Tampilkan postingan dengan label Kelembagaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kelembagaan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 November 2017

PERUMUSAN PERDES HARUS PERHATIKAN KAIDAH-KAIDAH HUKUM

PERUMUSAN PERDES HARUS PERHATIKAN KAIDAH-KAIDAH HUKUM
Yohanes Suban Kleden (Pengacara PBH Nusra) sedang Memfasilitasi Proses Diskusi
Maumere, KN. Wahana Tani Mandiri dalam Program kerja sama dengan Critycal Ecosystem Partnership Fund (CEPF) dalam Program Improving Ecosystem Manajemen and Livehoods around Mountion Egon-Indonesia dan Misereor Jerman dalam Program "Peningkatan Kapasitas Masyarakat Tani dalam Adaptasi Perubahan Iklim lewat Pendekatan Usaha Tani Berbasis Konservasi", keduanya memiliki aktifitas advokasi kebijakan desa terutama dalam perumusan peraturan desa (PERDES) sebagai salah satu solusi dalam mengatasi problem di desa. 

Herry Naif, Koordinator Program WTM-CEPF mengatakan bahwa semenjak Oktober 2016, pada program CEPF sudah mengawali kegiatan perumusan peraturan desa dengan dilakukan kajian Sumber Daya Alam (SDA) di empat (4) desa wilayah program, yakni di Kecamatan Mapitara (Hale, Hebing, Natakoli dan Egon Gahar). 

Kini, keempat desa di wilayah Mapitara masing-masing telah memiliki peraturan desa. Desa Hebing telah memiliki Perdes tentang Perlindungan Kawasan Mata Air yang sudah mendapatkan registrasi nomor 3 tahun 2017 dari bagian Hukum Setda dan telah ditandatangani Pemdes Hebing pada bulan September. Sedangkan Perdes Egon Gahar tentang "Perlindungan dan Pengelolaan Air Minum" dan Perdes Hale tentang Penertiban Pemeliharaan Ternak sudah mendapatkan masukan dari Warga setelah dilakukan konsultasi publik di masing-masing desa dan hingga sekarang sedang menunggu proses konsultasi ke pemerintah kecamatan, Dinas Pemberdayaan Desa dan Bagian Hukum. Sedangkan Perdes Natakoli tentang Perlindungan Kawasan Mata Air masih menunggu momentum konsultasi publik, ulas Herry. 

Sedangkan, Winfridus Keupung (Direktur WTM) juga mempresentasikan bahwa di wilayah program Misereor dimulai sejak bulan Agustus lalu. Perdes yang didorong WTM bersama Misereor Jerman sedang dalam Proses Perumusan. Bahwa telah dilakukan dua kali pelatihan pembuatan Perdes di wilayah program Misereor. 

Pelatihan pertama diikuti 3 desa yakni: Dobo Nuapu'u, dan Napugera (Kecamatan Mego) dan Bu Selatan (kecamatam Tanawawo). Dari hasil pelatihan ini telah disepakati bahwa Desa Napugera merumuska perdes tentang perlindungan mata air, Dobo Nuapuu merumuskan tentang Pengelolaan Air Minum dan Bu Selatan tentang Penertiban Pemeliharaan Ternak. Ketiga perdes ini dalam penyempurnaan draft untuk dilakukan konsultasi publik. 

Pada pelatihan kedua yang dilakukan pada bulan Oktober lalu, dihadiri oleh 4 desa yakni: Desa Poma, Parabubu, Bhera (Kecamatan Mego) dan Tuwa (Kecamatan Tanawawo). Keempat desa ini dalam pelatihan itu bersepakat untuk merumuskan perdes tentang penertiban ternak lepas yang marak terjadi di keempat desa tersebut, ujar Win. 

Kendatipun demikian, dalam pantauan Carolus Winfridus Keupug bahwa secara kelembagaan masih melihat bahwa peningkatan kapasitas para staf WTM baik di program CEPF maupun Misereor perlu mendapatkan pembekalan secara serius tentang proses perumusan perdes agar bisa membantu para tim perumus di setiap desa.

Karena itu, dilakukan Diskusi tentang Perumusan Perdes yang difasilitasi oleh Yohanes Suban Kleden (Pengacara PBH Nusra) di kantor WTM pada saat Evaluasi Bulan Oktober 2017. 

Diskusi ini  difokuskan pada bagaimana membuat perdes yang baik  terutama dengan berbasis pada analisa ROCIPPI. Selain itu ditekan oleh sun bahwa sebuah perdes harus melihat aspek Sosiologis, filosofis dan yuridis. Ketiga aspek ini menjadi landasan utama dalam perumusan peraturan desa. Sedangkan pada bagian Mengingat itu lebih pada mencari referensi hukum yang berkorelasi dengan peraturan desa yang dirumuskan. 

Pada batang tubuh Perdes, menurut Yohanes Kleden harus melihat hasil analisa ROCCIPI yang dibuat untuk dipermudah. Lebih dari itu juga harus kerangka berpikir agar dinilai logis bila tidak akan dinilai tumpang tindih, kata pengacara yang baru dilantik di Kupang pada bulan Agustus Lalu. (Ryn-KN)


Selasa, 31 Oktober 2017

WTM LAKUKAN EVALUASI BULAN OKTOBER

WTM LAKUKAN EVALUASI BULAN OKTOBER
Maumere, KN. Evaluasi dan Perencanaan Bulan Oktober kru WTM dilakukan di kantor WTM, sejak tanggal 29 Oktober hingga 1 November 2017. Kegiatan Evaluasi ini dihadiri oleh semua staf. Kegiatan ini dipimpin oleh Kristoforus Gregorius. 

Dalam pembukaan kegiatan, Kristo mengucapkan apreseasi kepada setiap staf yang sudah melaksanakan berbagai aktifitas di lapangan ataupun di kantor. 

Rapat Staf bulan Oktober (30/10)
Evaluasi dan Perencanaan adalah sebuah rutinitas bulanan dari WTM secara kelembagaan. Evaluasi menjadi momentum kelembagaan untuk melihat bersama apa yang telah dilakukan oleh setiap staf dan apa yang dicapai secara kelembagaan dengan berbasis pada perencanaan bulanan yang dibuat pada bulan sebelumnya. Sedangkan, perencanaan menjadi sebuah paduan aktifitas bagi setiap staf di WTM, ujar Kristo.

Dengan demikian, pada bulan Oktober difokuskan pada beberapa kegiatan yakni: aktifitas setiap staf, Penelitian Pemulian Tanaman, Kaji Banding, Kaji Terap pada program Misereor, Perkembangan pelaksaan IUP HKM, Perumusan Peraturan Desa dan beberapa aktifitas usaha tani pada grup CEPF.

Pada kesempatan itu, Martinus Maju (Fasilitator Lapangan) mengatakan bahwa beberapa aktifitas yang dibahas ini menjadi substansi pelaksanaan program yang mestinya mendapatkan perhatian lebih, selain aktifitas rutin WTM dalam pendampingan teknis usaha tani.

Kami di lapangan coba membenahi lapangan, demi tercapainya apa yang menjadi indikator dari program tersebut, demikian ungkap Tinus yang sudah ada di WTM sejak berdirinya. 

Selain itu, dibahas tentang kegiatan WTM bersama KIARA dalam program Right to Food terutama kegiatan bersama Kaukus Perempuan dan Koalisi Masyarakat Sipil yang telah dibentuk Kommune. 

Kegiatan ini berjalan alot karena pembahasan berbagai aktifatas usaha tani yang dilakukan di empat (4) kecamatan yakni: Mapitara (CEPF), Mego, Tanawawo, Magepanda (Misereor).

Setelah itu dilanjutkan dengan pembahasan mengenai perencanaan bulan November tentang apa yang akan dilakukan bersama dan setiap staf pun membuat perencanaan tentang apa yang harus dilakukan. 

Rabu, 27 September 2017

WTM LAKUKAN ASSEMENT BERSAMA PENABULU

Maumere, KN. Setelah WTM menjalani program Improving Ecosystem Manajemen and Livehoods Around Mt. Egon kerja sama dengan Burung Indonesia dan Crytical Ecosystem Partnership Fund (CEPF) sebagai upaya evaluasi dan sekaligus mengidentifikasi kondisi kelembagaan, dilakukan Assement Bersama Penabulu.

Kegiatan ini dilakukan di kantor Wahana Tani Mandiri (WTM) di Maumere, yang dihadiri oleh staf WTM baik oleh staf program CEPF maupun staf Misereor. Asessment ini difasilitasi oleh Abdul Gafur (Penabulu) dengan menggunakan metode Peranti.

Carolus Winfridus Keupung, (Direktur WTM) dalam pembukaan kegiatan mengucapkan terima kasih kepada Penabulu yang hadir untuk melakukan assement kelembagaan bagi WTM sehingga ada perbaikan kelembagaan.

Lebih dari itu, kami berharap bahwa kegiatan assement ini mengingatkan kami akan beberapa dokument yang belum disiapkan untuk ke depan bisa diperbaiki, ujar Win.

Dalam assement itu ada beberapa hal yang dilihat diantaranya: Tata Kelola, Tata Laksana Kelembagaan dan keberlanjutan program ke depan. (Ryn-KN)

Selasa, 29 Agustus 2017

BPJS TENAGA KERJA MAUMERE SOSIALISASI DI WTM

Sosialisasi Hak-hak Tenaga Kerja dari BPJS Ketenagakerjaan Maumere (29/8)
Maumere, KN. Mengakhiri aktifitas bulan Agustus, kru Wahana Tani Mandiri kembali berkumpul di Sekretariat WTM di Jalan Wairklau Maumere, Belakang kantor Dinas Koperasi Lama. Kegiatan ini dilakukan sebagai wujud dari monitoring dan evaluasi terhadap berbagai aktifitas yang dilakukan baik oleh staf lapangan ataupun para koodinator Bidang dan Koordinator Program.

