Tampilkan postingan dengan label Profil Kader Tani. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Profil Kader Tani. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 September 2017

YOSEP DARA: MENDORONG HATI UNTUK BEKERJA

Yos Dara sedang memantau Tanaman Tomat
Yosep Dara adalah putra kelahiran Wolokoli, 7 Juni 1986. Ia sekarang dipercaya sebagai kepala dusun Wolo Langga sejak Februari 2017. Yosep Dara telah menikah dengan Maria Krispina Dhai, yang adalah seorang guru pada SDN Wololangga, Desa Parabubu, Kecamatan Mego, Kabupaten Sikka.

Pada tahunn 2013, Yosep Dara bergabung dengan lembaga Wahana Tani Mandiri (WTM). Dengan bergabungnya saya sebagai kader tani, di situ saya dapat berbagai  pengalaman khususnya di bidang pertanian, kenang Yos.

Pada kesempatan itu, banyak tanaman dengan karakternya yang saya pelajari. Pada tahun 2016, saya memilih untuk mengembangkan tanaman tomat sebagai tanaman uji coba (Kaji bandinng) penggunaan pupuk kimia dan organik untuk melihat perbandingan hasilnya, seihingga pada akhirnya berhasil.

Dari keberhasilan itu, kemudian mendorong hati saya untuk lebih tekun lagi. Tahun 2017 ini, saya mengembangkan tanaman tomat sebanyak 1300 pohon.

Tanaman Tomat di Kebunnya Yos Dara
Dari 1300 pohon, saya sudah perhitungkan semua untuk panen pertama kalinya pada 22 Oktober 2017.


Selama, saya kerja menanam tomat ini, banyak hal yang saya hadapi berupa tantangan. Semua tantangan itu saya hadapi dengan kesabaran.

Maria Krispina Dhai, selalu setia membantu saya pada saat penyiraman, perawatan ketika saya lagi keluar daerah/kota. Sekalipun sebagai seorang guru tentunya banyak kesibukan, Ulas Yos. (Ryn-KN)

Minggu, 13 Agustus 2017

KADER TANI DILANTIK SEBAGAI PEMPIMPIN DESA HALE

Albertus Ruben bersama Istri, Anak dan Antonius A. Yani (Ketua BPD Hale)
Maumere KN, Setelah pertarungan melawan tiga rekannya beberapa pekan lalu dalam ajang Pemilihan Kepala Desa (Pilkades), Albertus Ruben akhirnya dilantik menjadi Kepala Desa Hale periode 2017-2023 Kecamatan Mapitara, Kabupaten Sikka.  Acara pelantikan diselenggarakan di Ibukota Kabupaten Sikka, Maumere, pada tanggal 09 Agustus 2017 di gedung Sikka Convension Center (SCC) bersama 36 kepala desa lainnya.

Saat ditemui tim KN usai acara pelantikan di kediamannya,  Albertus Ruben menyatakan bahwa dirinya akan serius mengurus Hale kedepan. Menurut Ruben, Desa Hale selama ini sungguh prihatin dalam urusan pemerintahan desa dan nyaris kembali ke desa induk Hebing. Hal ini dipantau melalui keluhan masyarakat selama dirinya menjadi anggota BPD dan aktif sebagai Kader Tani melalui program Critical Ecosystem Patnership Found (CEPF) yang bekerjasama dengan Wahana Tani Mandiri (WTM) Sikka.

Ruben berkomitmen, bahwa selain membenahi Desa Hale secara managemen pemerintahan, ia juga berniat akan meperbaiki kondosi ekonomi masyarakatnya terutama bagi petani. Hal ini sesuai visi misi yang dipaparkan saat kampanye di empat dusun di Desa Hale beberapa waktu lalu.

Ruben mengakui, bahwa wilayahnya sungguh berpotensi dan patut disyukuri sehingga perlu dikembangkan demi kesejahteraan masyarakatnya. Dengan demikian dirinya akan dengan sungguh membangun Desa Hale secara lebih baik.

