Tampilkan postingan dengan label Info Teknis Usaha Tani. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Info Teknis Usaha Tani. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 Oktober 2017

WTM Vaksin 300-an Ayam di Dua Kelompok Tani, Desa Hebing

Marianus Mayolis vaksin Ayam di Watukogang, Hebing
Maumere KN, Sebagai upaya mendukung budi daya ternak yang dilakukan para petani dampingan, yang terorganisir dalam kelompok tani itu dengan melakukan vaksinasi secara periodik. Vaksin ayam dilakukan Marianus Mayolis (Fasilitator Lapangan) didampingi Herry Naif (Koordinator Program) di dua kelompk tani yakni kelompok tani Watu Kogang dan Kelompok Tani Kasih Setia, desa Hebing, Kecamatan Mapitara, (24/10).

Vaksinasi periodik ini menjadi salah satu kegiatan pendampingan WTM dalam kerja samanya dengan Burung Indonesia dan Crytical Ecosystem Partnership Fund (CEPF).

Kegiatan vaksin ini dilakukan dengan pola kunjungan kandang yang mana setiap anggota kelompok menyiapkan ayam yang hendak divaksin dan vaksinatornya mengunjugi setiap anggota kelompok. 

Menurut Marianus Mayolis, bahwa dari pantauan lapangan, ditemukan bahwa sekarang beberapa anggota kelompok ada yang memiki ayam sampai limapuluhan ekor. Artinya bahwa ternak ayam juga menjadi satu pilihan alternatif yang bisa dipilih petani dalam mendukung dan meningkatkan pendapatan petani. 

Sisilia, salah satu anggota kelompok tani kasih setia mengungkapkan bahwa tahun ini ayam-ayamnya yang berjumlah limapuluhan ekor  itu tidak terjangkit penyakit ayam karena dampak dari vaksin. Karena itu kami berterima kasih kepada WTM yang membantu kami petani. Kami berharap supaya binatang lain juga divaksin seperti babi dan kambing. 

Sedangkan, Theresia Fausta (ketua kelompok tani kasih setia) menambahkan bahwa vaksinasi ini punya dampak positif yang mana ayam-ayam pemeliharaan anggota tidak terjangkit penyakit sehingga tahun ini kami masih bisa jual ayam. Seminggu yang lalu, saya mendapatkan satu juta lebih dari hasil jual ayam. Dan bila ini kami serius mengurus ayam tentunya kami bisa membantu memenuhi kebutuhan seharian kami. 

Selasa, 20 Juni 2017

KUNJUNGAN KEBUN DAN PEMANGKASAN KAKAO DI KELOMPOK LERO BEKOR 1

KUNJUNGAN KEBUN DAN PEMANGKASAN KAKAO
KELOMPOK LERO BEKOR I, DUSUN LERE, DESA EGON GAHAR
(Catatan Lepas dari Lapangan)
Oleh: Yustinus Yanto


Kunjungan kebun merupakan kegiatan yang sangat penting, dimana kita dapat melihat secara langsung tentang kondisi topografi, jenis tanaman yang ditanam, dan bagaimna cara pengelolaan kebun yang dilakukann petani. Kunjungan ini juga dimaksud agar fasilitator ingin mengetahui secara pasti desain pasti dari sebuah kebun petani yang kemudian menjadi referensi dalam peningkatan kapasitas yang akan dilakukan baik di kelompok maupun dalam forum-forum wilayah.
Karena itu, pada hari senin, 19 Juni 2017 Fasilitator Lapangan WTM - CEPF, wilayah Egon Gahar (Yustinus Yanto) bersama Anselmus Gogu (Ketua Kelompok Lero Bekor 1) dan beberapa anggota kelompok. 
Dalam kunjungan itu, rombongan belajar dari kelompok tani tersebut sempat berkeliling ke semua kebun milik anggota kelompok Lero Bekor I. Disana ditemukan bahwa masih banyak pengelolaan pertaniannya secara tradisional dan banyak kebun secara topografi kebanyakan agak miring dan sebagian datar. 
Sedangkan jenis tanaman yang ditanam mulai tanaman pangan seperti padi, jagung, kacang-kacangan selain itu juga ditanam degan tanaman kakao, kemiri,kopi, cengkeh sebagai komoditi perdagangan mereka untuk menambah pendapatan keluarga.
Namun secara pengelolaan yang ada para petani terkhusus kelompok Lero Bekor I model pengelolaan pertaniannya seudah mulai berubah sehingga hasil yang dicapai cukup untuk penemuhan kebutuhan keluarga mereka, selain itu juga untuk membiayai anak sekolah.
Terkhusus tanaman perdagangan, seperti kakao memang secara populasi usaha mereka  cukup banyak hanya masih ada kekurangan yakni proses perawatan dalam hal pemangkasan  tanaman kakao ini masih kurang di perhatikan oleh petani sehingga saya mengajak mereka untuk semangat utnuk melakukan pemangkasan kakao dari kebun kebun milik anggota kelompok Lero Bekor I. 
Dalam pemangkasan kakao ini kami lebih utamakan tunas baru, batang yang  saling bertendesan, buah yang kering maupun buah yang tidak  sehat. Kenapa harus tanaman kakao harus selalu di pangkas  seperti yang tersebut diatas supaya kakao bisa meningkatkan produksinya tingggi dan peredaran udara cecara lancar  yang nantinya proses fotosintesis juga berjalan dengan baik.
Selain itu kami juga memperhatikan kondisi lingkungan kebun dimana rumput-rumput dan dedaunan di bersihkan.
Memang petani sangat terdorong apabila kita memberikan pelatihan tentang proses perawatan tanaman yang baik dan benar kerena selama ini petani hanya berbekal pada pengalaman mereka dan mungkin juga pengalaman yang sudah menjadi turun menurun dari nenek moyang sehingga kita tau hasil tanaman yang diusahakan kadang produksinya meningkat dan kadang menurun. 
Dengan kahadiran lembaga WTM untuk mendampingi mereka dan mereka pun merasa terdorong dan semangat dimana mereka medapat ilmu-ilmu pertanian sehingga menjadi bekal mereka.




Jumat, 06 Januari 2017

WTM LAKUKAN PELATIHAN PUPUK CAIR DAN PESTISIDA ORGANIK

WTM LAKUKAN PELATIHAN PUPUK CAIR DAN PESTISIDA ORGANIK
Kegiatan pelatihan pembuatan Pupuk dan Pestisida Organik untuk 5 kelompok (Winiroja, Tipopama, KWT Gaemuri, Mamorua dan Sa Ate) yang diselenggarakan oleh Pemerintah Desa (Pemdes) Reroja bertempat di Aula kantor desa, pada hari Selasa tgl 3 January 2017. Peserta kegiatan ini berjumlah limapuluhan warga. Turut hadir dalam kegiatan itu adalah Kepala desa, Ketua BPD, kepala dusun, kader tani, Fasilitator Lapangan, Kordinator Advokasi penelitian dan pengolahan hasil, Kordinator Pertanian dari WTM.

Sebelum dilakukan presentasi materi, kegiatan pelatihan dibuka Kepala Desa Reroja (Bernadus Benhar Kelan). Dalam sambutannya, Benhar mengatakan bahwa Pihak desa sangat antusias terhadap kegiatan pelatihan PPO ini dan juga berterima kasih kepada WTM yang selalu mendampingi kelompok dalam hal usaha taninya.