Kegiatan evaluasi ini dihadiri oleh Carolus Winfridus Keupung, Direktur Wahana Tani Mandiri (WTM) dan Herry Naif (Koordinator Program WTM-CEPF, Martha Muda (Koordinator Bidang Advokasi, Riset dan Pengelolaan Lingkungan Hidup), Alexander Saragi (Koordinator Pertanian) dan Will Woda (Koordinator Advokasi program CEPF) dan semua fasilitator lapangan baik pada program CEPF maupun Misereor. Evaluasi ini dilakukan pada hari Selasa, 29 Agustus 2017.

Winfridus Keupung, Direktur WTM, dalam pembukaan evaluasi mengatakan bahwa pertemuan bulanan ini menjadi hal yang penting. Bahwa setiap kita harus mengharga pertemuan bulanan karena ini sebagai bentuk evaluasi dan penghargaan terhadap berbagai aktifitas yang sudah dilakukan sebulan.

Karena itu, saya berharap kegiatan evaluasi ini harus diikuti oleh setiap staf WTM. Bila kita tidak menghadiri acara tersebut, bagaimana kita bisa mengetahui perkembangan kegiatan lapangan, ujar Keupung.

Evaluasi yang dipimpin oleh Alex Saragi itu dilanjutkan dengan presentasi dari fasilitator lapangan dari wilayah Program Misereor yakni; Yohanes Dawa dan Martinus Maju. Kedua fasilitator tersebut mempresentasikan tentang perkembangan perumusan peraturan desa yang sedang dilakukan dan penelitian kawin silang (pemulian benih), kaji banding dan kaji terap.

Selain itu, Martinus Maju menegaskan bahwa aktifitas penelitian tengah berlangsung dan diharapkan koordinasi yang bagus antar staf agar kegiatan ini berlangsung sukses.

Setelah itu, dilanjutkan dengan sosialisasi dari Juni Kenedi, Staf  BPJS Ketenagakerjaan Maumere, tentang pentingnya para tenaga kerja mengikuti program ini karena ini ada manfaatnya bagi para tenaga kerja.

Ada tiga manfaat yakni: jaminan kecelakaan, jaminan hari tua, jaminan kematian dan ada jaminan pensiun yang sementara di proses, kata Juni Kenedi.

Presentasi ini, mendapat respon positif dari para kru-WTM dengan mengisi beberapa format yang disiapkan oleh BPJS Ketenagakerjaan. (Ryn -KN)

Jumat, 28 Juli 2017

WTM LAKUKAN EVALUASI DAN PERENCANAAN TRIWULAN

Maumere KN. Mengakhiri bulan Juli, WTM lakukan evaluasi dan perencanaan triwulan aktifitas program dan lembaga. Kegiatan yang dilakukan di kantor WTM itu dihadiri oleh staf WTM (26-29/07).

Agenda yang menjadi bahasan evaluasi adalah tentang berbagai aktifitas staf yang dilakukan di kelompok dan sekretariat. Martinus Maju, Richardus Efendi dan Yohanes Daya (Fasilitator Lapangan) dalam program kerja sama WTM dengan Misereor mempresetasikan mengenai pelatihan manajemen kelompok yang dilakukan bersama pengurus kelompok baik yang didampingi maupun yang tidak didampingi WTM. Kegiatan ini merupakan kegiatan bersama dengan pemerintah desa di wilayah Kecamatan Mego, Magepanda dan Tanawawo.

Selain itu juga dibicarakan tentang penelitian pemulian Benih yang sedang dilakukan oleh 8 kader tani. Dari presentasi itu, dapat dilihat bahwa sudah ada 4 kader yang sudah melakukan penanaman dan Beatriks Rika sebagai peneliti yang sukses itu lebih rapih dalam pencatatan dan konsisten melakukan pemantauan perkembangan padi penelitiannya.

Menanggapi miskomunikasi yang dibangun antara koordinator bidang dan para peneliti itu, disepakati agar pada bulan Agustus permasalahan ini diatasi agar penelitiannya menjadi sukses.
Herry yang memimpin sidah menegaskan bahwa komunikasi itu penting antara berbagai komponen di lembaga dan partisipan program. Komunikasi yang dibangun itu harus humanis sehingga tidak menimbulkan konflik interest.

Sedangkan para fasilitator yang banyak menyinggung tentang kemajuan advokasi legal drafting yang mana sudah dilakukan konsultasi publik, di desa Hebing dan Egon Gahar dan sekarang dalam tahapan konsultasi ke kecamatan dan bagian Hukum Pemdes.

Herry Naif, Koordinator Prog. WTM-CEPF dan Alex Dedy, Koord. Pert
Secara program CEPF mengalami sebuah kemajuan lapangan yang cukup signifikan tetapi kita tidak boleh hanya membanggakan itu tetapi yang paling urgen adalah dimana harus ada dampak positif dari perumusan peraturan desa agar kemudian perdes yang dirumuskan itu tidak mengabaikan partisipasi masyarakat karena itu perintah undang-undang, tukas Herry.

Sedangkan advokasi nelayan pun mulai menunjukkan taringnya, hanya saja perlu dilihat substansi programnya agar apa yang akan menjadi output program dapat tercapai. Prinsipnya para nelayan harus teroganisir dalam sebuah kesadaran sosial akan hak-hak dasarnya yang harus dilindungi, dipenuhi dan dihormati oleh negara.

Perdebatan dalam evaluasi itu diakhiri dengan pembahasan rencana triwulan (Agustus, September dan Oktober). Para staf kemudian terbagi dalam dua kelompok sesuai dengan progam yang diemban oleh WTM yakni Program Misereor dan CEPF agar membahas perencanaan program dengan menentukan indikator.

Dalam presentasi perencanaan triwulan itu, ditegaskan bahwa perencanaan itu kerangka kerja staf dan lembaga karena itu apa yang direncanakan harus dijalankan bukan ditunda. Kalau sebuah aktifitas mengalami penundaan terus menerus itu signal kegagalan, ujar Alex. (Ryn)

Selasa, 30 Mei 2017

WTM DORONG KEBIJAKAN DESA YANG BERPIHAK PADA PETANI

Rapat Staf WTM (30 Mei 2017). Foto: Tinus Maju
Maumere - KN, Dalam rapat evaluasi staf WTM bulan Mei dan perencanaan kegiatan  bulan Juni yang dilakukan di kantor WTM, Jalan Wairklau (29-31/05). Kegiatan diskusi ini berjalan seru, yang mana setiap Fasilitator Lapangan, Koordinator Bidang memperesentasikan tentang aktifitasnya.

Evaluasi yang dipimpin Herry Naif (Koordinator Program WTM - CEPF) memberi ruang yang seluas-luasnya kepada setiap staf WTM untuk menyampaikan tentang apa yang dialami di lapangan. Hampir semua Fasilitator Lapangan wilayah Mapitara kerja sama WTM-CEPF mengulas tentang kegiatan usaha tani yang mana telah dilakukan berbagai praktek pembuatann pupuk organik dan pestisida organik. Selain itu, Yanarius Yustinus, Mus Mulyadi dan Marianus Mayolis (Fasilitator Lapangan) menyinggung tentang Analisa ROCCIPI dan Perumusan Peraturan Desa (Perdes).

Bahwa kegiatan perumusan Peraturan Desa yang sudah sampai pada Konsultasi Publik adalah Desa Hebing. Diharapkan kegiatan konsultasi publik yang dilakukan di 3 dusun (Hebing, Watubaler dan Galit) memberikan masukan untuk penyempurnaan peraturan desa tentang perlindungan mata air, ulas Yolis.

Lebih dari itu, juga disinggung mengenai advokasi kebijakan desa yang dilakukan oleh Wahana Tani Mandiri (WTM) terutama bagaimana mendorong kebijakan yang berpihak pada petani.  Bahwa, sudah 3 tahun WTM dalam kerja samanya dengan Misereor telah mendorong pemerintah desa berpihak pada petani dengan mengakomodir berbagai kepetingan petani yang diwujdkan dalam kebijakan Anggaran Pendapatan Belanja Desa (APBDes). Alangkah lebih bagusnya, kita perlu mendapatkan APBDes kemudian dibuat analisis tentang Responsifitas Kebijakan Pemdes terhadap kepentingan petani, dengan demikian kita bisa mengukur seberapa keberpihakan, dan kemudian perlu dilihat juga proses implementasinya, tegas Herry.

Menanggapi diskusi ini, Alex Bambang kemudian melihat bahwa ini menarik karena sebetulnya komunikasi WTM dengan Pemdes di wilayah dampingan itu harus tuntas sampai pada bagaimana teknis pengembangan usaha tani. Bahwa WTM perlu membantu dalam proses pengimplementasian sehingga ada sinergitas antara kebijakan dan pelaksaannya, ujar Alex.

Sedangkan dalam presentasi dari para fasilitator lapangan WTM di wilayah program Misereor (Yohanes Dawa Martinus Maju, Richardus Dodiq Effendi) lebih mengulas tentang pelatihan manajemen kelompok yang sudah dilakukan di beberapa desa sebagai upaya pembenahan manajemen kelompok tani. Bahwa pelatihan ini harus berdampak pada perubahan manajemen kelompok tani dengan menerapakan sebuah manajemen yang partisipatif.