"Menurut saya, menjadi kepala desa, bukan ajang mencari pekerjaan atau popularitas menjadi utama, namun sebagai putra pribumi saya merasa prihatin dengan kampung halaman saya sendiri atas keterpurukan masyarakat dari berbagai hal yang selama ini terjadi" ungkap Ruben.

Lanjut Ruben, untuk mewujudkan visi dan misi saya, tentunya tidak terlepas dari dukungan semua masyarakat, pihak pemerintah terkait dan kepada sauadara saya yang kalah dalam pertarungan ini.

Penutur Cerita: Mus Mulyadi (Fasilitator Lapangan WTM-CEPF)

Kamis, 01 Desember 2016

KISAH SUKSES PETANI KAKAO DARI DOBO NUAPU’U

KISAH SUKSES PETANI KAKAO DARI DOBO NUAPU’U (Oleh : Mus Muliadi, staf lapangan Wahana Tani Mandiri) Bagi banyak petani perkebunan umumnya di Flores tentu ketika mendengar cerita tentang tanaman kakao atau theobroma cacao sebutan latinnya menjadi cerita yang biasa. Di Kabupaten Sikka, tanaman ini sudah ada sejak tahun 1950-an sebelum gencar dikampanyekan pemerintah. Tanaman kakao gencar didorong pengembangannya pada tahun 1980-an. Namun jauh sebelum itu jenis tanaman ini diperkenalkan oleh Pater Heinnrich Bollen SVD seorang birawan Katolik asal Jerman yang mengabdikan dirinya di Kabupaten Sikka yang membawa bibit tanaman ini dari Pantai Gading.

Namun dalam tulisan ini saya lebih khusus mengangkat soal motifasi dan keuletan dari seorang petani tuah asal desa Dobo Nuapu’u, kecamatan Mego, Kabupaten Sikka yang mungkin saja menjadi motivasi bagi petani lain hari ini yang punya keinginan untuk membudidayakan atau mau mengembangkan tanaman jenis ini.

Siapa sosok petani sukses itu?

Ketika kita mendengar kata sukses, tentunya di kepala kita membayangkan ada pahit getir dalam mencapainya apa lagi suksesnya seorang petani, begitu pula dengan sosok petani yang satu ini. Sebut saja namanya, Bapak Yohakim Bagi, seorang petani asal Dobo Nuapu’u, Kecamatan Mego, Kabupaten Sikka. Bapak Yohakim Bagi hanya berpendidikan kelas 6 SR di Ri’I Pu’a tamat pada tahun 1952. Ia mengenal tanaman kakao sejak tahun 1962 dimana saat itu banyak orang belum mengenal tanaman ini kecuali sebagian petani asal Watublapi, Kecamatan Kewapante, Kabupaten Sikka yang mungkin sudah mengenalnya lebih dahulu.

Walaupun demikian cerita petani Watublapi tentu berbeda, sebab mereka pasti punya acuan teknis yang jelas dari sumbernya. Lain hal dengan Bapak Yohakim Bagi, bagaimana dengan teknik menanam tanaman ini, tujuan dan manfaat menanam tanaman ini saja belum diketahuinya sacara pasti, namun tentu saja semangat dan kemauannya menjadi kunci. Dalam pikiran Bapak Yohakim adalah “yang penting tanam saja”. Bagaimana cerita bapak Yohakim mendapatkan bibit jenis tanaman yang berasal dari Meksiko, Amerika Tengah ini, kemudian mulai menanamnya dan bisa dibilang sukses di Dobo Nuapu’u?