Kegiatan ini bukan hanya pratek sesaat tetapi harus ada implementasi serta bukti keseriusan dari setiap peserta/kelompok untuk tetap secara rutin mebuat pupuk dan pestisida organik, tegas Behnar.

Kepala desa juga meminta kepada pihak WTM untuk tetap mendampingi kelompok tani serta tetap menjalin kerja sama dengan pemdes Reroja sehingga program pemberdayaan terhadap petani dapat berjalan dengan baik. Selain itu harapan dari desa bahwa WTM harus secara rutin dan berkelanjutan dalam mendampingi kelompok tani, sehingga ada dampak perubahan yang nyata di tingkat petani dari segi pengelolaan usaha tani sampai pada peningkatan pendapatan petani, pesannya.

Sedangkan menurut Petrus Woda, Ketua BPD Reroja mengungkapkan bahwa dengan mengurangi pemakaian pestisida kimia dan beralih ke pestida organik karena bahan mudah didapat dan mudah cara pembuatannya, pemanfaatan lahan yang maksimal. Lebih dari itu, Petu juga menegaskan bahwa lahan pertanian jangan dijual karena lahan ini untuk anak cucu kita di kemudian hari.

Selanjutnya Maria Martha Muda, koordinator advokasi penelitian dan pengolahan hasil WTM dalam program Misserior mengapresiasi pemerintah desa yang mulai mengakomodir kegiatan pelatihan pestisida organik, sebagai wujud keberpihakan pemdes kepada petani. Selain itu, kami melihat bahwa Pihak desa Reroja khususnya Kepala desa BPD sangat mendukung kegiatan yang didampingi WTM selama ini di desa reroja, ujarnya.

WTM melalui progam Kerja sama Missereor - WTM mengembangkan sistem pertanian berkelanjutan dengan pola usaha tani terpadu yang organik. Oleh karena itu, WTM bersama-sama dengan petani dampingan mengelola usaha tani melalui peningkatan pemakaian organik di lahan/sawah oleh kelompok tani, ungakap putri Nagi.

Hal yang sama disampaikan juga Dedy Alexander (Koordinator pertanian) bahwa kegiatan ini harus berlanjut sampai pada Rencana Tindak Lanjut (RTL) di setiap kelompok yang mengikuti pelatihan ini sehingga secara rutin diproduksi dan dimanfatkan di kebun petani berdasar pada perencanaan petani.

Alex juga mengucapkan terima kasih kepada pemerintan desa Reroja yang selalu siap mendukung kegiatan beberapa kelompok tani yang sedang didampingi WTM desa Reroja. Ke depan kita tetap menjalin kerja sama yang baik guna tercapainya tujuan bersama untuk meningkatkan kesejahteraan petani.

Setelah itu, Fransiskus Toki selaku kader tani yang memfasilitasi kegiatan tersebut dengan memberi materi singkat tentang pupuk dan pestisida organik. Materi dimulai dari pengertian pupuk dan pestisida, keunggulan, alat dan bahan, proses pembuatan, serta cara penggunaan.

Kemudian bersama kader mama Martha Avriana membagi peserta menjadi 2 kelompok kerja untuk proses pembuatan pestisida organik. Semua peserta antusias dengan menyiapkan bahan bahan yang diperlukan untuk pengolahan pestisida organik.

Beberapa alat dan bahan yang dipersiapkan untuk pembuatan pestida organik adalah Gentonng, parut, lesung/alu, pisau. Sedangkan bahan-bahan alami diantaranya: Ubi gadung, Kulit rita, kulit denu, kaliraga, tarung, koko, Moro, Neta, kusi, biji mahoni, daun nimba, daun karinu, daun pepaya, sambiloto, lombok, bawang merah dan bawang putih.

Setelah itu dilanjutkan dengan proses dan praktek pembuatannya yang difasilitasi oleh kader tani dan fasilitator lapangan.

Sabtu, 24 September 2016

TANAMKAN GOTONG ROYONG DALAM PEMBUATAN TERAS SERING

Mapitara – KN, Beberapa kelompok tani dampingan WTM dalam kerja samanya dengan CPEF di wilayah Mapitara seperti: kelompok Kaju Wair, Uma Tawu, Cinta Sesama dan Lero Bekor I menerapkan gotong royong dalam mempersiapkan kebun secara bergilir dalam kelompok. Dalam bahasa Sikka, gotong royong disebut Sako Seng. Kegiatan yang berlangsung Rabu (6-14) dihadiri oleh belasan anggota kelompok tani dan kader tani. Kegiatan ini difasilitasi oleh Kristoforus Gregorius (Koordinator Lapangan) dan Fasilitator Lapangan (Marianus Mayolis, Mus Mulyadi, Gabriel Maryanto). Kegiatan diawali dengan diskusi di setiap kelompok tentang konservasi tanah dan air, pada malamnya dan besoknya dilakukan demo pembuatan teras sering dengan menggunakan bingkai “A” yang difasilitasi oleh Kristoforus Gregorius (Koordinator Lapangan) dan Fasilitator Lapangan (Marianus Mayolis, Mus Mulyadi, Gabriel Maryanto). Menurut Kristo, tujuan pembuatan teras di kebun adalah untuk menjaga erosi dan mengembalikan kesuburan tanah. Selain itu juga, tanaman teras juga dapat dijadikan sebagai pupuk hijau dan pakan ternak. Para petani hendaknya melakukan penanaman jenis-jenis tanaman teras; seperti: kaliandra merah, kaliandra putih, lamtoro, gamal dan fleminqia. “Saya akan mengunjungi setiap anggota dan terlibat melakukan kerja bergilir sesuai dengan rencana kelompok,”ujar Kristo. Sedangkan, Mus Mulyadi menjelaskan bahwa sebelum memulai menanam, para petani terlebih dahulu melakukan penyebaran daun-daun hijau dan kotoran ternak; seperti kambing dan babi serta kotoran ayam sebagai pupuk dasar di kebun mereka. Lebih lanjut dikatakannya, pestisida organik dan pupuk organik adalah bahan alam yang tersedia di sekitar kebun petani. Untuk itu, hendaknya petani membuat dan menggunakan bahan organik tersebut (pestisida organik)untuk menyemprot tanaman sebelum diserang hama atau penyakit. Seyonya, petani sudah menyiapkannya pestisida organik sebelum kebun mereka ditanami tanaman. Cara-cara inilah yang dikembangkan Wahana Tani Mandiri (WTM) bersama para kelompok tani dampingan guna melestarikan kehidupan petani untuk mandiri dalam bekerja sebagai petani. (Tim KN)

Jumat, 22 Juli 2016

BUDIDAYA TANAMAN KAKAO

Maumere-KN;  Kelompok Tuke Laka ditunjuk oleh Pemerintah desa Korbhera sebagai side contoh pemeliharaan dan pengembangbiakan kambing di desa Korobhera, kecamatan Mego, Kabupaten Sikka. Untuk itu, kegiatan breaving budidaya ternak yang sekalian dipandang sebagai upaya penyeragaman persepsi dan model perawatan kambing.

Kegiatan Breaving ternak kambing dilakukan oleh Wahana Tani Mandiri (WTM) Magetake, Kamis, 4 Agustus  2016. Kegiatan ini difasilitasi oleh Alexander Bambang (Fasilitator Lapaganan Kec. Tanawawo). Dalam acara itu, aleks menguraikan pentingnya kandang, pakan ternak, kesehatan, dan pengembangbiakan.