Selebihnya juga dibahas tentang tentang kesiapan penelitian pemulian benih dan kaji banding. Bahwa kegiatan ini menjadi substansi program yang harus diperkuat agar bagaimana meyakinkan bahwa organik jauh lebih tepat dalam menjawabi permasalahan petani hari ini, ujar Maria Marta Muda. (Ryn-KN)







Rabu, 17 Mei 2017

BENAHI LEMBAGA: KRU WTM BAHAS SOP-K

Maumere, KN. Dalam rangka meningkatkan kualitas kelembagaan, di tengah tuntutan transparansi dan akuntabilitas kelembagaan, kru WTM melakukan pembahasan Standar Operasional Prosedure (SOP) Keuangan dalam menciptakan sebuah iklim manajemen keuangan yang transparan dan akuntable kepada donor dan kepada publik.

Kegiatan pembahasan SOP Keuangan ini dilakukan di Kantor WTM yang dihadiri oleh Carolus Winfridus Keupung (Direktur WTM), Marta Muda (Koordinator Riset dan Pengelolaan Lingkungan, Alexander Saragi (Koordinator Pertanian), Will Woda (Koordinator Advokasi), Ernestina D. Hariona (Keuangan Program CEPF). (15-16/05)

Pembahasan SOP Keuangan di Kantor WTM (16/05)
Herry Naif (Koordinator Program WTM) dalam Program CEPF yang memimpin proses diskusi tersebut mengatakan bahwa proses ini bukan baru saja dilakukan lembaga hanya saja bahwa selama ini mekanisme keuangan belum tersistematis.

Prinsipnya, Standar Operasional Prosedure Keuangan itu adalah kumpulan kebijakan, aturan, prosedur, mekanisme, format, kode dan contoh-contoh sebagai panduan suatu lembaga dalam menyusun, mengelola dan mengawasi keuangan, ujarnya.

Mengawali presentasi tentang SOP yang sudah dipersiapkan, Getrudis Dari (Manajer Keuangan WTM) mengatakan bahwa tujuan utama dari sebuah manajemen keuangan adalah konsep kontrol yang jelas dan dimengerti sebagai pelaporan keuangan. Untuk itu dibutuhkan pencatatan transaksi keuangan yang akurat untuk menunjukkan bagaimana dana digunakan, menyediakan informasi yang berguna secara sistematis dan akuntable.

 Lanjut Udis, bahwa beberapa tujuan dari SOP Keuangan itu adalah: pertama, sebagai acuan dalam melaksanakan kegiatan keuangan berdasarkan tugas pokok masing-masing dalam ruang lingkup keuangan. Kedua: Untuk menghindari kesalahan dan duplikasi serta pemborosan penggunaan keuangan dalam kegiatan. Ketiga, menjamin penggunaan tenaga dan sumber daya yang efisien dan efektif. Keempat; menjelaskan tugas dan kewenangan serta tanggung jawab.
Setelah itu dilakukan pembahasan tentang peran dan tugas pokok tentang aktor-aktor yang punya keterkaitan dengan pengelolan keuangan program atau lembaga.

Lebih dari itu telah dipersiapkan format-format keuangan dan dilakukan simulasi keuangan agar sistem yang dibuat tidak mempersulit para kru WTM dalam mengakses secara internal. Selain itu juga peran keuangan itu terdistribusi dalam setiap struktur yang ada.

Disepakati bahwa hasil pembahasan ini akan disimulasikan pada rapat evaluasi staf dan kemudian ditetapkan secara kelembagaan sebagai standar pengelolaan keuangan di WTM. (Ryn- KN)

Sabtu, 06 Mei 2017

STAF WTM DIKAPASITASI ANALISA ROCCIPI

Herry Naif (Koord. Prog.  WTM - CEPF) memandu kegiatan Breifing 
Maumere, KN. Seminggu WTM melakukan pertemuan Evaluasi Kegiatan bulan April dan perencanaan bulan Mei dengan sebuah pola baru. Walau  sudah seminggu dilakukan pertemuan di Kantor yang beralamat di Jalan Wairklau Maumere, tetapi semangat para kru WTM terus berkobar. Secara energi, tentunya telah terkuras habis.

Berasas pada pemikiran positif ini, Kru WTM bersepakat untuk dilakukan breifing tentang penyusunan PERDES yang akan dilakukan di 2 wilayah program, yakni Mapitara dengan Crytical Ecosystem Partnership Fund (CEPF) dan Misereor Jerman, pada hari Sabtu, 6 Mei 2017.

Kegiatan ini sebagai langka awal sebelum pelaksanaan kegiatan di lapangan bersama para pihak di desa dampingan.

Breifing penyusunan PERDES difasilitasi Yohanes Suban Kledes (Koordinator Riset PBH Nusra). Dalam pembukaan, Yohanes menguraikan tentang apa maksud dan tujuan dari perumusan sebuah peraturan. Bahwa, dalam kegiatan studi pengelolaan sumber daya alam yang dilakukan  WTM ada begitu banyak permasalahan sosial yang perlu dijawab dengan perumusan peraturan dengan Metode ROCCIPI. Tentunya, banyak metode yang ada tetapi kita memilih metode ini sebagai sebuah metode yang akan membantu kita dalam perumusan peraturan desa.

Lebih lanjut, Yohanes mengungkapkan bahwa metode ini dinilai partisipatif. Sejak era reformasi metode ini menjadi pilihan bagi kalangan aktifis.

Menariknya bahwa dalam kegiatan tersebut para staf serius mengikuti presentasi tersebut dan kemudian terjadi perdebatan yang alot tentang permasalahan apa yang harus diatur.
Ada yang melihat bahwa Perdes yang perlu didorong adalah mengatur tentang model pengelolaan sumber daya alam dan ada yang melihat bahwa apa pun perdes yang dihasilkan itu yang terpenting adalah menjawabi permasalahan masyarakat di desanya.

Menanggapi perdebatan tersebut, Herry Naif (Koordinator Program WTM-CEPF), mengungkapkan bahwa di wilayah program CEPF itu memang disepakati bahwa perdes yang dihasilkan adalah Perdes Lingkungan. Tetapi menurut hemat saya bahwa mengatur tentang lembaga adat atau pertanian berkelanjutan pun itu masih dalam koridor perbaikan manajemen ekosistem dalam mendukung penyelamatan ekologi, ujarnya. (Ryn - KN)




Jumat, 05 Mei 2017

BREAVING PENGEMBANGAN PROGRAM PENELITIAN BERSAMA PETANI

Marta, Koord. Riset dan Lingk Hidup sedang Presentasi Materi
Maumere KN. Dalam rangka implementasi program "Penguatan Kapasitas Masyarakat Tani Adaptasi Perubahan Iklim lewat Pendekatan Usaha Tani Berbasis Konservasi, melalui kerja sama WTM  dengan  Misserior- Jerman, terutama dalam bidang penelitian pemulian benih, Kaji Banding, Maria Marta Muda (Koordinator Riset dan Pengelolaan Lingkungan) mem-breifing para staf lapangan  di kantor WTM, jalan Wairklau, Maumere. 

Pada acara breaving ini, Martha  menjelaskan tentang latar belakang mengapa penelitian ini dilakukan WTM dan rumusan masalahnya. Selain itu juga disampaikan tentang mekanisme persiapan penelitian dan teknis pengembangan penilitian baik itu penelitian pemulian benih atau pun penelitian kaji banding yang akan dilakukan oleh para petani peneliti dari tiga kecamatan; yakni: Mego, Magepanda dan Tanawawo. 

Para staf sedang mengikuti breaving Penelitian (5/5/17)
Peneliti pemulian benih dari Magepanda (Kanis Garu), Mego (Beatriks Rika, Said Naja, Hendrikus Hende, Sirilus Siprianus), Tanawawo (Siprianus Rehing, Agustinus Tiga, Florianus Herzon). Kedelapan peneliti ini adalah peneliti sebelumnya yang gagal terkecuali Beatriks Rika yang berhasil menemukan padi Varietas Padi 3S (Sela, Sega Sona) yang membuatnya menjadi salah satu perempuan peraih famale food hero versi Oxfam Indonesia di Jakarta, tahun 2016.

Sedangkan, penelitian kaji banding Magepanda dilakukan oleh kelompok tani, Magepanda: Kelompok Tani Kaju Naja Oa, Kelompok Tera Jaya, Kelompok Sumur Bor, Kelompok Apun Longga), Tanawawo (Nuaheu Pega, Pamambale, Tunas Baru, Kelompok Baidua. Sedangkan Kecamatan Mego, (Kelompok Lowo Lo'o (Bhera), Bugu Supu (Dobo Nuapu'u), Kasih Ibu, Suka Tani (Dobo), Tukelaka (Bhera).


Menariknya bahwa diskusi teknis berjalan alot disaksi Kabar Nuhang. Yang mana terjadi perdebatan antar para fasilitator dan pemateri dalam hal teknis yang mana akan mewujudkan kedaulatan benih dan kampanye organik yang meluas kepada kelompok tani. Lebih dari itu, upaya ini untuk menemukan sebuah pola pertanian yang dapat meningkatkan pendapatan dan mewujudkan pertanian berkelanjutan. (Ryn - KN)










Sabtu, 29 April 2017

WTM PERTEGAS PRAKTEK DAN DAMPAK KEGIATAN MENINGKATKAN KAPASITAS

Rapat Evaluasi dan Perencanaan  Staf WTM Bulan April,2017
Maumere, KN. Dalam evaluasi bulan April yang dilakukan staf Wahana Tani Mandiri (WTM) di kantor WTM (29/04).

Kegiatan ini dipimpin oleh Herry Naif (Koordinator Program CEPF - WTM) dihadiri oleh para koordinator di WTM, yakni: Aleks Bambang (Koord. Pertanian), Marta Muda (Koordinator Riset dan Advokasi Missereor) dan Koordinator Advokasi CEPF.

