan kibi. Sebelumnya disepakati, bahwa setiap anggota kelompok membawa padi lokal varietas pare ae yang akan diolah/ditumbuk menjadi kibi. Tujuan kelompok mengolah kibi yakni untuk mengangkat kembali potensi lokal yang pernah ada di wilayah Lio. Kini kibi sebagai makan lokal Lio hampir punah.

Pada kesempatan itu, kibi yang diolah oleh kelompok Nuaheu Pega mencapai 15 Kg dan langsung di-packing dalam plastik yang sudah disiapkan, kemudian diberi logo “Kibi Keli”. Kegiatan dihadiri oleh fasilitator lapangan Martinus Maju bersama Koordinator Pertanian, Alexander Bambang. Dalam acara seremonial pembukaan kegiatan, Alex Bamabang (Koordinator Advokasi Pertanian) mengatakan bahwa pengolahan hasil kibi bukan sekedar praktek tetapi harus dikembangkan secara rutin. Mengingat bahwa di pasaran, Kibi akan dikenal banyak orang sehingga kelompok harus memiliki perencanaan yang baik untuk mengolah kibi. Di samping itu harus diperhatikan juga kualitas mutu, packing yang baik sehingga akan lebih mudah saat pemasaran, tukas Alex.

Sedangkan menurut Siiprianus Rehing, Kader tani Bu Selatan mengatakan bahwa selain kibi yang diolah, kelompok Nuaheu juga mengolah kopi yang diberi nama “Kopi Lio”. Hal ini dilakukan karena potensi kopi di wilayah Bu Selatan cukup banyak. Oleh karena itu, kelompok mengolah kopi untuk mengangkat/mempromosikan ke semua wilayah di Kabupaten Sikka, tukas Sipri. Pada hari yang sama juga kelompok membawa biji kopi mereka untuk digoreng, ditumbuk dan dibungkus dan siap dipasarkan. (Tim KN)

Senin, 21 November 2016

KRIPIK PISANG JADI SNACK ORGANIK YANG DITAWARKAN

Pengolahan pisang menjadi kripik pisang menjadi sebuah model pengelolaan yang dipilih oleh beberapa kelompok yang didampingi oleh Beatriks Rika.

Kegiatan pengolahan hasil yang telah lama diinisiasi oleh kelompok Usaha Baru, dapat dijalankan pada Minggu, 20 November 2016. Kegiatan pengolahan hasil ini difasilitasi oleh Ernsita Dua Sina dihadiri oleh kelompok Lowo Lo’o, Moretambombe, sawa kamuroja. Kegiatan ini dibuka oleh Mus Mulyadi (fasilitator Lapangan Wilayah Mego). Selain itu juga kegiatan ini dihadiri oleh Herry Naif (Koordinator Advokasi, Pengolahan Hasil, dan Lingkungan Hidup) dan Dedy Alexander (Koordinator Pertanian), Wahana Tani Mandiri.

Pada pembukaan acara, Beatriks (Kader Tani Desa Bhera) menandaskan bahwa pada prinsipnya kegiatan ini dilakukan karena dari hasil analisa usaha tani yang dilakukan oleh kelompok temukan bahwa penjualan yang serampangan itu lebih menguntungkan para pemodal. Kedua, pengolahan pisang ini juga mau menunjukkan upaya membudidayakan pangan lokal sebagai snack pada keluarga dan terutama anak-anak, jangan hanya berharap snack dari luar yang tentunya sudah dikasih zat pengawet. Malah sering warga tidak melihat masa kadaluarsanya.

Lebih lanjut, Perempuan yang baru mendapat penganugarahan sebagai Pemenang Perempuan Pejuang Pangan, 2016 oleh Oxfam di jakarta, 15 Oktober lalu mengatakan bahwa, pengolahan pisang ini akan dapat meningkatkan pendapatan keluarga diawali dengan peningkatan ketrampilan pengolahan. Kedua, Pengolahan pisang secara bersama-sama ini akan memupuk rasa persaudaraan diantara kelompok. Lebih dari itu, kegiatan ini dilakukan sebagai bentuk arisan kelompok pada setiap minggu di kelompok tani oleh para ibu-ibu.

Pada acara penutupan kegiatan, Alexander mengharapkan bahwa kegiatan seperti ini tidak hanya dilakukan sesaat, atau sekedar ramai-ramai tetapi ini harus menjadi salah satu aktifitas industri rumah tangga (home industry) yang diyakini akan memperbaiki kualitas hidup petani dari waktu ke waktu. Bila tidak, kita hanya dinilai sekedar melakukan untuk diketahui publik, tukas putra Medan yang sudah menjadi warga Woloboa.

Jumat, 18 November 2016

PEMDES REROROJA: BANTU FASILITAS PRODUKSI PISANG BAGI KELOMPOK SE’ATE

Maumere, KN. Pemberdayaan masyarakat tani dalam mencapai sebuah penghidupan layak adalah tugas yang harus dijamin negara. Selama beberapa periode pemerintahan bangsa ini, petani seolah menjadi anak tiri dalam berbagai pembangunan. Bahkan petani hanyalah sebagai objek pembangunan. Sejak runtuhnya rezim orde baru, paradigma pembangunan mulai diubah, yang mana beroritentasi pada pemenuhan Hak Asasi Manusia (HAM) dengan ditetapkannya Undang-Undang No. 11 Tahun 1999 tentang HAM. Selain itu, partisipasi rakyat dalam pembangunan menjadi sebuah tuntutan yang harus dipenuhi dalam sebuah proses pembangunan dan malah dalam proses pembuatan undang-undang, seperti yang diatur dalam Undang-Undang No. 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan.

Tidak heran, abal-abalan dalam musrenbangdus sampai pada Musrenbang sudah dinilainya menjadi sesuatu yang kaduluarsa. Partisipasi rakyat dalam pembangunan mendapat prioritas. Bila sampai ada fakta yang demikian itu adalah kekecualian.