Sebelum kegiatan ini para anggotan kelompok Tuke Laka yang beranggotakan 13 orang itu sudah melakukan pembuatan kandang kabing secara sederhana. Pembuatan nandang dianggap penting, sebab kambing akan terlindung dari panas dan hujan dan mudah dalam perawatan. Kandung dianjurkan berbentuk panggung, dan dilengkapi dengan tempat pakan dan minum serta tempat garam, tukas Alex.

Selain itu, dengan adanya kandang kambing akan mempermuda proses penjagaan kebersihan lingkungan dan kotoran kandang bisa mensuplai proses pertanian terutama dalam pemenuhan pupuk kandang.

Menurut Alex, bahwa pakan ternak yang perlu disiapkan perlu seimbang antara daun legum dengan daun-daunan yang berserat, supaya perkembangan kambing akan lebih sehat dan cepat. Apabila petani tidak memiliki pakan ternak dan hanya berharap dari hasil koleksi maka akan menyulitkan sebuah proses budidaya ternak kambing.

Dalam kesempatan itu, disepakati oleh para anggota kelompok Tuke laka di setiap kebun anggota harus menanam pakan ternak, misalnya gamal, kaliandra, turi dan berbagai tanaman legum lainnya.
Sedangkan dari sisi kesehatan kambing ditekankan, agar adanya pencegahan dini terhadap penyakit melalui kearifan-kearifan lokal yang selama ini dipraktekan petani seperti: kambing mencerat biasanya diberi larutan gula-garam, atau dikasih minum air laut. Bila kambing mengalami ganguan perut (perut kembung) sebaiknya rumput dan daun legum yang diberikan sebaiknya dilayukan sebelumnya, dan tidak memberikan daun muda pada kambing tersebut. Lebih dari itu juga kambing juga tidak digembalakan jangan terlalu pagi karena masih ada embun/basah rumputnya.  Pengobatan alternatif lainnya seperti: kambing diberi minum secangkir minyak kelapa.

Bila kambing menderita penyakit cacingan, kambing tersebut bisa diberi buah pinang yang ditumbuk halus dan dicampur dengan dengan nasi  hangat yang kepal.

Dari sisi perkembangbiakan kambing yang perlu diperhatikan adalah pemelihan bibit jantan dan betina  yang sehat dan yang sudah berumur kurang lebih 8-12 bulan. Dengan demikian kambing akan dalam waktu singkat dapat berproduksi. Sebab biasanya kambing dapat berproduksi dalam 8 bulan sekali, itu berarti induk bisa melahirkan setiap 8 bulan, yang mana dalam waktu 2 tahun kambing tersebut bisa 3 kali berproduksi, ujar aleks.


Diakhir acara, semua peserta kelihatan berbangga karena anggota kelompok sekali mendapatkan pemahaman yang mendalam tentang pengembangbiakan kambing. 

Senin, 13 Juni 2016

PESTISIDA ORGANIK DAN MANFAATNYA

Salah satu penyebab menurunnya mutu dan jumlah hasil panen kita adalah  serangan hama dan penyakit tanaman. Biasanya  hama dan penyaki tersebut  menyerang tanaman di kebun dan juga hasil panen yang disimpan di lumbung.
Untuk mengatasi hal ini, kita dapat melakukan pengendalian hama dan penyakit  dengan memanfaatkan bahan-bahan lokal di sekitar kita.
Imformasi berikut ini  merupakan  pengalaman WTM bersama petani dampingannya dalam melakukan pembuatan dan pengendalian hama penyakit dengan menggunakan  Pestisida Organik.

PENGERTIAN :
Pestisida Organik adalah sejenis obat pembasmi hama dan penyakit pada tanaman yang diramu atau dibuat dari bahan tanaman lokal yang ada disekitar kita.

KEUNGGULAN/KEUNTUNGAN:
  1. Bahan baku ramuan  mudah diperoleh karena  tersedia di kebun kita
  2. Lebih  murah, karena ramuannya dapat dibuat sendiri
  3. Tersedia setiap saat
  4. Aman, karena kadar racunnya dari bahan yang dapat diketahui

ALAT :
Alat yang digunakan adalah :
Parang, Pisau, Pemukul (Hamar/Batu) Parut, Lesung, Alu, Ember bak, Gentong,Terpal/Karung,Tali, Masker, Kaos Tangan.

 CARA  PEMBUATAN :
  1. Siapkan alat dan bahan pembuat pestisida organic pada tempat yang  telah disiapkan/ditentukan.
  2. Bahan yang berasal dari umbi dikupas kulitnya,yang berasal dari batang,akar,rimpang,kulit dibersihkan lalu dipotong kecil-kecl /dicincang atau dimemarkan dengan batu. Bahan yang asalnya dari daun-daun dibersihkan dari tangkainya lalu di cincang kemudian ditumbuk. Bahan-bahan tersebut ditaruh terpisah menurut jenisnya  pada wadah yang telah di siapkan..
  3. Umbi Gadung diparut  pada wadah yang  tidak bocor
  4. Bahan dari batang, akar, rimpang, kulit yang sudah disiapkan ditumbuk hingga halus atau di memarkan  sampai benar-benar halus
  5. Bahan dari daun-daun yang sudah di cincang, ditumbuk hingga halus lalu diperas ambil airnya.  Saat peras tidak boleh gunakan air  dalam jumlah yang banyak. Air hanya dapat digunakan sebagai pemancing saat lakukan pemerasan.
  6. Bawang merah, bawang putih, lombok  diulak hingga benar-benar halus.
  7. Masukan ubi gadung yang sudah diparut,air hasil perasan dari daun-daun kedalam ember bak/gentong yang disiapkan untuk adonan bahan-bahan tersebut.
  8. Masukan sedikit demi sedikt bahan-bahan tersebut menurut jenisnya kedalam bak adonan kemudian diaduk sampai merata.
  9. Ember bak/gentong berisi adonan tersebut,ditutup rapat dengan tutupannya atau bahan lain lalu diikat dengan tali.
  10. Simpanlah ember bak/gentong adonan tersebut pada tempat yang aman dari ancaman bahaya (Adonan tersebut beracun),selama 14 hari (2 minggu).
  11. Setelah 14 hari (2  minggu) rendaman tersebut dibuka untuk  diperas  ambil airnya dan disaring. Cairan tersebut  yang dinamakan Pestisida Organik.
  12. Cairan/pestisida organic dimasukan kedalam botol-botol atau wadah lain yang telah disiapkan. Pestisida Organik ini dapat disimpan selama satu tahun

BAHAN :
Umbi Ubi Gadung,Akar Tuba dan sejenisnya,Kulit Rita,Daun BungaTerompet,Terung Hutan (Akar,Batang,Buah),Daun aun dan Batang Sambiloto, Daun Bunga Putih, DaunBuah Pariah dan Sejenisnya, Rimpang, Kaliraga, Bawang  Dll.
Bahan Pembuatnya dari jenis  tanaman apa saja yang terpenting bahan tersebut mengandung kadar racun.

DOSIS PENGGUNAAN :
  1. Pencegahan. Gunakan Pestisida Organik dengan ukuran: 8 senduk makan  berbanding/dicampurkan dengan  10 liter air. Penyemprotan dilakukan  2 kali dalam seminggu.
  2. Pemberantasan. Gunakan Pestisida Organik dengan ukuran: 10 senduk  makan  berbanding/dicampurkan dengan  10 liter air. Penyemprotan dilakukan: 3 kali dalam seminggu.