Dalam presentasi itu, para fasilitator lapangan program CEPF di wilayah Mapitara, Marianus Mayolis, Yustinus Iriyanto dan Mus Mulyadi mengungkapkan tentang beberapa strategi yang lagi diperankan diantaranya pertama mendorong para kader agar berperan efektif dan lebih dari itu demi efektifitas dan efisiensi kinerja pendampingan lapangan dilakukan perencanaan pada awal bulan dan evaluasi pada akhir bulan sebelum evaluasi staf WTM.

Selain itu, menurut Marianus Mayolis dan Mus Mulyadi bahwa para kader melakukan pendampingan silang yang mana para kader tidak hanya mendampingi di wilayahnya tetapi juga mendampingi di kelompok lain di wilayah desa lain. Sedangkan menurut Yanto, bahwa selama bulan April dia lebih berkonsentrasi dalam mendorong pelaksanaan kegiatan Hutan Kemasyarakatan (HKm) di Egon Gahar.

Sedangkan dalam presentasi dari Yan Jawa bahwa sudah dilakukan praktek pembuatan pupuk organik dan pestisida organik. Menanggapi itu, Alex Bambang mendorong agar praktek yang dilakukah harus memenuhi standar dan lebih dari itu dijadikan sebagai bahan campaign dan bukti untuk mendorong penggunaan pupuk organik dan pestisida organik. Sekiranya praktek itu juga meningkatkan kapasitas para petani kelompok dampingan dan memberi motivasi bagi petani untuk mempraktekannya di kebun mereka masing-masing, demikian kata Alex.

Setelah itungan presentasi para koordinator dan Direktur. Dalam evaluasi itu ditemukan bahwa jauh lebih efektif bahwa perencanaan hendaknya dibuat dalam periode 3 -  6 bulan agar bisa dibuat indikator pencapaiannya.

Dengan demikian, para staf dibagi dalam dua kelompok sesuai dengan wilayah program pendampingan yakni: Program CEPF dan Misereor. Dalam setiap program mendiskusikan tentang (1) kegiantan, (2) Target (kuantitatif dan kualitatif), (3) Waktu, (Mey, Juni, Juli), (4) Penanggung Jawab, (5) Budged.
Proses ini dilakukan secara serius oleh para staf sambil tidak meninggalkan pendampingan rutin yang dilakukan.
Acara evaluasi ini, ditutup oleh Carolus Winfridus Keupung. Dalam sambutannya beliau mengatakan bahwa model baru ini hendaknya semakin meningkatkan kualitas kerja staf dan mencai apa yang ditargetkan (Ryn - KN)

Selasa, 04 April 2017

WTM KAPASITASI KADER DAMPINGANNYA

Maumere, KN. Kegiatan Breafing kader tani yang diselenggarakan Wahana Tani Mandiri (WTM) di Pusat Sekolah Lapangan (PUSKOLA) Jiro-Jaro, desa Bhera, Kecamatan Mego, Kabupaten Sikka (1-2/04).

Kegiatan yang dihadiri oleh kader tani dari 3 wilayah dampingan yaitu Tanawawo, Mego dan Magepanda. Selain itu juga dihadiri oleh para koodinator Bidang dalam Program Misereor, Fasilitator Lapangan dan Direktur WTM.

Breafing kali ini dipimpin oleh Dedi Aleksander. Menurutnya bahwa ada hal-hal penting yang harus dikerjakan bersama ke depan terkait pendampingan kader, manajemen kelompok, penelitian, advokasi desa serta rapat koordinasi yang akan berlangsung di bulan April mendatang. Untuk advokasi di 3 kecamatan ini tidak diragukan lagi, namun menjadi catatan penting untuk kita adalah pembenahan administrasi laporan di tingkat kader tani juga di tingkat kelompok, tandas Aleks.

Dalam pertemuan itu disepakati bahwa rapat koordinasi tingkat kecamatan akan diadakan di PUSKOLAP JIRO-JARO yang dihadiri oleh para Camat, para Kepala Desa, ketua BPK dan ketua BPD.

Selain itu juga, dalam pertemuan ini para kader juga dibekali dengan beberapa materi yang di bawakan oleh staf WTM, yaitu: Manajemen Kelompok yang difasilitasi Dodig Efendi (Fasilitaotor Lapangan Magepanda), Penelitian Kawin Silang Padi dan Kaji Banding yang difasilitasi Maria Martha Muda (Koordinator Advokasi, Riset dan Pengelolaan Lingkungan Program Misereor) dan Latihan Pembuatan Proposal difasilitasi oleh Aleks Bambang.

Dari ketiga materi itu banyak hal yang didiskusikan bersama. Kader sangat senang dan semangat karena dibekali oleh materi yang cukup singkat. Saya rasa baik, WTM selalu mendukung kerja-kerja kader, ini adalah ilmu bagi kita, kita bisa beradvokasi, kita bisa berbicara di depan banyak orang itu semua hanya dari WTM, cetus Serilus.

Lebih lagi mereka tertarik dengan penelitian kaji banding dan kawin silang padi yang langsung ditunjuk dengan konsep rancangannya. Dari kader yang hadir ini, ada 5 orang yang menjadi petani peneliti, diantaranya Sipri Rehing, Beatriks Rika, Kanisius Garu, Hendrikus Hende, dan Siprianus Serilus yang menjadi petani penelitinya.

Menurut Erin Muda yang menangani bidang ini, dikatakan cukup sulit untuk merancangnya, butuh banyak pengetahuan dan pembelajaran. Saya sangat tertarik dengan penelitian ini karena anggota di reroroja juga dia mau buat itu, kata Franto. Kalau bisa dari WTM bisa memfasilitasi di sana, mereka siap saja, ujarnya lagi. (Mmud.)

Senin, 13 Maret 2017

Rapat Persiapan Workshop Pengelolaan Sumber Daya Alam di Mapitara

Maumere, KN. Wahana Tani Mandiri (WTM) dalam kerja samanya dengan critycal Ecosystem Partnership Fund (CEPF) dalam program Improving Ecoystem Manajement and Livehoods in around Mt. Egon Indonesia, memiliki salah satu aktifitas program yakni Workshop Pengeolaan Sumber daya alam. Workshop ini diawali dengan Studi Pengeloaan Sumber Daya Alam (PSDA) di Wilayah Mapitara, yakni desa Egon Gahar, Natakoli, Hale dan Hebing. Kegiatan Workshop ini akan dilanjutkan dengan penyusunan Rancangan Peraturan Desa (Perdes) yang mengatur tentang Pengelolaan Sumber daya alam yang eko-humanis.

Rencananya kegiatan ini akan dilangsungkan di Paroki Hebing dengan menghadirkan Nara Sumber John Bala (Direktur Lembaga Advokasi dan Pendidikan Kritis (Ba'Pikir)), dan Yohanes Suban Kleden (PBH Nusra). Sebagai persiapan, Tim Program WTM - CEPF melakukan pertemuan di kantor WTM, Jalan Wairklau yang dipimpin oleh Wihelmus Woda, Koordinator Advokasi (13/03), . Hadir dalam kegitan tersebut Herry Naif (Koordinator Program WTM - CEPF).

Dalam rapat itu, tim menyepakati Mus Mulyadi sebagai ketua dan Yanto Yustinus sekretaris panitia penyelenggara kegiatan workshop tersebut. Pembahasan ini menyangkut berbagai bagai hal teknis agar bagaimana menyukseskan tersebut. Herry Naif (Koordinator Program) menegaskan bahwa wilayah penyelenggaraan kegiatan itu masih sulitnya komunikasi melalui handphone dan lain-lain karena itu harus jauh-jauh sebelum kegiatan harus diatasi. Malah semua harus diselesaikan sebelum penyelenggaraan agar kegiatan itu tidak mengalami hambatan, ujarnya.

Sedangkan Enesita Dua Sina, mengatakan bahwa saya akan mempelajari anggaran dan mencoba untuk mendrafting anggaran agar penggunaan budget tepat sesuai dengan apa yang terterah dan malah memang harus dipikirkan agar berbagai pengeluaran itu sesuai dengan besaran budget yang tersedia. Sebelum menutup pertemuan tersebut dibahas juga beberapa hal teknis tentang pelaksanaan program terutama tentang pengechekan tanaman penghijauan di wilayah mata air yang dihijaukan bersama berbagia komponen, pembibitan tanaman komoditi yang dilakukan dan pengadaan ayam dengan mencari sebuh mekanisme yang tepat agar berjalan sesuai dengan apa yang dicita-citakan bersama. (Ryn-KN)

Rabu, 08 Maret 2017

WTM DAN MASSIPAG FILIPINA LAKUKAN PEMBELAJARAN DAN SHARING INFORMASI

Maumere, KN. Wahana Tani Mandiri (WTM) dan Massipag Filipina dalam kerja sama dengan Misereor Jerman menyelenggarakan kegiatan Workshop People Led Development In Nusa Tenggara Timur – Indonesia dengan menghadirkan lima (5) lembaga di NTT sebagai Mitra Misereor yakni: Yayasan Tana Nua (YTN) Flores, Yayasan Tana Nua (YTN) Timor, Yayasan Komodo Indonesia Lestari (Yakines) Manggarai Barat, Yayasan Pengembangan Kemanusian (YPK) Donders Sumba Barat Daya dan Wahana Tani Mandiri (WTM).

Kegiatan ini dibuka oleh Elisabeth Cruzada (Konsultan Misreor-Filipina). Peserta kegiatan Workshop, 30 orang untusan dari setiap lembaga mitra yang hadir. Kegiatan ini dilakukan di Pusat Sekolah Lapangan (Puskolap) Jiro-Jaro, Tana Li, Desa Bhera, Kecamatan Mego, Kabupaten Sikka (6-9 Maret 2017).