Lima puluh empat tahun lalu tepatnya di tahun 1962, bapak Yohakim Bagi bekerja sebagai petani sawah sekaligus pengiris moke di kampungnya Dobo Nuapu’u. Di tahun yang sama, Bapak Yohakim mulai menekuni lahan kering miliknya dengan tanaman pangan sperti padi, jagung dan ubi-ubian dimana seperti halnya yang dikerjakan petani di kabupaten Sikka pada umumnya. Namun pengolahan lahan kering yang dilakukan oleh Bapak Yohakim berbeda dengan petani lain di kampungnya, walaupun saat itu belum ada intervensi pihak luar dalam hal teknis pertanian.

Bermodal semangat dan keuletan yang dimilikinya ditambah dengan beberapa inspirasi dari sebuah buku yang pernah dibacanya kalah itu membuat Bapak Yohakim bersama istrinya terus termotivasi untuk menekuni dalam hal bertani. Memang segalah sesuatu yang dikerjakannya tidak satu kali memberikan hasil sesuai keinginanya namun keuletan untuk mencoba selalu ada. Lalu bagaimana dengan cerita tanaman kakao dari babak Yohakim?

Ketika itu musim panas, Bapak Yohakim bersama istrinya sudah setengah hari menguras tenaga dari membersikan rumput, mengerjakan teras dan beberapa aktivitas lainnya di kebun, saatnya mereka harus sedikit melepaskan lelah sambil mengunya bekal yang dibawahnya dari rumah di pondok kecil yang berada di tengah-tengah kebun. Sementara itu datanglah Bapak Woi, teman dekat bapak Yohakim yang sengaja singga di pondoknya untuk sedikit menyegarkan dahaga dengan kelapa muda yang memang cukup menggoda apa lagi Bapak Woi yang saat itu baru saja menempuh jarak kurang lebih 20 km dengan berjalan kaki dari Maumere.

Sementara asyik bercerita, Bapak Woi mengeluarkan buah masak yang berwarna kuning dari kantong yang dibawahnya, jenis buah yang asing bagi Bapak Yohakim saat itu. “itu buah apa?”, tanya Bapak Yohakim kepada temannya. “Ini namanya buah kakao” jelas Bapak Woi semabari melanjukan ceritanya kepada Bapak Yohakim. “Saya baru dari Maumere, kemarin saya ke Watublapi di keluarga saya, kebetulan disana sedang ada pembagian bibit kakao, 10 buah per kepala keluarga, di rumah yang saya pergi itu ada tiga kepala keluarga jadi mereka dapat 30 buah, sehingga mereka kasih saya 10 buah”.

Karena penasaran Bapak yohakim terus bertanya kepada temannya terkait manfaat dan bagaimana cara menanam bibit kakao ini. Akhirnya waktu istirahat siang itu, berubah menjadi sebuah diskusi hangat antara Bapak Yohakim bersama temannya. Lalu Bapak Woi pun melanjutkan cerita sesuai apa yang dipesan oleh orang yang memberi bibit itu. “Mereka pesan katanya, ini kamu bawah kesana belah dan ambil bijinya lalu dicampur dengan abu dapur setelah itu ditanam, jarak tanamnya 3 atau 4 langkah kaki. Biji dari buah ini pun rasanya manis, sehingga bisa diisap sebagai manisan. Mereka juga bilang, katanya buah ini suatu saat bisa dijual”, jadi saya bawah saja, siapa tahu akan berguna di suatu saat, jelas Bapak Woi kepada Bapak yohakim sambil menyodorkan 2 buah kakao kepada Bapak Yohakim.

Penasaran dengan cerita Bapak Woi, Bapak yohakim pun dengan senang hati menerima tawaran dari temannya sambil membelah buah kakao yang baru diberikan itu dan langsung mencicipi rasanya. “Benar, ini rasanya manis dan enak, anak-anak pasti suka, saya harus menanamnya, kalau memang besok-besok tidak dijualpun, kita bisa gunakan untuk manisan buat anak-anak atau pun orang dewasa saat kerja di siang hari. Selain itu kita bisa gunakan untuk penahan teras, kebetulan disini saya sudah buat teras, jadi saya bisa gunakan untuk tanaman penahan teras” sambung Bapak Yohakim menyepakati pembicaraan Woi temannya. Cerita siang itu pun berakhir dengan pamitnya Bapak Woi yang ingin melanjutkan perjalanannya ke kampong Detukoli, sebelah utara dari kampong Dobo Nuapu’u.