PETUNJUK PENGGUNAAN :
  1. Tidak boleh makan,minum dan merokok selama melakukan pembuatan atau saat melakukan penyomprotan
  2. Penyomprotan harus searah dengan arah angin
  3. Gunakan masker,kaus tangan,baju/kaus lengan panjang

PENGAKIRAN :
  1. Bersihkan sisa-sisa bahan,dikumpulkan lalu disimpan untuk dijadikan pupuk  organic atau dibenamkan sekitar tanaman.
  2. Kembalikan alat dan bahan pada tempat semula.
  3. Simpanlah Pestisida Organik pada tempat yang  aman.

JENIS HAMA YANG DAPAT DIKENDALIKAN DENGAN  PESTISIDA ORGANIK  :
  1. Hama Putih, yang menyerang tanaman pangan, hortikultura dan tanaman perkebunan
  2. Penggerek Batang, yang menyerang  padi dan kakao
  3. Kutu Hijao, yang menyerang daun tanaman dan buah kopi
  4. Hama Walang Sangit, yang menyerang  tanaman  padi
  5. Hama Helopeltis, yang menyerang pada tanaman kakao
  6. Penyakit busuk akar dan jenis penyakit /hama lainnya yang menyerang tanaman.




                     


PUPUK KOMPOS DAN MANFAATNYA

PENGERTIAN
Pupuk kompos adalah pupuk organik yang berasal dari limbah pertaanian, hijauan, kotoran ternak, serbuk kayu, abu sekam, rumput-rumptan dll
   
MANFAAT
  1. Meningkatkan kesuburan tanah dan produksi tanaman.
  2. Menggemburkan tanah yang keras/berat (Tanah Liat).
  3. Menekan serangan hama penyakit.

 KEUNGGULAN/KEUNTUNGAN
  1. Bahan bakunya mudah diperoleh dan murah harganya.
  2. Unsur haranya dapat bertahan dalam tanah.
  3. Cara pembuatannya mudah dan cepat.
  4. Tidak merusak lingkungan karena terbuat dari bahan  alamiah.

Dalam Kompos terdapat unsur-unsur hara yang dibutuhkan untuk pertumbuhan, perkembangbiakan dan kesehatan tanaman, antara lain:
  1. Unsur Nitrogen (N), yang berguna untuk merangsang pertumbuhan tunas, batang, dan daun.  Dalam bokasi ada pada daun-daun Leguminosa, Jerami, Sekam. Dalam pupuk  Anorganik ada pada pupuk Urea.
  2.  Unsur Pospor (P), merangsang pertumbuhan  akar,pertumbuhan bunga dan buah. Dalam Bokasi ada pada abu dapur, arang. Dalam pupuk Anorganik ada pada pupuk TSP.
  3. Unsur Kalium (K),yang berguna untuk meningkatkan ketahanan tanaman terhadap  serangan hama/penyakit serta memperkuat serat batang agar tidak mudah rebah. Dalam  Bokasi ada pada Kotoran Ternak. Dalam pupuk Anorganik ada pada pupuk KCL.

ALAT
Alat yang digunakan adalah : Parang, Sekop, Pacul, Ember, Karung, Timbangan.

BAHAN
Bahan-bahan yang dibutuhkan dalam pembuatan  Kompos antara lain :
  1.  Bahan dasar (Jerami, sekam, kotoran ternak, serbuk kayu, abu sekam, tanah subur, daun legume dll) sebanyak @  100 kg. 
  2. Air, (Sesuai kebutuhan ).
  3. Cara Pembuatan:
  4. Siapkan tempat pembuatan kompos pada tempat yang rata dan tidak tergenang air dengan ukuran sesuai kebutuhan.
  5. Bahan dasar dari jerami,sekam padi,dipotong 3 - 4 cm.
  6. Sebarkan  bahan dasar secara merata pada bagian pertama/bagian bawah, kemudian lapisan kedua dan seterusnya sesuai jenis bahan yang disiapkan.setiap lapisan disebarkan setingi 20-30 cm.
  7. Setiap lapisan di basahi dengan air secukupnya.
  8. Lapisan kedua dan seterusnya tetap sama sesuai urutan pada lapisan bagian pertama setinggi 1m – 1,5 m. Lebar gulutan kompos kurang lebih 1 – 1,5 m. 
  9. Proses fermentasinya  selama 3 bulan. Selama Fermentasi berlangsung harus dijaga/diperiksa agar suhunya berkisar antara 40 -  50  derajat celcius. Tidak ada Termometer dapat menggunakan dengan cara meraba adonan tersebut,apabila panas maka harus dilakukan  pembalikan/mengaduk kembali adonan tersebut agar suhunya turun dan apabila adonan tersebut hangat  berarti suhunya normal.
Kompos  yang baik, Kompos akan dapat digunakan bila sudah hancur dan di tumbuhi jamur putih.

CARA PENGGUNAAN :
  1. Secara umum gunakanlah  30 - 50 kg  kompos per meter persegi pada permukaan tanah apabila sebelumnya bahan organic sudah diberikan cukup.
  2. Pada tanah yang kurang subur atau bahan organiknya sedikit perlu diberikan kompos dalam jumlah yang agak banyak yaitu : 50 - 100 kg permeter persegi.
Pengakiran : Bersihkan alat dan bahan dan kembalikan pada tempat semula.

 

Jumat, 22 April 2016

KUNJUGAN DAN BELAJAR SILANG PENGEMBANGAN KAKAO

Eduardus, Petani Kakao sedang mempraktekan sambung samping
Kakao menjadi salah satu komoditi andalan bagi petani di Kabupaten Sikka sejak lama. Pengembangan kakao secara individu telah dilakukan belum melalui sebuah pengembangan kapasitas. Untuk itu, Wahana Tani Mandiri (WTM) dalam Program "Peningkatan Kapasitas Masyarakat Tani dalam Adaptasi Perubahan Iklim lewat Pendekatan Usahan Tani Berbasis Konservasi" kerja sama dengan Miserior Jerman dalam satu aktivitas dilakukan kunjungan belajar ke wilayah yang dinilai sukses. Dari hasil identifasi WTM, kebun kakao Bapa Eduardus, di dusun Gedo, Desa Wolokoli, Kecamatan Bola yang sangat fokus mengembangkan kakao.

Dengan identifikasi dan kunjungan awal oleh Tim WTM, kebun bapa Eduardus menjadi tempat menarik belajar bagi petani dampingan WTM yang ingin mengembangkan kakao sebagai salah satu komoditi unggulan.

Kegiatan kunjungan belajar ini dihadiri oleh empat puluhan petani dan kader tani dampingan WTM dari Kecamatan Mego dan Tanawawo serta staf WTM (Jumat, 22/04/16). Dalam acara pembukaan, Kristoforus Gregorius (Koordinator Lapangan dan Pertanian) sekaligus ketua rombongan kegiatan ini mengatakan bahwa kunjungan belajar silang ini sebagai upaya bagi petani untuk mempelajari hal-hal yang belum dilakukan di kebunnya sekaligus belajar untuk mengatasi permasalahan yang ada di kebunnya.