Dalam sambutan awal, Elisabeth (Konsultan Misereor) memberi apreseasi kepada WTM yang bersedia menjadi tuan rumah dari kegiatan ini. Selain itu, Bess, juga mengajak para peserta agar selama kegiatan ini yang akan dilakukan selama 4 hari (6-9 Maret) melakukan pertukaran informasi lapangan tentang kegiatan yang diemban selama ini dan itu akan menjadi pembelajaran menarik untuk dilakukan perbaikan dalam berbagai aktifitas ke depan. Kegiatan ini dihadiri oleh Inge Lempp (Konsultan Misereor untuk wilayah Indonesia Timur) dan yang hadir dari Masipag Filipina diantaranya: Elisabeth Crusada (Konsultan Misereor Filipina), Cris Penerio (Koordinator Nasional Masipag), Clarisa Yesha Ramos (Koordinator Program PPG), Trangguliano Piladobot (Dewan Tani Massipag).

Sedangkan, Carolus Winfridus Keupung (Direktur WTM) mengucapkan terima kasih kepada Misereor yang mempercayakan WTM sebagai penyelenggara kegiatan ini. Dan Terima kasih juga kepada Masipag yang ingin ke Indonesia untuk bersama-sama menyelenggarakan kegiatan dimaksud. Kami berharap dengan penyelenggarakan kegiatan ini, WTM akan semakin membenahi diri menjadi lebih yang akuntable dan transparan bagi publik dan kemudian berdampak positif kepada kader yang sedang dipercaya sebagai agen perubahan di kampung masing-masing. Beberapa tujuan dari kegiatan ini adalah: pertama, sharing pembelajaran antara mitra misereor, kedua, penemuan nilai dan strategi yang hendak dikembangkan mitra. Ketiga, membangun solidaritas antar lembaga dan wilayah dalam mewujudkan people led development sebagai substansi program yang perlu dicapai. Keempat adalah menjadi momentum untuk mempererat persaudaraan di antara lembaga mitra misereror.

Pada hari pertama, kegiatan diawali dengan perkenalan dan presentasi awal soal profil aktifitas dari setiap lembaga yang sedang bekerja sama dengan Misereor. Ada berbagai aktifitas dan isu yang dibicarakan di sana namun hampir semua difokuskan pada tataran pengelolaan pertanian berkelanjutan dengan berbagai problemnya. Hari kedua, para peserta dibagi menjadi tiga (3) kelompok untuk melakukan kunjungan lapangan yakni di desa Bhera (kelompok Tani Lowo Lo’o. Di kelompok ini para peserta belajar tentang penelitian kawin silang dan pengelolaan pertanian berkelanjutan dan Sinar Tani Detugau belajar tentang Usaha Bersama Simpan Pijam dalam kelompok Tani. Sedangkan di desa Dobo Nuapu’u para peserta belajar tentang perkebunan kakao dan bagaimana tentang mengadvokasi pemerintah desa agar kemudian berpihak pada kepentingan petani.

Sedangkan pada hari ketiga, para kader tani Wahana Tani Mandiri juga menghadiri acara tersebut untuk mensharingkan pengalaman mereka dalam mengadvokasi kebijakan di tingkat desa dan teknis pertanian di kelompok-kelompok tani dampingan WTM yang tersebar di kecamatan Mego, Tanawawo dan Magepanda. Pada acara ini, para kader tani WTM penuh semangat dalam mempresentasikan apa yang telah dibuatnya di desa. Kendatipun demikian masih banyak kisah gagal yang harus diperbaiki dalam program-program ke depan agar cita-cita people led development (rakyat adalah pemimpin pembangunan terwujud) di wilayah yang sedang didampingi WTM. (HN-KN)

Jumat, 03 Maret 2017

Sambil Evaluasi, Sambil Mempersiapkan Pertemuan Mitra Misereor

Maumere KN, Sebuah rutinitas yang harus dijalankan oleh para kru WTM adalah evaluasi dan perencanaan bulanan. Evaluasi ini dimaksud untuk melihat sejauh mana pelaksanaan kegiatan lapangan yang dilakukan oleh setiap staf dan para koordinator WTM. Sedangkan perencanaan merupakan kerangka kegiatan yang akan dijalankan oleh setiap individu di WTM.

Biasanya evaluasi itu dilakukan selama 2 hari dan pada hari ketiga akan dilakukan breaving oleh staf yang dipercayakan sesuai dengan topik yang dilihat penting. Namun pada bulan Februari ini, evaluasi dilakukan selama lima (5) hari, sebab selain dilakukan evaluasi para kru WTM juga harus mempersiapkan tempat Puskolap Jiro-Jaro terutama membenahi beberapa hal penting di sana. Malah yang paling urgen adalah menyelesaikan pembangunan Aula Jiro - Jaro yang sempat tertunda karena kondisi kesibukan internal. Kegiatan evaluasi bulan Februari dipimpin oleh Herry Naif (Koordinator Program CEPF) yang dihadiri oleh para staf baik dari program Misereor dan CEPF (28/02-3/03).

Kendatipun demikian, semangat dan senyum terus menemani para kru WTM. Malah, menurut Marianus Mayolis dan Yan salah satu staf baru yang sedang bertugas mendampingi petani di wilayah Kecamatan Tanawawo mengatakan bahwa kegiatan ini dimaknai dalam bingkai proses pembelajaran yang akan memberi nilai kematangan. Selain itu adalah wujud solidaritas diantara teman-teman kru WTM.

Dalam evaluasi itu ada beberapa agenda yang dibahas adalah (1) pelaksanaan kegiatan oleh setiap staf (2) Evaluasi Green Valentine's Day (3) Pemantapan persiapan pertemuan Misereor dengan Mitra di Puskolap Jiro-Jaro. (4) Perencanaan Kegiatan bulan Maret. Keempat agenda ini menjadi bahasan yang menarik dan diskusikan oleh kru.

Para fasilitator lapangan wilayah Timur (Mapitara) banyak menyinggung soal penyelamatan kawasan ekologi di kawasan Egon. Bukan saja mendorong pertanian berkelanjutan tetapi warga Mapitara diajak untuk berpartisipasi dalam penyelamatan mata air. Dalam bahasan itu para staf masih mengangkat soal penghijauan yang tertunda. Mendengar itu, Ernest dengan ceplos menyatakan itu adalah penghijauan susulan. semua staf yang lagi serius itu, seakan kaget dan menertawakan karena ada penghijauan susulan.

Sedangkan hal yang sama juga terjadi di wilayah program Misereor yangmana ada penghijauan sporadis yang dilakukan di beberapa titik mata air seperti di Woloboa dan Koro (desa Rero Roja), selain adanya beberapa praktek pembutan pupuk dan pestisida organik yang difasilitasi oleh kader tani.

Sedangkan mengenai kegiatan Green Valentines day, lebih disoroti soal koordinasi para pihak yang terlibat, dimana belum secara efektif karena interval waktu yang sangat dekat antara konsolidasi dan pelaksanaan kegiatan. Malah diperparah karena beberapa hari di wilayah ini mengalami angin kencang yang kemudian menyibukan para pihak juga melakukan pemulihan lokasi. Persiapan mitra direspon dengan dingin saja karena hingga hari ini pembangunan aula jiro jaro belum usai. Persiapan lainnya dinyatakan hampir selesai.

Dalam perencanaan bulan Maret, ada dua agenda kegiatan yang akan dilakukan oleh CEPF adalah penyusunan legal draft Perdes PSDA di desa Natakoli, Hale, Hebing dan Egon Gahar. Lebih dari itu akan dilakukan Workshop Pengelolaan Sumber Daya Alam dengan para pihak yang akan melibatkan beberapa pihak terutama instansi yang punya keterkaitan dengan isu Pengelolaan Sumber Daya Alam (PSDA). (TIM - KN)

Selasa, 07 Februari 2017

DOBO NUAPU'U-WOLOBOA DILANDA ANGIN KENCANG/PUTING BELIUNG

Dobo Nuapu'u, KN. Hampir seminggu, wilayah kabupaten Sikka mengalami hujan dan angin. Pohon-pohon tumbang, Rumah-rumah ada yang roboh, Tanaman-tanaman di kebun petani entah tanaman pangan dan komoditi banyak yang tumbang.

Bencana ini pun dialami di desa Dobo Nuapu'u, Kecamatan Mego, Kabupaten Sikka. Menurut pengakuan Thomas Didimus (Kader Tani) di Woloboa yang ditemui mengatakan bahwa angin mulai kencang pada hari senin, 7 Februari 2016, pukul 10 pagi. Pada hari selasa, (09/2) pada jam 11, angin malah bertambah kencang (puting beliung). ujarnya.

Akibat angin kencang tersebut banyak tanaman yang rusak seperti padi jagung yang sementara berbunga. Selain itu tanaman kakao, kemiri, mangga dan pohon-pohon banyak yang tumbang baik di kebun, di jalan maupun di sekitar perumahan.Sebagian besar pohon dan cabang-cabang pohon jatuh di atas atap rumah warga sehingga mengakibatkan atap rumah rusak parah.

Yang paling parah akibat angin kencang kemarin,ada 28 rumah rusak parah dimana atap seng dan badan rumah sebelah atas terangkat/dibawa oleh angin. Selain itu puluhan rumah bagian belakang/dapur habis terbawa oleh angin.