Sejak ditetapkannya Undang-Undang No. 6 Tahun 2014 tentang Desa, pemerintah desa dituntut untuk melakukan Pemberdayaan Masyarakat Desa sebagai upaya mengembangkan kemandirian dan kesejahteraan masyarakat dengan meningkatkan pengetahuan, sikap, keterampilan, perilaku, kemampuan, kesadaran, serta memanfaatkan sumber daya melalui penetapan kebijakan, program, kegiatan, dan pendampingan yang sesuai dengan esensi masalah dan prioritas kebutuhan masyarakat Desa. Itu berarti bahwa pemberdayaan menjadi skala prioritas.

Menurut Kepala Desa Rero Roja, Bernadus Benhar Kelan bahwa berdasar pada Undang-Undang tersebut, Pemerintah Desa Rero Roja mendorong berbagai upaya pemberdayaan yang dilakukan warganya, apalagi itu sudah lebih dulu dilakukan atas insiasi mereka.

Beberapa bulan ini kami melihat bahwa kelompok tani Se’ate, kelompok tani perempuan yang sudah berinisiatif melakukan produksi pisang menjadi kripik pisang yang dinamai “Kripok” perlu mendapat stimulan dari pemerintah berupa bantuan 1 paket peralatan yang mendukung produksi mereka. Penyerahan bantuan berupa : 1 moll pisang, pisau, saringan 1 paket pembuatan kripik. Kita tidak bantu dari nol. Kelompok Seate, Koro, 10 Oktober 2016, ujar Benhar.

Penyerahan peralatan ini oleh Kepala desa (Bernadus Benhard Kelan) kepada Afriana (Ketua Kelompok tani Seate). Acara penyerahan ini dihadiri BPD Reroroja, Kasie Kesos (Fransiska Nurak) selaku pelaksan kegiatan. Bendahara desa (Yulius Sawa), Kasie Trantib (Yuliana Tambo). Turut hadir dalam penyerahan itu, fasilitator lapangan (Maria marta Muda), dan semua anggota kelompok.

Pada acara penyerahan itu, Benhar mengaku melihat langsung bagaimana kelompok ini melakukan produksi pisang secara manual. Kalau pake manual, pasti lama. Karena itu, saya yang mengajak mereka untuk bekerja sama dalam pembagian prosentasi hasil. Lebih dari itu juga tujuannya adalah mendorong usaha rakyat, agar meningkatkan pendapatan. Mungkin selama ini, hanya kebutuhan anggota tetapi kita dorong untuk berkembang lebih besar, ujarnya.

Selain itu, Benhard menegaskan bahwa ke depannya, pembangunan fisik harus dikurangi tetapi lebih mengutamakan pemberdayaan pemberdayaan sumber daya manusia. Selama ini, kita memikirkan untuk bagaimana agar kemudian rakyat bisa maju dan kemudian membantu mengembangakan secara fisik, ujar alumni SMA Negeri 2 Maumere.

Afriana (ketua kelompok tani Se’ate) secara terpisah mengaku bangga karena mendapat perhatian dari pemerintah desa, namun ini sekalian menjadi wujud tanggung jawab agar kami secara maksimal mendorong kemandirian petani. Bahwa ada begitu banyak aktifitas yang dilakukan dalam kelompok kami terutama mendorong pertanian organik dan berbagai kegiatan lainnya. (Tim KN)

Jumat, 22 April 2016

TIGA KELOMPOK TANI DAMPINGAN WTM PRODUK KRIDO

Program: "Peningkatan kapasitas Masyarakt Tani dalam Adaptasi Perubahan Iklim lewat Pendekatan Usaha Tani Berbasis Konservasi" kerja sama Wahana Tani Mandiri (WTM) dengan Miserior Jerman, dikemas dalam berbagai aktifitas yang dilakukan. Salah satu aktifitas adalah Pengelaan Hasil Kebun. Pisang yang adalah salah satu hasil kebun itu dilihat sebagai potensi yang perlu dikelola. 
Kegiatan pengolahan hasil kebun (Pisang) menjadi Kripik ini dibuka oleh Rosa Munda Rona (Kepala desa Done),  Kecamatan Mego. Kegiatan ini dihadiri oleh anggota utusan dari tiga kelompok tani dampingan WTM yakni: Kelompok Tani Bogo sama II, Tedu Tembu dan Wa Mesu.
Kegiatan yang berlangsung sehari hari ini difasilitasi oleh Ernsetina (Petani Masipag – Filipina,  Elisabet (Konsultan People Led Development Miserior Jerman), Kristof (Satu Nama) didampingi Herry Naif (Koordinator Advokasi, Riset, Lingkungan dan Pengelolaan Hasil).

Herry Naif (Koordinator Advokasi, Riset, Lingkungan dan Pengelolaan Hasil) dalam sambutan pembukaannya mengucapkan   Lanjut Herry, kegiatan ini juga merupakan kesempatan untuk menaikan barganing potition petani yang selama ini hanya menjadi penanam tetapi tidak menjadi peneliti. WTM bersama petani melakukan Kaji Banding dan Uji terap yang pelakunya juga adalah para kader tani. Kami melihat bahwa saatnya petani harus didorong untuk merebut kembali kedaulatan benih yang lama hilang, Ujarnya.

Sedangkan Ernestina Dua Sina (Staf WTM) menjelaskan bahwa pisang merupakan jenis buah yang bisa ditemui dengan mudah hampir di seluruh pelosok tanah air di Indonesia. Buah pisang bukan saja enak dimakan, tapi juga kaya akan gizinya. Selain itu rasa nya pun manis. Buah pisang memiliki berbagai macam jenis, selain bisa langsung dimakan juga bisa diolah dalam bentuk keripik pisang. Cara membuat keripik pisang pun sangatlah mudah. 

Namun untuk membuat keripik pisang yang enak dan dijual ke pasaran, dibutuhkan pisang yang berkualitas dan cara pengemasan pun yang berbeda sehingga keripik pisang masih tetap terasa enak meski disimpan dalam jangka waktu yang lama. Bukan hanya itu saja, keripik pisang juga merupakan cemilan keluarga dengan harga terjangkau, sehingga bisa dinikmati baik di kalangan anak anak maupun di kalangan orang dewasa.