Sedangkan Eduardus, petani yang sukses mengembangkan kakao di Gedo, Kecamatan Bola, Kabupaten Sikka mengatakan bahwa sebagai petani sebetulnya adalah mulia. Hanya saja kita sering tidak fokus. Hampir setiap komoditi ditanam di kebun sesuai dengan grafik harga di pasaran. Ketika vanili bagus, semua ramai-ramai tanam vanili. Ketika cengkeh bagus, pun demikian. Itu berarti bahwa petani masih bergantung pada pasar.
Padahal seorang petani semestinya mengembangkan sebuah model tergantung keinginannya. Karena apa pun yang dikembangkan tentunya bernilai di pasar.

Setelah acara pembukaan, para petani yang mengikuti acara tersebut ramai-ramai menuju kebunnya. Di sana, Eduardus mempraktekan mengenai sambung samping dan sambung tunas. Para petani sungguh serius mengikuti acara tersebut. Edu, menjelaskan bagaimana mencari kakao yang bisa disambung dengan pohon yang ingin menjadi induknya. Lebih dari itu, Edu mengharapkan agar para petani dampingan WTM kemudian fokus mengembangkan komoditi yang menjadi pilihannya.






Kamis, 17 Maret 2016

KADER TANI WTM BERSAMA MASIPAG FILIPINA LAKUKAN PENELITIAN KAWIN SILANG

Dalam program: "Peningkatan kapasitas Masyarakt Tani dalam Adaptasi Perubahan Iklim lewat Pendekatan Usaha Tani Berbasis Konservasi" kerja sama Wahana Tani Mandiri (WTM) dengan Miserior Jerman, memiliki salah satu aktifitas yang dilakukan adalah Pemulian Benih. Pemulian Benih dimaksudkan untuk kembali mengidentifikasi benih-benih padi lokal yang hampir punah setelah masuknya varietas-varietas baru yang dibawa oleh korporasi dan dinas pertanian.

Untuk itu, Wahana Tani Mandiri (WTM) bersama Masipag Filipina melakukan kegiatan Perkawinan Silang benih padi di Puskolap Jiro-Jaro, Tanali, desa Bhera, Kecamatan Mego (14-16/01/2016).

Kegiatan yang berlangsung tiga hari ini difasilitasi oleh Yuni (Petani Masipag - Filipina,  Elisabet (Konsultan People Led Development Miserior Jerman), Kristof (Satu Nama) didampingi Herry Naif (Koordinator Advokasi, Riset, Lingkungan dan Pengelolaan Hasil).

Carolus Winfridus Keupung (Direktur WTM) dalam sambutan pembukaannya mengucapkan terima kasih kepada Miserior sebagai penyokong dana kepada WTM, dan kepada para fasilitator. Bahwa, kegiatan ini penting untuk dilakukan oleh petani, yang mana petani bisa melakukannya (mempraktekan) di kebun masing-masing. Diharapkan, beberapa tahun ke depan para petani dampingan WTM di tiga kecamatan (Magepanda, Mego dan Tanawawo) pastinya memberi sebuah nilai baru dalam proses pemulian benih lokal.

Lanjut Win, kegiatan ini juga merupakan kesempatan untuk menaikan barganing potition petani yang selama ini hanya menjadi penanam tetapi tidak menjadi peneliti. WTM bersama petani melakukan Kaji Banding dan Uji terap yang pelakunya juga adalah para kader tani. Kami melihat bahwa saatnya petani harus didorong untuk merebut kembali kedaulatan benih yang lama hilang, Ujarnya.

Sedangkan Herry, secara terpisah mengatakan bahwa kegiatan penelitian ini dilakukan dalam dua metode yakni in class untuk mengetahui apa dan tujuan penelitian ini dilakukan serta langkah-langkah yang perlu dilakukan dan out class adalah untuk mempraktekan teori-teori yang disampaikan. Dengan dua metode ini akan mempermuda proses pemahaman petani dalam melakukan praktek kawin silang benih, ujarnya.

Kegiatan praktek kawin silang ini diawali dengan penjelasan soal persiapan kawin silang setelah itu para peserta bersama fasilitator menuju lokasi persahawan Lowolo, Bhera untuk pengambilan sampel padi yang siap kawin. Jenis padi yang dijadikan sampel perkawinan adalah pare Kupang dan pare Chiherang. setelah pengambilan Benih dilanjutkan dengan penjelasan tentang bagaiman melakukan kawin silang. Dari penjelasan itu, para peserta kemudian melakukan praktek pemotongan malai benih yang siap kawin.

Hampir semua peserta, serius mengikuti  praktek tersebut, kendati harus dilakukan dalam beberapa tahapan penerjemahan dari bahasa tagalog, Inggris, dan Indonesia. Atau sebaliknya bila dari peserta maka harus diterjemahkan dari bahasa Indonesia, Ingris dan Tagalog.

Setelah melakukan praktek pemotongongan malai betina yang siap kawin, ditutup dengan kertas minyak dan dilanjutkan dengan penjelasan tentang bagaimana melakukan perkawinan. Tetapi perkawinan ini akan dilakukan dengan harus memperhatikan waktu (jam) birahi dari padi jantan. Menurut fasilitator waktu kawin padi adalah jam (9 - 11). Maka pada (16/01/2016) dilakukan perkawinan silang padi yang telah disiapkan.

Setelah dilakukan perkawinan silang benih, para peserta kembali ke kelas dan melakukan evaluasi tahapan dan proses serta membuat perencanaan bersama tentang apa yang dilakukan setelah acara praktek tersebut. Kegiatan ini dinilai cocok karena hampir sebagian besar padi ladang dan sawah di wilayah Magepanda, Mego dan Tanawaso belum berbulir. Ini adalah kesempatan bagi kami para peserta, untuk melakukan kawin silang, kata Siprianus Rehing (petani peneliti) asal Bu Selatan.

Setelah semua proses penelitian dilakukan acara penutupan. Menurut Yuni (Masipag-Filipina) dan Ibu Bes (Miserior) sangat bangga karena para petani tampingan WTM sangat serius dalam megikuti kegiatan in. Haranpannya semoga mereka bisa melakukannya di lapangan agar benih-benih lokal yang hampir punah ini diselamatkan melalui pemulian benih.






