Dari dua buah menjadi dua Hektare

Tentunya tidak terlepas dari cerita sebelumnya, setelah menerima dua buah kakao dari temannya, Bapak Yohakim memulai dengan mengikuti petunjuk sesuai apa yang didengarnya dari cerita lepas bersama Woi temannya. Walaupun saat itu manfaat dari kakao yang sekarang menjadi salah satu bahan komoditi unggul belum diketahuinya secara pasti dan dengan pengetahuannya yang terbatas, namun ia serius dalam usaha membudidayakannya. Biji dari dua buah kakao yang berjumlah kurang lebih 80 biji itu kemudian ditanamnya di bagian teras kebun yang dibuat sebelumnya dan ia terus memperhatikannya setiap hari dengan menyiram secara rutin setiap pagi dan sore. Walaupun dengan kesibukan lain sebagai seorang petani ia selalu menyisikan waktunya untuk tetap memperhatikan tanaman ini. Ia pun penasaran dengan bentuk tanaman ini, dari daun, batang serta perkembangan fisik hingga berbunga dan berbuah nantinya karena menurutnya ini jenis tanaman baru baginya. Kesungguhan Bapak Yohakim dalam merawat tanaman ini memang tidak sia-sia, 80 biji dari benih ini tidak ada yang mati, semuanya tumbuh baik dan sehat.

Pada tahun 1969 kakao yang ditanam sekitar 80 pohon tersebut mulai berbuah, namun buahnya hanya dipetik dan dimakan sebagai manisan dari biji luarnya. Walaupun begitu biji-biji itu tidak dibuang begitu saja, ia memberitahu kepada anak-anaknya agar biji kako itu disimpan saja, siapa tahu ada yang membelinya. Bukan saja anak-anaknya, adapun warga lain dalam kampungnya datang meminta untuk makan sebagai manisan terlebih anak-anak, namun mereka tidak tahu, sehingga setelah mengisap manisannya bijinya dibuang begitu saja memang pada waktu itu di kabupaten Sikka kakao belum ada pasarnya. Memang ada beberapa teman dari Bapak yohakim yang menyarankan untuk ditebang saja, karena menurut mereka tanaman ini tidak bermanfaat dan hanya sebagai pengganggu tanaman lain. Namun Bapak yohakim tetap percaya dengan cerita temannya, sealain itu ia juga memanfaatkannya sebagai tanaman penahan teras pada kebunnya. Memang pada saat itu tanaman kakao belum menjadi focus utama bagi Bapak Yohakim. Ia bukan saja menanam satu jenis tanaman, tapi berbagai jenis tanaman baik pangan maupun tanaman komoditi ditanamnya karena menurutnya dalam rentang satu tahun pasti ada bulan-bulan dimana pasokan makanan akan berkurang, sehinga ia juga mengoleksi jenis tanaman yang menurutnya bisa mengatasi masa-masa sulit itu.

Tahun 1976 tanaman kakao sudah cukup berbuah lebat sehingga sudah cukup banyak biji yang dikumpulkan, namun pada tahun ini pun pasar untuk komoditi kakao belum jelas. Di tahun yang sama ada kunjungan seorang insiyur pertanian asal Lembata ke kampong Dobo Nuapu’u dan kebetulan insiyur itu mendatangi kebun bapak Yohakim. Insiyur itu heran dengan tanaman kakao yang sudah cukup banyak di kebunya, dan watu itu insiyur hanya berpesan kepada Bapak Yohakim agar tanaman ini perlu diperbanyak karena suatu saat tanaman ini akan menjadi salah satu jenis komoditi yang mahal. Pesan ini kemudian menambah motivasi dan keyakinan pada Bapak Yohakim untuk terus mengembangkannya.