Getrudis Dari (Staf Keuangan WTM) sebelum kegiatan, ia mencoba membuat analisis ekonomi terhadap pengolahan hasil. Getrus melhat bahwa seorang petani yang memiliki keterampilan yang baik, tidak akan menjual pisang di pasar dengan harga yang murah baik di jual dalam 1 sisir atau pun 1 tandan yang hanya mendapatkan hasil Rp 10.000,.per sisir atau Rp 50.000, per tandan. Petani yang memiliki keterampilan, akan mengolah kembali pisang yang ada dengan membuatnya menjadi keripik pisang. 
Ada pun cara membuat dan menjual ke pasar dengan keuntungan yang lebih besar adalah sebagai berikut : 
Perhitungan laba-rugi untuk per hari, per minggu, per bulan adalah sbb :

Modal :
Untuk 1 tandan pisang/hari, misalkan
Pisang 1 tandan = Rp 10.000 x 10 sisir = Rp 100.000,.
Bumbu : Rp 30.000,.
Minyak goreng 1 jirigen : Rp 70.000,.
Transportasi : Rp 50.000,.
Pengepakan : Rp 50.000.
Tenaga kerja : 10 orang x Rp 25.000,. = Rp 250.000,.
Keperluan lainnya : Rp 50.000,.
Total : Rp 600.000,.

Misalkan harga jual keripik pisang : Rp 30.000,./kg
Jika dalam sehari menjual 25 kilo maka hasil penjualan yang didapat adalah Rp 750.000,.
Maka keuntungan yang diperoleh dalam 1 hari dengan menjual 25 kilo adalah sebesar : Rp 750.000 – Rp 600.000,. = Rp 150.000,.

Kesimpulannya adalah :
Modal per hari : Rp 600.000,.
Modal per minggu : Rp 600.000 x 7 hari = Rp 4.200.000,.
Modal per bulan : Rp 4.200.000 x 4 minggu = Rp 16.800.000,.
Laba per hari : Rp 150.000
Laba per minggu : Rp 150.000 x 7 hari = Rp 1.050.000,.
Laba per bulan : Rp 1.050.000 x 4 minggu = Rp 4.200.000,.








Jumat, 18 Maret 2016

PRAKTEK PEMBUATAN KRIPIK PISANG DI DUSUN KORO

Pencampuran Pisang ke dalam air yang sudah diberi kapur
Kabupaten Sikka menjadi salah daerah yang cukup banyak ditumbuhi pisang. Hampir setiap minggu, berbagai pisang dari wilayah ini dibawa keluar daerah, melalui jalan darat. Tanpa capai menunggu, petani mendapatkan uang. Kondisi membuat petani Sikka sering secara langsung menjual pisang yang diambil dari kebunnya.

Melihat fakta ini, Wahana Tani Mandiri (WTM) dalam membuat analisa usaha tani terutama mencoba menganalisis dalam konteks pemasukan yang diterimanya secara langsung dengan mengelola pisang menjadi setengah jadi, hasilnya justru jauh berbeda. Bahwa, bila petani dengan kapasitas yang memadai dan mengelola pisang dalam berbagai produk tentunya akan mendatangkan pendapatan yang lebih besar.

Berasas pada analisa sederhana WTM bersama para petani dampingan, WTM dalam program Peningkatan Kapasitas Masyarakat Tani dalam Adaptasi Perubahan Iklim lewat Pendekatan Usaha Tani Berbasis Konservasi, kerja sama dengan Miserior - Jerman mendorong petani agar menjadikan pisang sebagai salah satu pendapatan alternatif petani.

Untuk itu, beberapa petani di Koro yang tergabung dalam kelompok Seate, menjadikan pisang sebagai salah potensi yang bisa dikelola. Ernesta Dua Sina (staf WTM) yang memiliki kapasitas dalam pengelolaan pisang terutama dalam membuat kripik memfasilitasi para ibu-ibu kelompok tani seate untuk melakukan praktek pembuatan kripik pisang. Kegiatan ini disaksikan oleh Bernard Kelan (kepala Desa Rero Roja) dan Frans Toki (anggota BPD Rero Roja) serta Herry Naif (Koordinator Advokasi, Riset Lingkungan Hidup dan Pengelolaan Hasil WTM), pada Jumat, 18 Maret 2016.

Di sela-sela praktek itu, Kepala Desa Rero Roja  menyatakan bahwa sebagai pemimpin di wilayah ini sangat mendukung kegiatan-kegiatan pemberdayaan seperti ini. Kami dari pemerintah desa siap membantu petani untuk mengembangkannya, yang penting bahwa kegiatan ini tidak sekedar terjadi hari ini. Bahwa kegiatan seperti ini harus terus berlanjut dan kami pemerintah desa akan mengikutinya dan bila serius dilakukan kami siap mendukung petani, ujarnya.

Sedangkan, Ernesta Dua Sina menyatakan bahwa masih banyak ketrampilan yang bisa dipraktekan. Hari ini kami coba fokus mengembangkan ini sebagai langka awal dalam mendorong pisang sebagai salah potensi masyarakat desa Rero Roja terutama di dusun Koro, kata ibu tiga anak ini.

Lebih lanjut, Ernest menekankan bahwa praktek seperti ini akan kita dorong sampai pada pengemasan. Malah ia, mengajak mereka untuk memberi nama pada kripik pisang yang akan dihasilkan di koro. Dari diskusi disepakati Kripkor (Kripik Pisang Koro).

Sedangkan Herry Naif, menyatakan bahwa WTM sedang menjadi turis lokal yang mana selain mendorong usaha tani terpadu juga bertanggung jawab dalam mengelola hasil kebun. Kita bukan hanya penjaga kebunnya orang, tetapi hasil yang ada harus diproduksi menjadi produk yang dipasarkan dengan harga yang lebih tinggi. Kalau pisang dijual langsung dengan harga yang murah, artinya tidak sadar kita sedang menjadi penjaga kebunnya orang. Sederhana saja kawan memilhat, orang yang tidak punya pohon pisang, tetapi dia membeli dan membuat pisang molen, kue pisang atau kripik dan lain-lain, kehidupan mereka jauh lebih baik dari kita yang bangga punya banyak rumpun pisang, ujarnya.