Senin, 29 Februari 2016

PESTISIDA ORGANIK DAN MANFAATNYA


Salah satu penyebab menurunnya mutu dan jumlah hasil panen adalah serangan hama dan penyakit tanaman. Biasanya hama dan penyakit menyerang tanaman di kebun dan juga hasil panen yang disimpan di lumbung. Untuk mengatasi hal ini, kita dapat melakukan pengendalian hama dan penyakit dengan memanfaatkan bahan-bahan lokal di sekitar kita. Informasi berikut ini merupakan pengalaman WTM bersama petani dampingannya dalam melakukan pembuatan dan pengendalian hama dengan menggunakan Pestisida Organik.
Pengertian
Pestisida organik adalah bahan pengendali hama dan penyakit tanaman yang diramu atau dibuat dari bahan tanaman lokal.
Keunggulan/Keuntungan
  1. Mampu mengendalikan berbagai jenis hama dan penyakit.
  2. Murah karena bahan baku ramuan mudah diperoleh di lingkungan sekitar
  3. Cara pembuatannya mudah (Dapat dibuat sendiri)
  4. Dapat tersedia setiap saat
  5. Aman, karena bahannya berasal dari tanaman yang dukenal
Alat
Parang, pisau, pemukul/batu, parut, lesung, alu, ember bak, gentong, terpal/karung, tali, masker dan kaos tangan.
Bahan
Ubi gadung, akar tuba dan sejenisnya, kulit rita, daun bunga terompet, terung hutan (akar, batang, daun), batang dan daun sambiloto, daun bunga putih, daun/buah paria, nimba, rimpang kaliraga, bawang merah/putih, lombok, daunpapaya, kole, denu, neta, sirih hutan, kecubung, pewau, terung, kulit/biji mahoni, kusi dan lain-lain yang berasal dari jenis tanaman apa saja yang penting bhan tersebut mengandung racun.
Cara pembuatan
  1. Siapkan alat dan bahan pembuatan pestisida organik pada tempat yang telah disiapkan atau ditentukan.
  2. Bahan yang berasal dari umbi dikupas kulitnya, kemudian yang berasal dari batang, akar, rimpang dan kulit dibersihkan lalu dipotong dimemarkan dengan batu atau dicincang. Sedangkan bahan yang berasal dari daun dipisahkan dari tangkainya lalu dicincang dan ditumbuk sampai halus. Bahan-bahan tersebut disimpan secara terpisah menurut jenisnya pada wadah yang telah disediakan.
  3. Ubi gadung diparut pada wadah yang tidak bocor
  4. Bahan yang berasal dari batang, akar, rimpang, dan kulit yang sudah tersedia dimemarkan dan ditumbuk hingga halus
  5. Bahan yang berasal dari daun-daun yang sudah ditumbuk diperas dan diambil airnya. Saat diperas tidak boleh menggunakan air dalam jumlah yang banyak. Air hanya dapat digunakan sebagai pemancing pada saat pemerasan
  6. Bawang merah, bawang putih dan lombok diulak hingga benar-benar halus.
  7. Setelah itu, masukan ubi gadung yang sudah diparut, dan air hasil perasan daun-daun di dalam ember bak atau gentong yang disiapkan untuk adonan bahan-bahan tersebut
  8. Masukan sedikit demi sedikit bahan-bahan tersebut menurut jenisnya ke dalam bak adonan, kemudian diaduk sampai merata.
  9. Ember bak atau gentong yang berisi adonan ditutup rapat dengan tutupannta atau bahan lainnya dan diikat dengan tali kemudian disimpan di tempat yang aman, lalu diperam selama dua minggu (14 hari)
  10. Setelah empat belas hari adonan tersebut dibuka untuk diperas dan disaring airnya. Cairan tersebutlah yang dinamakan pestisida organik. Pestisida organik dimasukan ke dalam jerigen atau botol-botol atau wadah lain yang telah disiapkan. Pestisida organik yang telah diisi pada wadah tersebut dapat bertahan hingga satu tahun.
Pengakiran
  1. Bersihkan sisa-sisa bahan kemudian dikumpulkan untuk dibenamkan di sekitar tanaman.
  2. Cuci alat dan kembalikan pada tempat semula.
  3. Simpan pestisida organik di tempat yang aman.

Dosis penggunaan
  1. Pencegahan.
Gunakan pestisida organik dengan takaran 8 sendok makan yang dicampurkan dengan 10 liter air. Penyemprotan dilakukan 2 kali dalam seminggu.
  1. Pemberantasan.
Gunakan pestisida organik dengan takaran 10 senduk makan yang dicampurkan dengan 10 liter air. Penyemprotan dilakukan 3 kali dalam seminggu.
Jenis hama yang dapat dikendalikan dengan pestisida organik
  1. Hama putih yang menyerang tanaman pangan, hortikutura dan tanaman perkebunan
  2. Penggerek batang yang menyerang padi
  3. Kutu hijau dan kutu putih yang menyerang tanaman kopi
  4. Hama walang sangit yang menyerang tanaman padi
  5. Hama helopestis, penggerek buah dan penggerek batang yang menyerang tanaman kakao
  6. Penyakit busuk akar dan jenis penyakit atau hama lainnya yang menyerang tanaman.
Petunjuk penggunaan
  1. Dilarang makan, minum atau merokok selama proses pembuatan dan penyemprotan pestisida organik
  2. Penyemprotan harus mengikuti arah angin
  3. Gunakan masker, kaus tangan, baju berlengan panjang.
SELAMAT MENCOBA

Informasi Selengkapnya, hubungi: 
Pusat Sekolah Lapangan (PUSKOLAP) \
Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya JIRO JARO
Wahana Tani Mandiri (WTM)
Jln. Feondari, Tanali, Desa Bhera, Kecamatan Mego, Kabupaten Sikka - 86153
No. Hp. 0813 3940 7729 (Win Keupung/Direktur)

Sabtu, 30 Januari 2016

TIGA KELOMOK TANI KOLISIA B BUAT PUPUK ORGANIK DAN PESTISIDA ORGANIK

Kabar Nuhang, Tiga kelompok tani, (Sumur Bor, Kaju Naja O'a dan Sinar Harapan). Kelompok Sumur Bor beranggotakan 28 orang, melakukan pembuatan pupuk organik (6/01) dan pestisida organik (23/01). Sedangkan Kaju Naja O'a (21) melakukan pembuatan pupuk organik (25/01) sementara dalam proses fermentasi. Kelompok Sinar Harapan beranggotakan 30 Orang, pelajar SD dan SMP bersemangat melakukan pembuatan pupuk organik. Tujuan mereka agar membantu mereka dalam pembiayaan sekolah. Kegiatan-kegiatan ini difasilitasi oleh fasilitator WTM, wilayah kecamatan Magepanda.

Seusai kegiatan ini, Yohanes Moning (53) kader tani Desa Kolisia B, menyatakan bahwa pembuatan organik ini adalah motifasi bagi petani di wilayah ini. Karena kami di sini, orang harus melihat hasilnya. Bahwa kami selama ini dijajah dengan pembelian pupuk kimia yang mana kami harus menanggung biaya produksi yang mahal, ujarnya.

Lebih lanjut ia bercerita bahwa kelompok tani wilayah Kolisia B yang bukan dampingan WTM ingin pergi megambil pupuk urea tidak diberi karena katanya Kolisia B sudah buat pupuk organik. Ini menarik karena kami dibiasakan agar terus menjadikan organik sebagai pilihan petani.

Sedangkan menurut Erry, bahwa kelompok tani di Kolisia B memang awalnya sulit dikoordinasi. Tetapi berkat perjuangannya kemudian ada  tiga (3) kelompok tani yang didampingi WTM. Ini menjadi peluang agar mendorong petani di sana menjadi petani organik dan lebih dari itu mereka bisa menjadi lebih baik sesuai dengan idaman mereka.

Senin, 18 Januari 2016

PESTISIDA ORGANIK DAN PEMANFAATANNYA

Salah satu penyebab menurunnya mutu dan jumlah hasil panen adalah serangan hama dan penyakit tanaman. Biasanya, hama dan penyakit menyerang tama,am di kebun dan juga hasil panen yang disimpan di lumbung. 
Untuk mengatasi hal ini, kita dapat melakukan pengendalian hama dan penyakit dengan memanfaatkan bahan-bahan lokaldi sekitar kita. Informasi berikut ini merupakan pengalaman WTM bersama petani dampingannya dalam melakukan pembuatan dan pengendalian hama dengan menggunakan pestisida organik.