Selain itu, jalur jalan desa dari Dobo Nuapu'u menuju desa Nerangkliung (Kecamatan Nita) rusak parah sehingga menggangu transportasi. Badan jalan penuh dengan pepohonan yang tumbang, ranting-ranting kayu, daun-daunan sehingga menutup badan jalan akibatnya tidak ada motor dan mobil yang bisa melintasi jalan tersebut.

Di samping itu beberapa tiang listrik tumbang, kabel-kabel putus sehingga diprediksi untuk beberapa hari ke depan listrik akan padam.

Sergius Solo, Kepala Desa Dobo Nuapuu, saat ditemui mengungkapkan bahwa "angin kali ini terbesar selama beberapa tahun terakhir. Ini merupakan bencana terbesar yang dialami oleh masyarakat Dobo Nuapu'u setelah tigapuluhan tahun. Selain merusak beberapa rumah, jaringan listrik, tanaman-tanaman rusak habis baik itu tanaman semusim (padi,jagung) maupun tanaman perkebunan (pisang, kakao, kemiri,kelapa), ujarnya.

Sebagai respon pemerintah desa, pada hari Rabu (9/2) Sergius langsung turun ke setiap Dusun untuk melihat dan mendata kerusakan yang dialami masyarakat serta menghimbau semua warga untuk tidak keluar dari rumah dan berlindung di tempat yang aman sampai angin reda, ungkap Sergius. (AB)

Rabu, 07 Desember 2016

WTM LAKUKAN KURSUS BAHASA INGGRIS

Maumere, KN. Setiap lembaga tentunya berniat meningkatkan kapasitas individu ataupun kapasitas kelembagaan. Dari pengalaman yang dialami WTM sejak keberdiriannya, yang menjadi salah satu permasalahan yakni komunikasi dalam bahasa Inggris. Padahal banyak mitra yang ingin bekerja sama, tetapi dibutuhkan komunikasi dalam bahasa Inggris. Kursus ini akan dilakukan setiap hari Rabu dan Sabtu dalam seminggu, diharapkan akan membantu komunikasi kelembagaan dengan para mitra WTM.

Sadar akan fakta ini, Carolus Winfridus Keupung, Direktur WTM melihat bahwa pentingnya kursus bahasa Inggris perlu dilakukan kepada semua staf agar akan mempermuda komunikasi dengan pihak luar. Karena itu, WTM secara kelembagaan melakukan kursus bahasa Inggris yang diikuti oleh semua staf. Kursus ini difasilitasi oleh Pastor Breynard Peji, Rcj, di Kantor WTM, Jalan Wairklau Maumere.

Dalam pembukaan kursus itu, menurut Pater Brenard bahwa pada hari pertama ini saya ingin memetakan kemampuan berbahasa Inggris, agar kemudian saya bisa menyusun sebuah model dan materi kursus yang dibutuhkan WTM. Lebih dari itu, kita akan coba untuk melihat hal-hal apa saja yang paling penting. WTM yang banyak berhubungan dengan isu pertanian, maka (kosa kata) vocabulary yang difokuskan pada bidang kerja kawan-kawan, demikian pastor Filipina, yang sementara dipercaya sebagai pemimpin biara Rogasionis Indonesia yang berpusat di Maumere.

Sabtu, 03 Desember 2016

WTM LAKUKAN EVALUASI, MONITORING DAN BREAVING

Maumere, KN. Evaluasi dan perencanaan adalah sebuah rutinitas kelembagaan yang tersistem dalam kelembagaan. Bahwa setiap akhir bulan, tim kerja WTM bertemu untuk membicarakan tentang aktifitas sebulan dan membuat perencanaan sebagai panduan kerja dalam sebulan. Selain itu juga dilakukan breaving staf yang difasilitasi staf yang dipercayakan membawakan materi yang disepakati dalam pertemuan sebelumnya. Dengan demikian, kegiatan evaluasi, perencanaan dan breaving bulan November dilakukan di kantor WTM, yang dipimpin oleh Herry Naif (Koordinator Program). Pada pembukaan, para staf diajak untuk melihat dampak dari perkembangan aktifitas program yang dilakukan. Apabila kegiatan program yang dilakukan itu tidak memberi dampak positif kepada kelompok tani, maka kita tidak jauh berbeda dengan orang-orang yang selama ini dikritik, sinisnya.

Presentasi staf diawali oleh Mus Mulyadi (Fasilitator Lapangan) mensharingkan tentang aktifitas di desa Natakoli dan Wilayah Mego. Dalam presentasinya disinggung tentang proses advokasi yang dilakukan terutama tentang pendistribusian polibag dan ayam bagi anggota kelompok tani. Bahwa setiap petani dampingan berhak mendapatkan 550 polibag. Sedangkan ayam, didistribusikan 3 ekor per anggota kelompok. Dari proses ini, kemudian menimbulkan riak perdebatan karena pendistribusian ayam itu banyak yang mati sehingga mendapat banyak komplain dari kelompok tani yang sudah menerima ayam. Menanggapi permasalahan itu, Herry menjelaskan bahwa dalam kontrak kita jelas diatur bahwa ayam yang mati saat pendistribusian itu dan akan diganti oleh suplaier. Yang terpenting itu data jelas.

Kemudian, Gabrial Maryanto dan Marianus Mayolis yang juga fasilitator lapangan wilayah Mapitara mensharingkan aktifitas lapangan terutama soal studi pengelolaan sumber daya alam yang sedang dilakukan. Tentang penelitian ini, Yolis mengutarakan bahwa pengambilan data dengan kelompok tani di desa Hebing sudah dilakukan, sehingga siap dianalisa agar dipresentasikan agar bisa disempurnakan menjadi profil ekologi. Sedangkan Martinus Maju dan Maria Marta Muda yang biasa disapa Erryn mengutarakan tentang kegiatan lapangan di Wilayah Mego, Tanawawo dan Magepanda. Bahwa, kegiatan lapangan yang dilakukan disesuaikan dengan perencanaan kelompok tani. Martinus mengungkapkan tentang kegiatan pengelolaan hasil Kibi dan kopi di wilayah Bu Selatan.

Bukan hanya staf lapangan, bagian keuangan Misserior (Getrudis Dari) menjelaskan tentang keuangan program dan kelembagaan. Udis mengatakan bahwa hingga hari ini keuangan program Misserior masih pada taraf normal, sedangkan keuangan kelembagaan pun masih normal hanya saja harus diatur agar penggunaannya efektif dan efisien. Sedangkan Ernesita Dua Sina (keuangan CEPF) pun menyampaikan tentang sistem keuangan yang dibangun selama ini. Pada kesempatan itu juga Ernest menyampaikan agar penggunaan uang harus didukung dengan alat-alat bukti agar tidak mengalami permasalahan dalam pelaporan. Prinsipnya uang yang dipakai harus dibuktikan dengan kuitansi dan beberapa administrasi pendukung. Aleks Bambang, Koodinator Advokasi pertanian mengungkapkan tentang aktifitas yang dilakukan baik di kantor maupun di lapangan. Bahwa perannya belum efektif di lapangan karena harus ada pembenahan data base di sekretariat.

Begitupun Wihelmus Woda, mensharingkan tentang advokasi pengelolaan Hutan Kemasyarakatan (HKm) yang mengalami kelambatan karena hingga hari ini belum ada RK-HKm (Rencana Kerja Hutan Kemasyarakatan). Dari beberapa penemuan diduga kuat bahwa permasalahan lambatnya pengelolaan HKm bukan hanya akibat perubahan kebijakan dimana kewenangan pengelolaan Hutan diambilalih oleh Pemerintan Provinsi tetapi juga disebabkan oleh konsolidasi para pemegang Ijin Usaha Pengelolaan HKm yang masih rendah.

Menanggapi permasalahan tersebut, Herry Naif (Koordinator Program CEPF) mengemukakan bahwa harus ada konsolidasi lapangan bila perlu ada reorganisasi dan restrukturisasi agar proses itu bisa berjalan. Bila tidak advokasi HKm hanya berada di tempat. Setelah dua hari dilakukan evaluasi staf dilanjutkan dengan perencanaan bulanan dari setiap staf, sebagai pedoman aktifitas. Sedangkan pada hari Rabu, 30 November dilakukan breaving staf yang difokuskan pada budidaya ternak ayam yang difasilitasi oleh Maria Marta Muda. Pada diskusi ini, Marta mengutarakan tentang beberapa hal penting yang harus diperhatikan diantaranya: model kandang yang perlu dibangun, dan pengendalian penyakit yang perlu dibangun sejak dini. Menurut Erryn sejauh pengalamannya di Magepanda bahwa pengendalian penyakit dengan potensi lokal seperti: biji pepaya, batu merah, kotoran kambing, daun sawo itu cukup efektif. Ada beberapa anggota kelompok tani yang ayam piaraannya bebas dari serangan tetelo.

Karen itu, saya menegaskan bahwa para kelompok tani harus memanfaatkan potensi lokal yang dimiliki agar tidak bergantung pada bahan yang didatangkan dari luar, apalagi dengan menggunakan zat kimia, ujar putri nagi.

Menutup acara evaluasi staf dan breaving, Carolus Winfridus Keupang menegaskan bahwa setiap staf harus lebih serius dalam mendorong perubahan di tingkat petani agar tercapai dampak positif dari dampingan kita. Bila tidak, WTM tidak berbeda dengan PPL yang datang senin kamis. Saya berharap bahwa staf lapangan harus berada bersama petani setiap waktu, dan hendaknya mengunjungi kebun petani untuk melihat secara langsung apa yang terjadi di kebun petani. Bahwa kita harus memiliki pengetahuan yang riil soal kondisi kebun petani, ujar Win. (Tim - KN)

Rabu, 09 November 2016

CPEF dan Burung Indonesia Monitoring Program WTM

Maumere, KN. Kerja sama Wahana Tani Mandiri (WTM) dengan Critycal Ecosystem Parthnersip Fund (CEPF) dalam program “Improving Ecosystm Manajemen and Livehoods around Mountion Egon In Floses – Indonesia” yang telah berlangsung enam (6) bulan. Kegiatan ini dihadiri oleh Skylar (CEPF), Adi Widiyanto, Tiburtius Hani (Burung Indonesia), Winfridus Keupung (Direktur WTM) dan semua Fasilitator Lapangan dan Kantor, Jln Wairklau Maumere (8/11/16).