Saatnya, petani perlu menyadari ini sebagai sebuah kesadaran baru yang perlu melahirkan inisiatif-inisiatif lokal dalam upaya memperbaiki kualitas hidup. Selain itu, ajaknya untuk memulihkan lingkungan di koro yang mungkin sedang dalam kondisi kritis, mumpung sedang hujan. Mari kita menanam pohon-pohon yang mendatangkan air seperti sule, gaja, lele, bambu dan pohon-pohon lain yang dapat menghasilkan air, ajaknya. 

Seusai praktek dan diskusi bersama, Afriana (ketua) mengucapkan terima kasih kepada para semua pihak yang selalu mendorong kelompoknya untuk terus maju. Menurutnya, kami mendengar dan menerima motifasi dari semua pihak agar kami lebih bersemangat dalam berorganisasi dan mengembangkan apa yang kami punya.








Kamis, 17 Maret 2016

APBDes Harus Akomodir Petani

Maumere, PK - Kelompok tani Tuke Laka melakukan pengelolaan hasil minyak kelapa, sebagai salah satu alternatif pendapatan rakyat. 

Kegiatan itu dilakukan oleh anggota dihadiri Aleks Bambang (Fasilitator Lapangan WTM) dan Herry Naif (Koordinator Advokasi, Riset, Lingkungan Hidup dan Pengelolaan Hasil WTM) di Magetake, Desa Korobhera, Kecamatan Mego, Minggu, (13/03/2016)

Dominikus Nira, Ketua Kelompok Tani Tuke Laka kepada wartawan di Magetake menceritakan kalau kelompok taninya didirikan sejak tahun 2005. Sejak berdirinya kelompok ini bergabung dengan WTM karena itu semua pola pertanian yang dilakukan petani adalah pertanian organik.

Ia mengatakan, pada awalnya kelompok ini beranggotakan 16 orang, dalam perjalanan ada 4 orang yang mundur. Karena itu hingga kini anggotanya 12 orang, diantaranya 6 laki-laki dan 6 perempuan.

"Kami tidak membutuhkan jumlah anggota yang besar tetapi keseriusan menjalankan apa yang menjadi komitmen bersama. Sekarang dana kelompok kami sudah 4 jutaan lebih, hasil dari iuran anggota, kata Nira.

Ia menjelaskan, kegiatan pelatihan pengolahan minyak kelapa  yang dilakukan  sungguh bermanfaat bagi anggota kelompok. Pasalnya, banyak kelapa yang bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan ekonom keluarga. Selain itu, memenuhi kebutuhan minyak dari anggota untuk perlahan meminimalisir penggunaan minyak dari luar daerah dan lebih diutamakan adalah membangun solidaritas bersama dalam kelompok.

Kegiatan ini juga dilakukan sebagai praktek lapangan yang pernah dilakukan oleh WTM dihadiri oleh kader tani dan beberapa petani dari desa itu. Kami mau mempraktekan ilmu yang sudah kami dapat melalui kunjungan silang di Nanghure, kelurahan Wuring yang mengola minyak kelapa murni," ujar Nira.

Herry Naif, mengapreseasi semangat dan solidaritas kelompok yang sedang dikembangkan.

Menurutnya, apa pun aktifitasnya, solidaritas diantara anggota menjadi modal dalam upaya memperbaiki kualitas hidup. Tanpa semangat ini maka semua akan luntur dan terbuai dalam pergeseran semangat individualisme yang kian hari menggeser semangat kolektifitas masyarakat.

Lebih dari itu, WTM secara kelembagaan ingin mendorong petani dampingannya agar memanfaatkan potensi wilayahnya menjadi sumber daya yang bisa dimanfaatkan. Malah kapasitas petani selain bidang pertanian organik, petani harus ditingkatkan kapasitasnya agar lebih maju dalam berbagai hal. Tak terlupakan adalah advokasi kepada pemerintah desa agar kempentingan petani diakomodir dalam Anggaran Pendapatan Belanja Desa (APBDes). Sekarang ada peluang yang bisa dimanfaatkan warga di tingkat desa. Ini hanya bisa dilakukan bila petani punya semangat dan tekad yang sama (ris).

Sumber: Pos Kupang, Kamis, 17 Maret 2016, Hal. 11

Kamis, 21 Januari 2016

KEMENTAN JANGAN HANYA UTAMAKAN KEPENTINGAN RAKYAT JAKARTA, HARUS NAIKAN HARGA SAPI DI NTT


Berita “Kementan Pangkas Rantai Distribusi Sapi NTT”, yang hampir dipublikasi media lokal di NTT  tentang Kementrian Pertanian telah memangkas sejumlah rantai distribusi sapi yang dibawa dari Nusa Tenggara Timur menuju DKI Jakarta. Bahwa Rantai distribusi yang panjang membuat harga daging sapi menjadi mahal.

Menanggapi berita ini,  Carolus  Winfridus Keupung Direktur Wahana Tani Mandiri menilai bahwa pertama-tama kami mengapreseasi kebijakan Kementrian Pertanian yang mana mulai memperhatikan kebutuhan riil masyarakat Indonesia, ujarnya.
Namun ada beberapa hal yang ini kami garis bawahi, diantaranya: pertama, Kementerian Pertanian dengan kebijakan pangkas rantai distribusi sapi NTT terkesan hanya melindungi para konsumen di Jakarta, tetapi tidak memberi perlindungan dan peningkatan kualitas hidup petani/peternak NTT. Padahal Kementrian Pertanian seharusnya menelurkan sebuah kebijakan dimana peternak NTT juga harus mendapatkan impak dari kebijakan tersebut. Bukan hanya sekedar mengantarpulaukan sapi atau membuka pasaran tetapi bagaimana dengan perlindungan bagi petani/peternak, demikian ujar mantan Direktur WALHI NTT
Lebih dari itu, aktifis yang sudah melanglang buana ini juga melihat bahwa Kementerian Pertanian belum memiliki kebijakan agar bagaimana menambah populasi sapi di NTT, karena bila hanya diutamakan adalah pendistribusian lalu bagaimana dengan proses produksi sapi di NTT agar berkelanjutan dalam jangka waktu yang panjang. Kuatinya bila ini tidak diperhatikan, hanya sekali kirim setelah itu tidak ada yang dikirim lagi. Padahal kita mau agar sapi dijadikan sebagai salah pendongkrak ekonomi di NTT ketika kekeringan panjang yang sedang dialami warga.