Pengertian:
Pestisida organik adalah bahan pengendalian hama dan penyakit tanaman yang diramu atau dibuat dari bahan tanaman lokal

Keunggulan/Keuntungan:
  1. Mampu mengendalikan berbagai jenis hama dan penyakit 
  2. Murah karena bahan baku ramuan dapat diperoleh di kebun atau sekitar kampung
  3. Mudah pembuatannya (dapat dibuat sendiri)
  4. Dapat tersedia setiap saat
  5. Aman karena bahan dari tanaman yang diketahui
Alat:
Parang, Pisau, Pemukul/Batu parut, lesung dan Alu, Ember bak, Gentong, Terpal/Karung, Tali, Masker, Kaos Tangan.

Bahan:
Ubi Gadung, Akar Tuba, dan Sejenisnya, Kulit rita, Daun Bunga terompet, Terung Hutan, (akar batang dan buah), daun dan batang sambiloto, Daun Bunga putih/Buah Paria, nimba, rimpang, kaliraga, bawang merah/putih, lombok, daun pepaya, kole, denu, neta, siri hutan, kecubung, pewau, tarung, kulit/biji mahoni, kusi dll. dari jenis tanaman apa saja yang terpienting bahan tersebut mengandung kadar racun.

Cara Pembuatan:
  1. Siapkan alat dan bahan pembuatan pestisida organik pada tempat yang telah disiapkan/ditentukan
  2. bahan yang berasal dari umbi dikupas kulitnya, yang berasal dari batang akar, rimpang, kulit dibersikan lalu dipotong kecil-kecil/dicincang atau dimemarkan dengan batu. Bahan yang dari daun-daun dibersihkan dari tangkainya lalu dicincang kemudian ditumbuk. Bahan-bahan tersebut ditaruh terpisah menurut jenisnya pada wadah tersebut ditaruh terpisah menurut jenisnya pada wadah yang telah disiapkan. 
  3. Umbi Gadung diparus pada wadah yang tidak bocor
  4. bahan dari batang, akar, rimpang, kulit yang sudah disiapkan ditumbuk hingga halus atau dimemarkan sampai benar-benar halus. 
  5. Bahan-bahan dari daun yang sudah dicincang, ditumbuk hingga halus lalu diperas ambil airnya. Air hanya dapat digunakan sebagai pemancing saat dilakukan pemerasan. 
  6. Bawang merah, bawang putih, lombok diulak hingga benar-benar halus
  7. Masukan ubi gadung yang sdah diparut, air hasil perasaan dari daun-daun dimasukan ke dalam ember bak/gentong yang disiapkan untuk adonan bahan-bahan tersebut.
  8. Masukan sedikit demi sedikit bahan-bahan tersebut menurut jenisnya ke dalam bak adonan kemudian diaduk sampai merata. 
  9. Ember bak/gentong berisi adonan tersebut, ditutup rapat dengan tutupannya atau bahan lain lalu diikat dengan tali. 
  10. Simpanlah ember bak/gentong adonan tersebut pada tempat yang aman
  11. Adonan tersebut diperam selama 14 hari (2 minggu).
  12. Setelah 14 hari (2 Minggu) rendaman tersebut dibuka untuk diperas ambil airnya dan disaring. 
Cairan tersebut yang dinamakan pestisida organik. Cairan pestisida organik dimasukan ke dalam jerigen atau botol-botol atau wadah lain yang telah disiapkan. Pestisida organik ini dapat disimpan selama satu tahun.

Pengakiran:
  1. Bersihkan sisa-sisa bahan, dikumpulkan dan dibenamkan di sekitar tanaman.
  2. Cuci alta dan kembalikan pada tempat semula
  3. Simpan pestisida organik pada tempat yang aman
Diosis Penggunaan: 

Pencegahan:
Gunakan pestisida organik dengan ukuran: 8 senduk makan berbanding/dicampurkan dengan 10 liter air
Penyemprotan dilakukan 2 kali dalam seminggu

Pemberantasan:
Gunakan pestisida organik dengan ukuran 10 senduk makna berbanding/dicampurkan dengan 10 liter air
Penyemprotan dilakukan 2 kali dalam seminggu

Jenis Hama yang dapat dikendalikan dengan pestisida organik: 
  1. Hama putih yang menyerang tanaman pangan, hortikultura, dan tanaman perkebunan
  2. Penggerek batang yang menyerang padi
  3. Kutu hijau, kutu putih yang menyerang tanaman kopi
  4. Hama walang sangit yang menyerang tanaman padi
  5. Hama Helopeltis, penggerk buah dan pneggerek batang yang menyerang pada tanaman kakao
  6. Penyakit busuk akan dan jenis penyakit/hama lainnya yang menyerang tanaman
Petunjuk Penggunaan: 
  1. Tidak boleh makan, minum dan merokok selama pembuatan pestisida dan penyemprotan
  2. Penyemprotan harus searah dengan arah angin
  3. Gunakan masker, kaus tangan, baju  kaus lengan panjang 
Informasi selengkapnya hubungi: Pusat Sekolah Lapangan (PUSKOLAP )
Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya Jiro Jaro
Jl. Feondari, Tanali, Desa Bhera, Kecamatan Mego, Kab. Sikka 86153
email: wtmsikka@gmail.com
Hp: 081 339 407 729



Minggu, 17 Januari 2016

PUPUK BOKASI DAN MANFAATNYA


Bokasi adalah Pupuk Organik yang terbentuk dari penguraian bahan organic (Limbah Pertanian,kehutanan) dan kotoran ternak dengan bantuan efektif mikroorganisme (EM4)

Manfaat Bokasi:

  • Meningkatkan kesuburan tanah dan produksi tanaman.
  • Menggemburkan tanah yang keras/berat (Tanah Liat).
  • Memiliki bau khas yang dapat menekan serangan hama penyakit.

Keunggulan :

  • Bahan bakunya mudah diperoleh dan murah harganya.
  • Unsur haranya dapat bertahan dalam tanah.
  • Cara pembuatannya mudah dan cepat.
  • Tidak merusak lingkungan karena terbuat dari bahan alamiah.

Macam-macam Pupuk Bokasi :

Bokasi terdiri dari beberapa macam,tergantung pada banyaknya jumlah bahan dasar yang mau dipakai.
antara lain :
  • Bokasi Jerami, Bahan dasarnya Jerami.
  • Bokasi Sekam Padi, bahan dasarnya Sekam Padi.
  • Bokasi Arang, bahan dasarnya Arang.
  • Bokasi Pupuk kandang, bahan dasarnya kotoran Ternak.
  • Bokasi Serbuk Kayu, bahan dasarnya Serbuk kayu.
  • Bokasi Leguminose, bahan dasarnya dari daun-daun leguminose.
  • Dll.

Dalam Bokasi terdapat unsur-unsur hara yang dibutuhkan untuk pertumbuhan, perkembangbiakan dan kesehatan tanaman, antara lain:

  • Unsur Nitrogen (N): Merangsang pertumbuhan tunas,batang, dan daun. Dalam Bokasi ada pada daun-daun Leguminosa,Jerami,Sekam. Dalam pupuk Anorganik ada pada pupuk Urea.

  • Unsur Pospor (P: merangsang pertumbuhan akar,pertumbuhan bunga dan buah.Dalam Bokasi ada pada abu dapur,Arang. Dalam pupuk Anorganik ada pada pupuk TSP.