Pada suatu hari di tahun 1979, Bapak Yohakim Bagi pergi ke Maumere, ketika sedang berbelanja di salah satu toko yang masih diingatnya dengan baik yakni Toko Irama, ia melihat ada satu box besar yang berisi biji kakao yang cukup banyak. Ia coba memperhatikannya secara dekat dan segera ia bertanya kepada cina pemilik toko tersebut, “Baba, ini beli kah?” lalu Cina itu menjawabnya, “iya, itu saya beli, bapak punya ada ko di rumah? Cina itu balik bertanya kepadanya. Dengan senang hati, Bapak Yohakim menjelaskan bahwa di rumahnya ada banyak. Ia pun bergegas pulang dan memberitahukan kepada istrinya, bahwa sudah ada toko yang membeli kakao. Waktu itu kakao yang dibeli cina tersesbut dengan harga Rp.400,-/kg.
Ketika mereka mengumpulkan biji kakao tersebut, saat itu biji kakao yang terkumpul mencapai 4 kantong terigu, pada hari itu juga ia kembali ke Maumere untuk menjualnya. Sampai disana setelah cina itu melihatnya, ternyata biji kakao yang dibawah Bapak Yohakim mutunya sangat bagus sehingga cina itu membelinya dengan harga 500/kg. Biji kakao yang dibawah Bapak Yohakim dari 4 kantong terigu mencapai 40 kg, sehingga ia mendapat Rp.20.000,- Menurut Bapak Yohakim, uang sebesar itu jika disamakan dengan saat ini maka kita sudah bisah membeli 1 ekor kuda. Namun dari hasil penjualan kakao pertama ini, Bapak yohakim langsung membeli seng untuk membuat rumah mereka.

Ketika mengetahui bahwa kakao sudah dapat dijual, maka semangat untuk mengembangkan tanaman ini semakin besar dalam niatnya. Usai mengerjakan rumah tinggalnya, ia bersama istrinya mulai menekuni untuk melakukan pembibitan dalam jumlah banyak. Sejak saat itu setiap hari Bapak Yohakim Bagi bersama istrinya melaukan pembibitan secara serius. Namun pembibitan kali ini berbeda dengan awalnya. Saat itu belum ada polibag seperti sekarang, maka ide kreatif dari bapak Yohakim mulai muncul, ia mulai merancang media pembibitan dari daun pisang dalam jumlah banyak, dan istrinya tinggal mengisi media-media itu dengan tanah hingga mencapai 1000-an koker. Pembibitan pun segera dilakukan dan dirawat secara baik sambil menunggu musim hujan tiba.

Pada tahun berikutnya, hasil pembibitan sudah siap ditanam dilahan yang sudah disiapkan sebelumnya yang luasnya kurang lebih 2 hektar yang saat itu pelindungnya adalah tanaman ubi kayu dan pisang serta kelapa. Akhirnya semua bibit berhasil ditanam seluruhnya. Memang dalam perawatanya tidak mudah seperti apa yang dibayangkan hingga tanaman berbunga dan berbuah namun sekali lagi keuletan menjadi kunci sukses bagi Bapak Yohakim Bagi.

Tujuh tahun kemudian tanaman kakao yang kurang lebih 2 hektar mencapai musim panen raya. Dari hasil kakao tersebut setiap tahunnya Bapak Yohakim kemudian berhasil membiayai adiknya dan beberapa anaknya hingga ke perguruan tinggi. Sejak itu bibit tanaman kakao miliknya mulai menyebar di kampungnya dan bahkan ke kampong sekitarnya seperti Dobo, Paga, Mego dan Sikka Lela. Sebagai bukti tanaman kakao tersebut walaupun sebagiannya sudah diganti dengan menanam ulang, namun ada beberapa pohon yang berdiri hingga hari ini.