Jumat, 15 Januari 2016

PROFIL WAHANA TANI MANDIRI

LATAR BELAKANG
Manusia sebagai makluk sosial tentunya memiliki kepedulian terhadap sesama manusia yang lain. Bentuk kepedulian itu diekspresikan dengan berbagai cara, tergantung dari cara pandang, potensi sumber daya, isu dan lain sebagainya.
Demikian pula WTM yang dibentuk atas inisiatif beberapa orang dan ada unsur sukarela merupakan suatu organisasi yang bergerak di bidang sosial (non profit) dihadirkan untuk hidup dan berkarya bersama­-sama sebagai bagian integral dari proses pembangunan manusia seutuhnya.
Sebagai lembaga sosial yang mempunyai pengalaman dalam pembangunan pertanian yang bertumpu pada masyarakat, maka WTM senantiasa memperhatikan partisipasi masyarakat mulai dari perencanaan, pelaksanaan kegiatan serta monitoring dan evaluasi. Prinsip kerja seperti ini didasarkan pada cara pandang lembaga yang selalu melihat bahwa masyarakat bukanlah "Botol Kosong" yang perlu diisi, namun sebetulnya mereka mempunyai potensi yang perlu didorong dan diberi peluang untuk dapat berkembang.
Pembangunan nasional bertujuan membangun manusia seutuhnya dalam konteks lahir dan batin; menyadari berbagai keterbatasan WTM dalam mengembangkan program bersama masyarakat menuju kepada kemandirian baik individu maupun institusional, WTM selalu mengembangkan Net Working dan kemitraan baik dengan pemerintah maupun lembaga seprofesi sehingga lebih mengukuhkan semboyan sederhana tersebut di atas yakni "Manusia Hidup untuk Memanusiakan Manusia Lain". Dengan filosofi dalam pengembangan kegiatan bersama masyarakat: Datanglah kepada rakyat, tinggalah bersama mereka dan mulailah dari apa yang mereka punya.

VISI
"MASYARAKAT TANI YANG MANDIRI"

MISI
Misi adalah: Mengembangkan pola pikir, sikap mandiri, dan kemampuan masyarakat tani untuk memperbaiki taraf hidup dengan memperhatikan kelestarian lingkungan.
STRATEGI 
  1. Menumbuh-kembangkan kelompok swadaya masyarakat 
  2. Mengembangkan pendidikan formal dan non formal
  3. Mengembangkan program yang berspektif gender 
  4. Mengembangkan sistem pertanian berkelanjutan 
  5. Advokasi masalah-masalah sosial 
TUJUAN
  1. Mengembangkan pola pikir sikap, kemandirian dan kemampuan masyarakat tani untuk memperbaiki taraf hidup dengan memperhatikan kelestarian lingkungan
  2. Berpartisipasi bersama masyarakat dan pemerintah dalam mensukseskan pembangunan sebagaimana yang dicita-citakan untuk kemakmuran bangsa dan masyarakat
  3. Berpartisipasi bersama masyarakat desa agar lebih mengetahui keberadaan lingkungan serta potensi yang dimiliki untuk dapat dimanfaatkan secara maksimal bagi kesejahteraan.
  BIDANG KEGIATAN
  1. Pengembangan pertanian 
  2. Pengembangan permodalan 
  3. Pengembangan sumber daya manusia
  4. Pengembangan kesehatan masyarakat
  5. Pengembangan Lingkungan dan kebencanaan
  6. Pengembangan ekonomi
  7. Advokasi hak-hak masyarakat dan kebijakan
KERJA SAMA YANG PERNAH DIBANGUN
Beberapa lembaga yang pernah bekerja sama dengan WTM antara lain :

FADO-NGO Belgia
Kerja sama: dukungan dana untuk program pengembangan pertanian lahan kering di dataran tinggi. Program ini disepakati berjalan selama 5 tahun, mulai tahun 1995 s/d 2000 dan kemudian diperpanjang sampai dengan tahun 2003. Sampai dengan tahun 1999 program ini melibatkan 1.410 anggota yang tergabung dalam 121 kelompok di 11 desa dalam wilayah Kecamatan Paga yakni: Desa Bu Utara, Desa Bu Selatan, Desa Detubinga, Desa Bu Watuweti, Desa Renggarasi, Desa Tuwa, Desa Loke, Desa Masabewa, Desa Lenandareta, Desa Liakutu dan Desa Parabubu.
Selain dana, dukungan lain yang diberikan oleh FADO adalah penguatan kelembagaan (Penguatan Institusi) yang diimplementasikan dalam bentuk refleksi program, latihan, lokakarya, seminar, dan pendampingan kepada lembaga secara rutin baik melalui PO maupun konsultan yang ditempatkan secara khusus dalam membantu memonitoring dan evaluasi program kerja sama FADO-WTM.
Kerja sama WTM-FADO, ada 5 bidang kegiatan yakni : Konservasi tanah, Tanaman umur panjang (TUP), Ternak kambing, Tanaman semusim, Penguatan institusi petani yakni kelompok tani dan gabungan kelompok tani (Gapoktan)


ROTARACH: 
Pengembangan air minum di Desa Renggarasi dan Loke Kecamatan Tanawawo pada tahun 1997

ICRAF: 
Uji coba pengembangan kehutanan pada tahun 2003

PEMDA Sikka: 
Program pengembangan RPJMDes di 8 kecamatan di Kab. Sikka Tahun 2003

NAKERTRANS NTT:
Program peningkatan kualitas tenaga kerja pertanian pada tahun 2007-2008. Kegiatan ini berupa pelatihan teknis pertanian.