  • Unsur Kalium (K):meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangan hama/penyakit serta memperkuat serat batang agar tidak mudah rebah.Dalam Bokasi ada pada Kotoran Ternak. Dalam pupuk Anorganik ada pada pupuk KCL.


Alat dan Bahan :
Alat yang digunakan adalah :
Parang,Sekop,Pacul, Ember, Karung.
  1. Bahan dasar (Jerami,Sekam,Kotoran ternak,Serbuk kayu,Arang,Daun legume dll) sebanyak @ 100 kg.
    Berdasarkan kebutuhan bahan dasar pembuatan Bokasi. Bahan lainnya sebanyak 25 - 50 kg. 
  2. Gula pasir sebanyak 1 kg. 
  3. EM4, sebaanyak 30 - 40 sendok makan. 
  4. Air, sebanyak 300 liter ( Sesuai kebutuhan )


CARA PEMBUATAN :

  1. Bahan dasar dari jerami padi,dipotong 3 - 4 cm.
  2. Sebarkan bahan dasar yang jumlahnya lebih banyak dari pada bagian pertama/bagian bawah, kemudian bahan dasar lainnya sesuai jumlah yang disiapkan.
  3. Larutkan gula dan EM4 dalam air
  4. Campurkan / aduklah jerami,kotoran ternak,daun legume atau bahan dasar lainnya secara merata 
  5. Siramkan / percikan larutan EM4 secara perlahan-lahan pada adonan sambil mencampurkannya/membalikannya dengan sekop.Kandungan air sekitar 30 - 40 % atau dengan mengepal adonan tersebut dan apabila dilepas tidak terpisah (KENYAL). 
  6. Sebarkan adonan tersebut di atas permukaan yang rata dengan ketinggian 15 - 20 cm dan ditutp dengan karung goni atau sejenisnya selama 7 hari. 
  7. Selama Fermentasi berlangsung harus dijaga/diperiksa agar suhunya berkisar antara 40 - 50 derajat celcius.Tidak ada Termometer dapat menggunakan dengan cara meraba adonan tersebut,apabila panas maka harus dilakukanpembalikan/mengaduk kembali adonan tersebut agar suhunya turun dan apabila adonan tersebut hangat berarti suhunya normal.




PUPUK CAIR DAN MANFAATNYA


Para petani sedang melakukan pembuatan pupuk cair di Puskolap Jiro-jaro
Pupuk Cair merupakan salah satu jenis pupuk organik yang sangat baik untuk mengatasi terbatasnya daya dukung lahan dan kurangnya kesuburan tanah. Pupuk jenis ini memiliki keunggulan antara lain Bahannya mudah di peroleh,cepat tersedia dan cepat di serap oleh tanaman.
Informasi berikut merupakan pengalaman WTM bersama petani dampingannya dalam melakukan Pembuatan dan Ujicoba Penggunaan Pupuk Cair.
Pupuk Cair adalah Pupuk yang berbentuk cairan ,yang diperoleh dari proses pembusukan daun-daun Leguminosa ( Gamal,Turi,Lamtoro, Kaliandra,dll) dan Kotoran Ternak serta daun Rumput jenis tertentu dalam air

MANFAAT :
Meningkatkan daya tumbuh tanaman.
Mengembalikan kesuburan tanah.
Sebagai penghalau hama/penyakit tanaman.

UNSUR-UNSUR YANG TERKANDUNG DALAM PUPUK CAIR :
Dalam pupuk cair terdapat unsur-unsur hara yang dibutuhkan untuk pertumbuhan, perkembangbiakan dan kesehatan tanaman, antara lain:

Unsur Nitrogen (N):
Merangsang pertumbuhan tunas, batang dan daun. Dalam pupuk cair ada pada daun-daun Leguminosa. Dalam pupuk Anorganik ada pada pupuk urea.
Unsur Pospor (P):
Merangsang pertumbuhan akar,pertumbuhan bunga dan buah.Dalam pupuk cair ada pada abu dapur. Dalam pupuk anorganik ada pada pupuk TSP.
Unsur Kalium (K):
Meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangan hama/penyakit serta memperkuat serat batang agar tidak mudah rebah.Dalam pupuk cair ada pada Kotoran Ternak. Dalam pupuk Anorganik ada pada pupuk KCL.

ALAT DAN BAHAN:
Alat:
  • Drum atau bak yang dibuat dari semen yang berguna untuk merendam/fermentasi bahan-bahan untuk pembuatan pupuk cair.
  • Karung plastic untuk mengisi daun-daun legume
  • dan kotoran ternak.
  • Parang/pisau untuk mengambil daun-daun Leguminosa.
  • Batu untuk pemberat supaya karung bisa tenggelam.
  • Tali untuk mengikat ujung karung dan tutupan drum/bak apabila berasal dari plastic atau bahan lokal lainnya.
  • Penutup drum/bak supaya air hujan tidak masuk dan mencegah pengua pan.
Bahan:
  • Daun-daun leguminosa seperti:
  • Kaliandra, Gamal, Lamtoro, Turi dll.
  • Kotoran ternak seperti:
  • Sapi, Kambing, Babi, Ayam, Kerbau,dll
CARA PEMBUATAN :
  1. Karung diisi dengan daun-daun legumenose dan kotoran ternak. Masing-masing, 25 kg. Bisa daun legumnya lebh banyak ataupun kotoran ternak yang lebih banyak jumlahnya.Karung-karung tersebut ujungnya diikat dengan tali.
  2. Masukan karung tersebut kedalam drum/bak yang masih kosong,kemudian di isi dengan air sampai melewati seluruh permukaan karung.
  3. Tekanlah dengan batu yang cukup berat, sehingga karung-karung tersebut dapat tenggelam.
  4. Tutuplah drum/bak tersebut dengan tutupannya atau dengan plastic atau bahan lokal lainnya dan dibiarkan selama 2 s/d 3 minggu
  5. Setelah 2 atau 3 minggu, batu dan karung diangkat.
    Larutan dalam Drum atau gentong inilah yang dinamakan Pupuk Cair.
    Ampas yang ada di dalam karung dapat digunakan untuk pupuk tanaman, dengan cara sebar atau hamburkan pada lahan sekitar tanaman.

CARA PENGGUNAAN :
  1. Campurkan 1 liter pupuk cair berbanding 3 liter air. (Apabila keseluruhan bahannya berasal dari daun-daun leguminosa).
  2. Campurkan 1 liter pupuk cair berbanding 5 liter air. (Apabila bahannya dari kotoran ternak).
  3. Campurkan 1 liter pupuk cair berbanding 8 liter air,apabila bahannya terdiri dari daun-daun leguminosa dan kotoran ternak..
  4. Setelah itu diaduk hingga merata,kemudian disiram atau disemprot pada tanaman secara merata.
  5. Untuk Sayuran dan Padi Sawah diberi pupuk cair 2 kali dalam seminggu. Sedangkan pada Tanaman Perkebunan setelah pembersihan/pemangkasan diberi pupuk cair 3 minggu sekali

<marquee>WTM LAKUKAN VAKSIN AYAM DI 3 KELOMPOK TANI DI EGON GAHAR</marquee>

Ansel Gogu (Kader Tani WTM) sedang Vaksin ayam anggota Kel. Tani Egon Gahar, KN , Dalam rangka mendorong sebuah pola budi daya ternak t...