Kegiatan ini difasilitasi dalam bahasa Inggris oleh Herry Naif (Koordinator Program) itu mengutarakan soal pelaksanaan program entah itu tentang kesuksesan yang dicapai sesuai target program dan tantangan atau kendala yang dialami dalam program. Dalam presentasi itu, Herry menyinggung bahwa program yang dilaksakan di Wilayah Mapitara ini mengalami dinamika pelaksanaan yang luar biasa. Bahwa ada sebuah pola pertanian yang ditawarkan WTM dimana sistem pertanian terpadu (selaras alam).

Model pertanian menjadi pilihan alternatif ketika banyak petani mengembangkan pertanian kimiawi. WTM secara serius mendorong pertanian yang bernuansa konservasi. Berbabagai aktifitas yang telah dilakukan adalah pembentukan kelompok tani, rekruitman dan seleksi kader, Diskusi perencanaan dan permasalahan pengelolaan pertanian, kunjungan sumber mata air, pembuatan kandang, vaksin ayam, pembibitan tanaman umur panjang (Kakao, Pala dan Cengkeh), pembibitan tanaman sumber mata air, kunjungan kebun dan berbagai aktifitas lain, ujar Herry.

Dalam presentasi itu, Skylar (CEPF) mempertanyakan tentang perbedaan data base jumlah sumber mata air yang ada dalam penulisan awal dengan yang sekarang, dan kondisinya juga berbeda. Menjawabinya, Winfridus Keupung mengatakan bahwa perbedaan itu terjadi setelah dilakukann indentifikasi dan penelusuran kondisi mata air yang ada. Benar bahwa yang ditulis itu 8 sumber mata air tetapi setelah ditelusuri secara faktual, padahal di Wilayah kecamatan Mapitara ada 36 sumber mata air, dengan kondisi stabil dan kurang. Sampai hari ini belum ada yang kering. Tetapi kondisi ini tidak berarti bahwa kita membiarkannya tetapi proses konservasi harus dilakukan.

Sedangkan Mengenai perkembangan pelaksanaan Hutan Kemasyarakatan (HKM) Mapi Detun Tara Gahar sudah diperoleh sejak bulan Oktober 2013 tetapi hingga hari ini belum dilakukan karena, pertama. Miskomunikasi yang terjadi antara pemegang Ijin Usaha Pengelolaan (IUP) HKM dengan Dinas Kehutanan Propinsi. Bahwa IUP sudah ada, tetapi belum ada RKHKMnya. Kedua, perubahan kewenangan yang sebelumnya menjadi kewenangan pemerintah kota/kabupaten, saat ini menjadi diambil alih oleh pemerintah provinsi, seperti yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang pemerintah daerah. Kondisi ini mestinya mendorong para pihak agar mempercepat proses pelaksaan IUP HKM tersebut, sambil menunggu IUP HKM untuk Desa Hale dan Hebing, demikian ungkap Win Keupung.

Setelah pertemuan di kampung dengan melihat beberapa data administratif dilakukan kunjungan lapangan ke Desa Egon Gahar oleh Tim CEPF, Burung Indonesia dan WTM. Disana pula dibahas tentang kondisi perkembangan HKM yang belum dijalankan. Menurut Yulianus, kami pemdes akan siap membantu untuk mempercepat pelaksaan HKM di sini. Kami berharap bahwa keterlibatan WTM dalam advokasi ini akan mendorong percepatan pelaksanaan HKM Mapi Detun Tara Gahar, ungkapnya.

Minggu, 09 Oktober 2016

SELEKSI DAN REKRUITMEN KADER TANI

1. LATAR BELAKANG

Secara kelembagaan WTM telah memilih petani dan kepentingannya sebagai pilihan advokasi baik dalam kebijakan maupun secara teknis pertanian. Berbagai pengalaman bersama petani telah menjadi pembelajaran menarik untuk disimak. Dalam menjalankan berbagai aktifitas lembaga dan program di tingkat lokal maupun regional, kader tani menjadi andalan WTM. Kader tani dipandangnya sebagai agen perubahan (agen of change) di tingkat desa.

Bagi yang belum mengenal apa peran dari kader WTM sering tidak mempercayai gagasan itu. Tetapi berdasar pada beberapa fakta yang dialami WTM selama ini, kader tani menjadi sebuah kelompok penting yang perlu dibentuk demi menjadi kekuatan pengimbang di kampung ataupun di regional. Kader tani dilihat sebagai community organizer (CO) yang terus bergerak dalam melakukan advokasi-advokasi kebijakan yang berpihak pada rakyat (petani) dan Community Development (CD) sebagai upaya mendorong pengembangan ekonomi rakyat terutama dalam memanfaatkan potensi lokal dalam membangun kualitas hidup yang layak.

Perpaduan kedua gagasan ini akan membawa dinamika kelompok tani dan wilayah setempat. Tidak heran, bila kader tani menjadi salah satu kelompok di lapangan yang akan membantu kerja-kerja advokasi dan teknis-teknis pertanian. Karena itu, seleksi dan rekruitmen yang kemudian diperkuat dengan adanya capacity building yang dilakukan lembaga terhadap kader tani dalam meningkatkan kemampuan teknis pertanian dan kemampuan lainnya agar membantu mengimplementasikan program-program yang dicanangkan WTM.

Kader tani yang diseleksi dan dikapasitasi tersebut diyakini mampu mengimplementasikan program-program yang dijalankan. Tanpa pengkapasitasan bagi kader tani maka pelaksanaan program tidak maksimal dilakukan di lapangan. Sebab itu menjadi satu kesatuan yang integral dengan program yang dijalankan lembaga dan menjadi nilai lebih yang akan meningkatkan barganing position.

2. KADER TANI

2.1. SIAPA ITU KADER TANI
Kader Tani adalah seorang petani yang kesehariannya melakukan kerja usaha tani seperti yang dilakukan petani lainnya. Kader tani adalah konsolidator sekaligus fasilitator. Artinya bahwa kader tani akan membawahi beberapa kelompok tani di suatu wilayah kemudian mengkonsolidasinya dengan Wahana Tani Mandiri. Kader tani dituntut harus memiliki kemampuan lebih dari petani lainnya, agar ia dipercayai para petani dan bila perlu ia adalah tauladan dan panutan bagi petani lainnya. Prinsipnya, kader tani memiliki kemampuan intelektual, emosional yang mendukung serta memiliki semangat keberpihakan kepada kelompoknya. Beberapa fungsi dan kriteria mejadi kader tani, adalah:

a) Sebagai Pemimpin Gerakan Petani dan Kelompok

Kader Tani berperan sebagai pemimpin gerakan petani dan kelompok tani serta pembina kelompok tani, maka harus: • Berkomunikasi yang baik;

• Merumuskan pendapat dan keinginan serta aspirasi dari para anggota kelompoknya; • Mengambil keputusan secara tepat, cepat dan bijaksana;

• Menjabarkan tujuan yang akan dicapai oleh petani dan kelompok tani dalam kegiatan-kegiatan;

• Mengkoordinasi dan mengawasi pelaksanaan kegiatan-kegiatan dengan kesepakatan kelompok;

• Mengkoordinasikan dan mengawasi pelaksanaan kegiatan-kegiatan yang dilakukan, yang berhubungan dengan kepentingan petani;

• Menjadikan dirinya sebagai teladan bagi para anggota kelompoknya.

b) Sebagai Simpul dalam Pembelajaran Bersama

• Menggali dan merumuskan keperluan belajar petani dan kelompok;

• Mengatur agar proses belajar baik antara petani dalam wilayah desa maupun ke wilayah lain dapat berjalan dengan baik; • Menumbuhkan motivasi untuk belajar petani dan anggota kelompok;

• Memfasilitasi manajemen organisasi tani agar dapat berkembang baik;

• Memahami keinginan, pendapat maupun masalah yang dihadapi petani dan anggota kelompok.

c) Sebagai Penggagas Organisasi Pengembangan Pertanian Untuk berperan sebagai penggagas pengembangan pertanian, pembinaan kader tani diarahkan untuk memiliki kemampuan dalam; • kelola kelompok tani; • Menganalisa kemungkinan perkembangan kemajuan di masa yang akan datang dan berani menerapkan inovasi baru dengan resiko sendiri; • Melakukan terobosan dengan memanfaatkan semua potensi sumber daya pertanian, baik yang ada di dalam maupun dari luar kelompoknya untuk kepentingan kesejahteraan para anggota kelompoknya.

d) Sebagai Mitra Kerja Stacholder Pertanian di Desa

Untuk dapat berperan sebagai mitra kerja stacholder petani, pembinaan kader tani diarahkan untuk memiliki kemampuan dalam: • Berkomunikasi melalui berbagai media penyampaian informasi;

• Menjadi penghubung antara pemerintah dengan petani dalam kegiatan pembangunan pertanian, meliputi aspek perencanaan, pelaksaan dan evaluasi; • Memahami kebijakan pemerintah dan pembangunan pertanian, meliputi aspek perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi;

• Menyusun rencana kerja kelompok yang disesuaikan dengan kepentingan petani disesuaikan dengan kelender musim serta kepentingan nasional.