PLAN INTERNATIONAL
Bentuk kerja sama adalah dukungan dana untuk program Pertanian Berkelanjutan lewat pengembangan usaha tani terpadu. Program kerja sama ini dimulai tahun 2005 s/d 2006. Program ini melibatkan 74 kelornpok tani di 11 desa dalam wilayah Kecamatan Paga dan Mego yakni: Desa Masebewa, Desa Renggarasi, Desa Tuwa, Desa Loke, Desa Poma, Desa Bhera, Desa Wolodhesa, Desa Kowi, Desa Desa Parabubu, Desa Liakutu, Desa Desa Gera. Dalam program kerja sama WTM-PLA.N, sesuai MOU (Memorandum of Understanding) dikembangkan kegiatan sebagai berikut: Konservasi tanah, Pengembangan tanaman umur panjang; (TUP), Pendampingan usaha tani, Penguatan organisasi, Pelatihan teknis

OXFAM GB
Tahun 2009 – 2011
Kerjasama OXFAM, YPPS dengan WTM di 5 Desa di Kab. Sikka yaitu 4 Desa di Kec. Mapitara (Desa Hale, Desa Hebing, Desa Natakoli, dan Desa Egon Gahar), 1 Desa di Kec, Doreng (Desa Nenbura) . dalam Program Building Resilence (peningkatan kapasitas Masyarakat dan Pemerintah Daerah Kabupaten Sikka dalam mengurangi resiko bencana). Dalam kegiatan ini selain mendampingi 5 desa tersebut, WTM juga membangun komunikasi dengan dinas-dinas terkait di kabupaten seperti Badan Penanggulangan Bencana Daerah, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (PPO) dan Dinas Sosial dan Tenaga Kerja (Dinsos Nakertrans), Dinas Pekerjaan Umum (PU), Dinas Pertanian, Dinas Kesehatan, Badan Lingkungan Hidup dan lain-lain.

Tahun 2011 s/d 2012
Kerja sama dengan Oxfam untuk Pengurangan Resiko Bencana pada 2 sekolah yaitu MIS Wuring di Kecamatan Alok Barat dan SDK Maumere 2 di Kec. Alok

WALHI NTT/DOMPET DUAFA
Para petani dari Mapitara sedang mengikuti praktek pembuatan pupuk organik
Kerja sama program “TAK RELA MEREKA LAPAR” di 5 Desa di Kab. Sikka yaitu 4 Desa di Kec. Mapitara (Desa Hale, Desa Hebing, Desa Natakoli, dan Desa Egon Gahar), 1 Desa di Kec, Doreng (Desa Nenbura) Tahun 2011 – 2012. Fokus program pada pengembangan kedaulatan pangan 



MISEREOR JERMAN
Tahun 1999 s/d 2001
Bentuk kerja sarna adalah dukungan dana untuk program pengembangan usaha tani terpadu yang berjalan selama 3 tahun, melibatkan 941 anggota yang tergabung dalam 84 kelompok tani di 9 desa dalam wilayah Kecamatan Paga yakni : Desa Paga, Desa Mbengu, Desa Wolowiro, Desa Korobhera, Desa Bhera, Desa Wolodhesa, Desa Dobo, Desa Gera dan Desa Mauloo.
Dalam program kerja sama WTM-Misereor, sesuai MOU (Memorandum of Understanding) dikembangkan kegiatan sebagai berikut: Konservasi tanah, Pengembangan tanaman umur panjang berupa tanaman Kakao dan Kopi, Pengembangan ternak sapi, Pengembangan Usaha Bersama Simpan-Pinjam (UBSP)
Selain itu Misereor memberikan dukungan dana untuk pembangunan Pusat Sekolah Lapangan (PUSKOLAP) yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas akomodasi, dokumentasi, dan media elektronik. Dalam pelaksanaan kegiatan dari program kerja sama WTM-FADO maupun WTM-Misereor selalu diperhatikan pengintegrasian gender dalam program dan pengembangan sistem pertanian berkelanjutan.

Tahun 2014 –2015
Kelompok Suri puding, Dobo Nuapu sedang memproduksi minyak kelapa
Bentuk kerja sama yaitu program Peningkatan Kapasitas masyarakat tani dalam adaptasi perubahan iklim lewat pendekatan usaha Tani Berbasis Konservasi.
Program ini dilaksanakan di 19 desa pada 3 (tiga) kecamatan yakni Kecamatan Mego, Kecamatan Tanawawo dan Kecamatan Magepanda dengan melibatkan 95 kelompok tani dengan anggota 1.226 petani.
Kegiatan yang dikembangkan yaitu:
Pengembangan Pertanian (tanaman pangan lokal, ternak ayam dan kambing dan perkebunan berupa pengembangan tanaman Kakao), Konservasi Penelitian terapan usaha tani dan lingkungan oleh petani dan Penelitian ekologi pedesaan diseluruh Flores. Penulisan dan penerbitan buku Membangun Kemandirian Petani. Berupa strategi dan metodologi pendampingan petani yang merupakan hasil pengalaman WTM dalam mendampingi petani

MASIPAG
Kerjasama untuk memperkuat konsep People Leed Development yang dikembangkan oleh WTM.