Tentunya setiap petani ingin seperti Bapak Yohakim, namun semangat dan keuletan harus kembali ke pribadi setiap petani karena hal ini menjadi tantangan bagi petani kebanyakan. Maka ada ungkapan pesan yang selalu menjadi trend bagi Bapak Yohakim dalam tutur Lionya mengatakan bahwa: “BESU LA’E A’I BUGU MBALE, NO’E LA’E A’I BUGU O’A MBALE” yang artinya : “Kaya telapak kaki tanaman pasti jadi, Miskin telapak kaki tanaman pasti mati”, Sebuah ungakapan penuh makna yang perlu diresapi bagi setiap petani yang mendambahkan kesuksesan. Atau dalam tutur Sikka (krowe) “SUPUNG NAHA WI DERI, LOPA SUPUNG WI GERA” artinya, “menanam harus pake duduk, jangan menanam pake berdiri”. ‘deri=duduk’ dimaknai menetap setelah menanam, ‘gera=berdiri’ dimaknai setelah tanam jalan. (mis: setelah tanam, jalan merantau, maka tentu tanaman tidak akan terawat).

Semoga bermanfaat…

Kamis, 17 November 2016

Hendrikus Gedo, Petani Ulet dan Disiplin

Hendrikus Gedo, Petani Ulet dan Disiplin Kelompok Tani Kaju Naja O’a adalah salah satu kelompok yang berdomosili di dusun Nawuteu tepatnya di desa Kolisia B, Kecamatan Magepanda. Kelompok ini bergabung bersama WTM (Wahan Tani Mandiri) sejak tahun 2014. Kelompok ini beranggotakan 24 orang yang terdiri dari 15 orang laki dan 9 orang perempuan. Tentunya di dalam sebuah komunitas pasti memiliki tipikal atau ciri yang berbeda dari masing-masing anggotanya. Berbeda dengan yang satu ini anggota dengan nama lengkapnya Hendrikus Gedo, lahir di sebuah kampung kecil .....pada tanggal.... Ia mempunyai 4 orang anak dan 3 orang cucu. Hendrikus Gedo dengan sapaan akrabnya bapa Minggus dianugerahi sebagai seorang petani yang tulen. Sosok yang begitu semangat dan boleh dikatakan sangat aktif dan kreatif. Kini, bapa Minggus dipercayakan sebagai salah satu pengurus yang mana bertugas sebagai operator mesin, karena kebetulan kelompok ini memiliki sumur bor yang dimanfaatkan oleh anggota untuk kebutuhan air minum dan siram sayur. Tugas yang dipercayakan kepada Bapa Minggus ia laksanakan dengan sungguh-sungguh dan bertanggung jawab, tepat waktu sehingga aggota tetap semangat. Apabila ada kemacetan atau kesalahan teknis dalam menggunakan mesin bor air, Bapa Minggus langsung menghadirkan tenaga ahli untuk memperbaikinya. Hanya dalam kesehariannya di kelompok, bapa Minggus dikenal memiliki watak keras dan tegas sehingga anggota bisa belajar disiplin sehingga pada saat pertemuan anggota semuanya hadir. Dalam setiap pertemuan selalu ada konsep baru yang ia lontarkan dan ternyata diterima baik oleh anggotanya. Awalnya belum ada arisan kelompok, tiba-tiba dengan spontan dan nada begitu halus beliau menyampaikan “Bagaimana kalau dibuat arisan kecil sehingga bisa membantu kita anggota“. Ungkapan spontan ini kemudian disepakati anggota untuk mengumpulkan uang (Iuran) yang mana setiap anggota duapuluh ribu rupiah (Rp. 20.000) sebagai dana awal kelompok. Bagi Bapak yang mempunyai empat orang anak ini, menurutnya pendampingan WTM cukup bagus. Sangat berbeda dengan pendampingan-pendampingan yang sebelumnya dan sementara ini ia ikuti, ujarnya. Walaupun hanya dengan ilmu dan teknik pola pertanian yang sederhana sudah cukup membantu para petani, tergantung pada petani untuk melihatnya sebagai kesempatan emas untuk anggota terapkan. Pada tanggal 1 Juni 2016, Fasilitator Maria Martha Muda (Fasilitator Lapangan Wilayah Magepanda) bersama anggota melakukan praktek Teknik Olah Jalur di kelompok Kaju Naja O’a. Praktek ini langsung di kebunnya. Sebelumnya lahan sudah disiapkan dengan baik, kira-kira sekitar 20 mx 20 m luasnya. Bapa Minggus selama 2 minggu tidak pernah istirahat hanya karena mencangkul tanah sedalam 50cm, dengan lebar 1 m panjang 7 m untuk olah jalur ini. Dari lahan yang ada semuanya sudah dicangkul sesuai petunjuk yang diberikan. Jumlah olah jalur yang dicangkul berjumlah 20 lajur. Jangankan 2 atau 3 orang yang kerjakan, 5 orang pun pasti tidak sanggup bahkan tidak bisa menghabiskan waktu hanya dalam 2 minggu. Tetapi bagi bapa benar-benar mau ujicoba, apakah ilmu yang diberikan WTM bisa dibuktinyatakan? demikian ulasnya. Ternyata benar, pada bulan berikutnya; yaitu bulan Agustus pada saat kunjungan ke kebunnya, lahan yang dijadikan praktek tersebut semuanya sudah dipenuhi dengan tanaman jagung. Jagung tumbuh subur, karena awalnya bahan organik yang disisihkan cukup padat. Di samping sebelah atas lahan yang masih sisa, ia tanami dengan terung organik, tanahnya pun subur, daunnya hijau dan sudah mulai berbunga. Mari kita belajar dari Bapa Minggus, seorang petani yang tekun, ulet, aktif dan penuh sabar. Apa pun sesuatu yang baru, ia ingin mencobanya.