2.2. PENTINGNYA KADER TANI DALAM PROGRAM

Program Penigkatan Pendapatan Masyarakat dalam Mendukung Manajemen Ekosistem Berkelanjutan di Kawasan Egon merupakan sebuah program kerja sama antara Wahana Tani Mandiri dengan Critycal Ecosystem Partnership Fund (CEPF) yang akan dilaksanakan selama 2 tahun (Mei 2016 – April 2018). Salah satu tujuan program adalah peningkatan pengelolaan kawasan Egon Ili Medo yang diukur dengan: Pertama: 280 Ha hutan yang rusak dipulihkan. Kedua, Debit air dari 8 Sumber mata air meningkat dan ketiga, Masyarakat 4 Desa yang tinggal dalam kawasan mengalami pengingkatan kualitas hidup. Bila dilihat dari beberapa tujuan program dimaksud, secara sederhana disimpulkan bahwa program ini lebih diarahkan pada proses pemulihan dan penyelamatan ekologi kawasan Egon Ilimedo melalui pengelolaan pertanian. Berasas pada tujuan program tersebut, ada beberapa aktifitas telah dirancang untuk memenuhi tujuan program tersebut. Mengawali program tersebut, WTM mendiskusikannya secara kelembagaan dan kemudian ditugaskan tim untuk melakukan tugas pembentukan kelompok tani dan struktur organisasi yang telah dibentuk dan sedang berjalan agar dipastikan pelaksanaan program. Setelah dilakukan pembenahan organisasi tani, didorong agar adanya petani yang didoorong menjadi kader tani dalam implementasi program yang perlu mengetahui tentang implementasi program. Tidak menafikan peran kader tani, WTM bertanggung jawab dalam memperbaiki kualitas kader baik secara teknis pertanian dan kemampuan dirinya sebagai fasilitator dan konsolidator lapangan.

3. SISTEM PEREKRUTAN KADER TANI
Sesuai dengan apa peran kader tani dalam mencapai tujuan program WTM melakukan sistem perekrutan agar para kader yang terpilih adalah orang-orang yang kredibel. Lebih dari itu juga memiliki kapasitas diri yang dapat mendukung pengimplementasian program di di lapangan. Untuk itu, dilakukan sosialiasi program kepada kelompok sasar yang akan menjadi penerima project (partisipan). Kunjungan ini dipimpin oleh Kristofus Gregorius (Koordinator Pertanian) bersama Will (Koordinator Advokasi dan Pengelolaan Lingkungan) serta 3 Fasilitator Lapangan yakni; Gabriel Maryanto, Marianus Yolis dan Mus Mulyadi). Untuk itu sejak tanggal 3 – 7 Mei 2016, Tim WTM melakukan pertemuan dengan pemerintahan desa di Mapitara, diantaranya: Pemerintah Desa Hebing, Pemerintah Desa Nata Koli, Hale dan Egon Gahar. Selain dilakukan pertemuan dengan beberapa pemerintah desa, Tim WTM juga melakukan pertemuan dengan beberapa kelompok tani sekaligus sebagai wujud sosialisasi program. Wilayah Mapitara bukanlah sebuah wilayah baru bagi Wahana Tani Mandiri. Tidak ada masalah yang signifikan muncul, karena itu semua berjalan lancar seperti yang diharapkan. Dari beberapa aktifitas yang dilakukan Tim WTM bersama Pemerintah Desa dan Masyarakat Mapitara, ada beberapa hal yang ditemukan. Dari hasil pertemuan kampung di kelompok tani direkomendasikan 20 orang sebagai kader (Lih. Tabel 1).

Tabel. 1. Data Kader Tani Kec. Mapitara NO NAMA JENIS KELAMIN WILAYAH KELOMPOK TANI HALE 1 Robertus Sadi Nong Heri Marten L Glak Da’an Dadin 2 Gervasius Alfred L Glak Gading Pani 3 Antonius Tesen L Glak Ru Reo 4 Maria Kasmin P Natar Mage Natar Mage 5 Albertus Ruben L Napun Kontas HKM Napun Kontas EGON GAHAR 6 Bernadus Gete L Welin Watu HKm 2 7 Anselmus Gogu L Lere Lero Bekor 1 8 Masias Merimo L Lere HKM 1 9 Yonisius Suli Soge L Baokrenget HKM 4 10 Romanus Gleko L Baokrenget HKM 3 HEBING 11 Hermanus Peong L Hebing Ru Laling 12 Margaretha Oktaviana P Hebing Cinta Sesama 13 Ambrosius Nong Bona L Watubaler Gawer Gahar 14 Servasiun Nong Epi L Hebing Watuwawit 15 Maksesius Edison L Galit Watu Kogang NATAKOLI 16 Kristina Kris P Umatawu Kojawair 17 Firginus L Umatawu Popo Wolot 18 Rikardus Soge Laka L Wolomotong Tukeler 19 Ferdinandus Hedung L Wolomotong Bola Wair 20 Ignasius Irianto L Natakoli Namang Hebar Sumber: Dok. Wahana Tani Mandiri (WTM), Mei 2016 Para kader yang merupakan utusan dari setiap kelompok yang diseleksi agar kemudian WTM secara kelembagaan bertanggung jawab meningkatkan kapasitas mereka. Dalam kepentingan itu, Wahana Tani Mandiri kemudian sebagai langka awal program, maka seluruh komponen dikonsolidasi di lapangan dan kapasitas beberapa komponen juga perlu ditingkatkan. Para kader yang telah teridentifikasi di lapangan itu diundang untuk dikapasitasi sesuai kebutuhan program yang telah disepakati antara WTM dan CEPF. Secara kelembagaan kemudian melihat bahwa dua pelatihan yang penting diberikan di awal kegiatan adalah Pelatihan untuk Pelatih (Traing of Trainer) dan Pelatihan Konservasi Tanah dan Air. Kedua pelatihan ini diberikan pada awal program, yakni tanggal 6 – 11 Juni. Keduapuluh orang ini diundang dalam rangka kapasitasi diri para kader dalam persiapan penerapan program lapangan. Dari dua pelatihan ini kemudian dihadiri oleh 15 kader yang hadir (Lihat Tabel 2. )

Tabel 2. Data Kader Tani yang hadir dalam Peningkatan Kapasitas Petani, (Periode Pertama) NO NAMA JENIS KELAMIN TEMPAT TANGGAL LAHIR ASAL KAMPUNG KELOMPOK TANI HEBING 1 MARGARETA OKTAVIANA N. H. P HEBING, 21 OKTOBER 1979 HEBING CINTA SESAMA 2 MAKSENSIUS EDISON L GALIT, 14 JANUARI 1978 HEBING 3 HERMENUS PEONG L HEBING, 12 SEPTEMBER 1967 HEBING RULALING EGON GAHAR 4 MESIAS MERIMO L LERE, 1 OKTOBER 1982 LERE 5 ANSELMUS GOGU L LERE, 17 AGUSTUS 1970 KLOANGBOLAT LERO BEKOR 1 6 YONISIUS SULI SOGE L MAUMERE, 20 APRIL 1992 BAOKRENGET 7 ROMANUS GLEKO L LERE, 21 DESEMBER 1981 BAOKRENGET NATAKOLI 8 IGNASIUS WARAT L BORA, 4 FEBRUARI 1974 UMATAWU 9 KRISTINA KRIS P UMATAWU, 28 AGUST. 1973 UMATAWU 10 IGNASIUS IRIANTO L NATAKOLI, 2 NOVEMBER 1970 NATAKOLI NAMANG HEBAR HALE 11 GERVASIUS ALFRED L GLAK, 30 AGUSTUS 1983 GLAK 12 ROBERTUS SADI NONG HERI L GLAK, 10 NOVEMBER 1984 GLAK 13 ALBERTUS RUBEN L HALE, 18 DESEMBER 1980 NAPUN KONTAS NAPUN KONTAS 14 MARIA KASMIN P HALE, 24 DESEMBER 1979 NATAR MAGE WATUWOLOD 15 ANTONIUS TEYSSEN L GLAK, 5 AGUSTUS 1972 GLAK Sumber: Dok. Wahana Tani Mandiri (WTM), Juni 2016 Realitas kehadiran tidak mencapai apa yang ditargetkan karena berbagai alasan yang dialami kader, yakni ada yang sakit di rumah sakit, ada yang keluarganya meninggal. WTM kemudian memaknai ini sebagai dinamika organisasi tetapi bukan berarti bahwa kader yang tidak hadir adalah sebuah keputusan final agar tidak menjadinya sebagai kader tani.

4. KESIMPULAN

Prinsipnya, peran kader dibutuhkan sebagai bentuk kaderisasi petani yang berkualitas dalam kemampuan teknis dan advokasi yang mana akan mendukung pertanian organik dan penyelamatan ekologi di akhir program. Sejauh pengalaman bahwa bila para pelaku program itu diambil dari luar kampung akan tidak memberi nilai kontiniutas konsep program. Tetapi peran kader tani akan berkontribusi positif pada pascah projek yang mana mereka menjadi kelompok yang dapat mengkampanyekan nilai-nilai program yang ingin dicapai. Selain itu, bahwa kader tani dapat mempengaruhi kebijakan pemerintah lokal agar berpihak pada kepentingan petani di tingkat lokal

<marquee>WTM LAKUKAN VAKSIN AYAM DI 3 KELOMPOK TANI DI EGON GAHAR</marquee>

Ansel Gogu (Kader Tani WTM) sedang Vaksin ayam anggota Kel. Tani Egon Gahar, KN , Dalam rangka mendorong sebuah pola budi daya ternak t...