ADVOKASI 
Beberapa kegiatan advokasi yang inklud dalam program tersebut di atas yaitu :
  1. Pengarusutamaan gender: Sejak tahun 1996 WTM melakukan berbagai kegiatan program dengan mempertimbangkan kesetaraan peran antara laki-laki dan perempuan. Berbagai kegiatan mengedepankan persamaan hak dan kewajiban baik di tingkat lembaga maupun komunitas. Berbagai kegiatan yang dikembangkan telah memberi pengaruh yang positif pada berbagai tingkatan/level komunitas dalam pengambilan keputusan.
  2. Pengembangan konservasi lahan di wilayah Kecamatan Paga, Mego dan Tanawawo. Areal lahan yang kosong dan tidak ada tanaman penutup. Pembakaran lading dan hutan terjadi dimana-mana. WTM melakukan kampanye konservasi setiap tahun di seluruh kampong yang ada di 3 kecamataqn tersebut antara tahun 1995 – 2000. Kegiatan ini diselaraskan dengan kebijakan adat setempant dan pemerintah desa
  3. Advokasi kebijakan tambang emas di Kecamatan Paga dan Kecamatan Mego. 
  • Kegiatan ini dilakukan berdasar beberapa pertimbangan: Daratan flores merupakan pulau kecil, Areal rencana tambang merupakan daerah tangkapan air hujan dan daerah mata air pada DAS Kaliwajo, Akan terjadi pencemaran lingkungan di areal tersebut yang berakibat pada termarginalkanya masyarakat di sekitarnya, Areal tersebut merupakan areal kelola rakyat
4. Pendidikan dan latihan pembuatan PERDES bagi aparat Desa ( tahun 2000 – 2003)Selama 3 (tiga) tahun terakhir ini, WTM dan OXFAM bersama Badan Penanggulanan Bencana Daerah (BPBD) Sikka melakukan pendampingan terhadap masyarakat Kecamatan Mapitara dan Kecamatan Doreng dalam program pengurangan resiko bencana. Juga melakukan advokasi kebijakan pemerintah berupa advokasi kegiatan dan anggaran lewat kegiatan MUSRENBANG, pelatihan dan memfasilitasi pembentukan forum pengurangan resiko bencana. Selain itu juga mengembangkan program PRB Berbasis Sekolah di 2 (dua) sekolah dasar di Kota Maumere.

Untuk advokasi tingkat Kabupaten, WTM bersama Caritas, Plan International dan BPBD memfasilitasi pembentukan Forum Peduli Penanggulangan Bencana Kab. Sikka. Forum ini dikukuhkan oleh Kepala BNPB

WTM menjadi salah satu anggota POKJA HKM yang membantu mengkomunikasikan pelaksanaan HKM di Sikka. 

  JARINGAN ADVOKASI 

WTM terlibat dalam jaringan advokasi yaitu sebagai anggota pada:
  1. WALHI: untuk advokasi lingkungan
  2. PBH Nusra: untuk advokasi hukum dan HAM
  3. Forum PRB: advokasi penanggulangan bencan

DAMPAK DAN KEBERHASILAN
  1. WTM sebagai penggagas pengembangan organisasi GAPOKTAN (gabungan kelompok tani yang sekarang di adopsi oleh Departemen Pertanian dan dikembangkan keseluruh Indonesia. WTM mengembangkan GAPOKTAN sejak tahun 1995.
  2. WTM berhasil dalam memperbaiki situasi gender pada wilayah dampingan di kec mego, tanawawo dan paga.
  3. Advokasi penanggulangan bencana, WTM sebagai penggagas pembentukan forum peduli penanggulangan bencana kabupaten sikka dan bersama plan international sebagai inisiator terbentuknya Perda Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana yang menjadi hak inisiatif DPRD Sikka.
  4. Pengembangan ternak sapi, kambing dan ayam di di Kecamatan Mego, Kecamatan Tanawawo dan Kecamatan Paga sampai sekarang masih dilakuka
  5. n oleh petani merupakan hasil program dan pendampingan WTM
  6. Dalam bidang lingkungan, WTM berhasil menghilangkan kebiasaan membakar hutan dan ladang di 3 kecamatan yaitu Paga, Mego dan Tanawawo. Pada tahun 1990-an kebiasaan petani membakar sangat tinggi. WTM melakukan kampanye lingkungan di setiap kampung dan merubah pola usaha tani petani.
  7. Wilayah dampingan di Kecamatan Mego, Kecamatan Tanawawo dan Kecamatan Paga pada tahun 1978 terkena bencana kelaparan. Kiprah WTM adalah melakukan pemberdayaan masyarakat. Situasi sekarang adalah kemampuan pangan dan ekonomi sudah semakin baik. Hampir semua keluarga petani memiliki kebun kakao, kopi, dan beberapa tanaman perkebunan lainnya.

PUSAT SEKOLAH LAPANGAN (PUSKOLAP)


WTM memiliki sebuah training centre atau lebih dikenal dengan Pusat Sekolah Lapangan/Field Training Centre yang dinamakan Jiro-jaro. Letaknya di Lekebai, 35 km dari kota Maumere (daerah perbatasan dengan Kabupaten Ende). 
Tempat ini merupakan tempat belajar bagi semua pihak yang mengembangkan kegiatan pertanian dan lingkungan. Fasilitas yang ada berupa: lahan 1,5 ha, Aula, penginapan, dapur dan kamar makan. Dalam pengembangannya akan dilakukan penyediaan contoh model berbagai konsep pengembangan usaha tani dan lingkungan.
Selama ini berbagai kegiatan pelatihan dilakukan di PUSKOLAP. Baik kegiatan program WTM maupun dari lembaga lain. PUSKOLAP dikukuhkan oleh Departemen Pertanian sebagai Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya sebagai Kelas Utama. 
 
Personalia 
 
Dewan Pembina : Fransiskus Nong, SP 
                                Rm. Moses Kuremas, Pr 
 
Badan Pengawas:  Blasius Rada 
                                 Oktofianus Koban 
 
Badan Pengurus 
      Ketua          : Carolus Winfridus Keupung
Sekretaris   : Raimundus Jeghe Tiwa
Bendahara  : Kristoforus Gregorius



PELAKSANA

Direktur : C. Winfridus Keupung

Admin dan Keuangan : Getrudis Dari
Koordinator Divisi Program Lapangan : Kristoforus Gregoriusi

Koordinator Divisi Advokasi, Riset Pengelolaan Lingkungan HIdup: Herry Naif

Fasilitator lapangan : Martinus Maju (Mego)

                                    Maria Martha Muda (Magepanda)

                                    Aleksander Bambang (Tanawawo)
Alamat:

Kantor pusat : Jl. Feondari, Tanali, Bhera, kec. Mego, Kab.Sikka

Kantor penyanggah : Jl. Wairklau, Belakang Dinas Koperasi, Maumere, Sikka












WTM Lakukan Kunjungan Belajar Produksi Minyak

Acara Pembukaan Kunjungan Belajar 
Dalam upaya mendorong pengembangan kualitas hidup yang lebih layak bagi masyarakat dampingan di Kecamatan Mego, Magepanda dan Tana Wawo,  Wahana Tani mandiri (WTM) yang didukung Miseror melakukan kunjungan belajar produksi minyak kelapa di kelompok Kembang Baru Nanghure (12/12). Kelopok Kembang Baru ini menjadi pilihan belajar, karena sejak tahun 2009 kelompok ini sudah mengelola dan memproduksi minyak kelapa “Sunset” yang sudah mendapatkan ijin produksi dari Dinas Perindustrian Kabupaten Sikka.

Pada acara pembukaan, rombongan belajar yang dipimpin Herry Naif (Koordinator Penelitian, Advokasi dan Pengelolaan Lingkungan WTM). Menurut Naif, kunjungan belajar ini merupakan sebuah refleksi atas perjalanan Advokasi WTM sejak 1995. Bahwa WTM sudah berada dalam tiga  mazhab, yakni pada awalnya WTM melakukan pengorganiasian kelompok Tani. Tidak heran pada masa itu ada begitu banyak kelompok tani yang dibentuk. Mazhab kedua WTM memperkenalkan konsep pengelolaan usaha tani terpadu secara organik. Pada masa ini WTM, mengkampanyekan tentang pertanian organik, dan secara tegas menolak model pengelolaan pertanian kimiawi. Kini WTM,  memasuki mazhab pemberdayan rakyat atas hasil produksi kebun atau produksi lain yang bisa dijadikan pendapatan altenatif bagi petani di wilayah dampingan. Bahwa selain upaya memenuhi kebutuhan pangan dalam rumah tangga, kelompok tani dampingan juga perlu memikirkan berbagai potensi yang ingin dikembangkan oleh para petani, demikian ujar Naif.

Sedangkan Yoseph Dala, Insiator kelompok Kembang Baru memberi apreseasi kepada WTM sebab sudah pada saatnya, WTM harus naik kelas. Segala potensi petani harus diolah menjadi yang lebih baik mulai dari model produksi dan manajemen yang perlu dibangun. Untuk itu, hari ini mari kita belajar membuat minyak agar tidak tengik. Minyak itu bisa bertahan lama dan diatur pengepakannya. Lebih lanjut, Yos mengatakan bahwa pembuatan minyak merupakan sebuah upaya untuk memberdayakan potensi lokal yang dimiliki kabupaten Sikka yangmana merupakan kabupaten pemilik kelapa terbesar di Wilayah Flores.

Setelah seremonial pembukaan, 22 petani yang didatangkan dari 11 kelompok tani dampingan WTM dibagi dalam tiga (tiga) kelompok untuk belajar memproduksi minyak mulai dari cara memilah kelapa yang baik, mengupas, memarut, menyaring hingga memasak minyak.

Seluruh tahapan dan proses pembuatan minyak secara serius dilakukan dan diikuti oleh para petani yang sedang mengikuti kunjungan belajar.

Setelah proses memasak minyak, para petani difasilitasi untuk membuat  perencanaan bersama agar kegiatan ini punya dampak positif bagi mereka. Dalam diskusi, disepakati bahwa ada 4 kelompok tani di Dobo Nuapu'u yang akan melakukan proses masak minyak pada hari selasa, 15 Desember 2015 untuk mempraktekan apa yang diiperoleh hari ini. Kelompok Usaha Bersama Lekebai mempraktek masak minyak (20/12). Sedangkan beberapa kelompok lain akan mulai memproduksi minyak setelah memasuki tahun 2016 sebagai kebangkita baru.

Di sela-sela kegiatan, Winfridus Keupung, (Direktur WTM) menjelaskan mengenai gambaran konsep yang mau dikembangkan WTM ke depan. Bahwa WTM sedang mendorong agar seluruh hasil produksi dan potensi yang ada hendaknya dikembangkan agar memiliki nilai tambah tetapi bukan berarti mengubah profesi mereka sebagai petani. Menurutnya, ini merupakan pendapatan tambahan dalam memenuhi kebutuhan hak dasar petani. Tanpa usaha ini petani akan terus tenggelam dalam berbagai kebutuhan yang melilitinya, ujar Win.

Untuk mewujudkongkretkan ini, WTM punya konsep bahwa petani perlu menciptakan produksi yang memenuhi dirinya dan sesamanya. Sebagai langka awal, dari beberapa diskusi yang dibangun, telah diidentifikasi beberapa potensi yang mau diproduksi selain minyak kelapa adalah pengolahan pisang dan Kacang tanah. Mengenai keduanya itu akan dilakukan setelah tahun 2016. Kedua potensi ini banyak terdapat di wilayah Magepanda.

Kami berharap pengolahan pisang ini pun dapat menjadi sebuah model pengelolaan yang perlu diemban sebagai upaya peningkatan kualitas hidup rakyat. Faktanya, petani secara borongan menjual pisangnya ke luar daerah melalui truk jalan darat. Di sana pisangnya diolah lalu dikembalikan ke Flores daerah dimana pisangnya berasal. Dari fakta ini, apakah petani kita tidak bisa mengelolanya sendiri agar mampu menembusi pasar dengan sebuah model pemakingan yang memenuhi standar pasar. 
   

<marquee>WTM LAKUKAN VAKSIN AYAM DI 3 KELOMPOK TANI DI EGON GAHAR</marquee>

Ansel Gogu (Kader Tani WTM) sedang Vaksin ayam anggota Kel. Tani Egon Gahar, KN , Dalam rangka mendorong sebuah pola budi daya ternak t...