Jumat, 02 September 2016

Albertus Ruben, Sosok Motivator Kelompok Tani

Lebih dari sekedar bicara, pria hitam manis berjanggut mirip orang timur tenga yang mempunyai nama lengkap Albertus Ruben asal Desa Hale, Kecamatan Mapitara ini memang sudah lama mencintai aktifitas pertanian. Yang menarik bagi orang sekampungnya adalah ia memang sosok pekerja yang rajin, ulet dalam usaha kecilnya, bukan sekedar bicara. Ruben menghabiskan 2 setengah tahun bersekolah di salah satu SMA di Jakarta dan kemuadian memutuskan untuk kembali ke Flores dan akhirnya mengakhiri studinya di SMK Tawatana, Maumere. Ia sebenarnya punya keinginan untuk melanjutkan studi ke jenjang berikutnya, dan ia berminat mengambil jurusan pertanian, namun karena satu dan lain hal terpaksa back to vilage alias pulang kampung.

Namun pria dengan sapaan manis orang sekampungnya “Nong” atau bagi orang muda kampung biasa memanggilnya “Akang Ewok” karena janggutnya, memang tidak patah semangat. Setelah berkeluarga dengan kondisi apa adanya, ia mencoba dengan memulai usaha kecil-kecilan bersama istrinya, Ety. Mulai dari berjualan di pasar dan usaha lainnya seperti ternak kambing dan ayam yang ia kerjakan di kebun kecilnya. Dari usaha yang dijalankan belum begitu menopang keluarganya, namun semangat dan kerja kerasnya serta dorongan dari kedua orangtua yang masih hidup mengalakan rasa putus asa.

Tahun 2014, ia terus melakukan usahanya dengan menanam sayur di pekarangan rumahnya sambil beternak babi, hasilnya cukup memuaskan. Dalam perjalanan usaha kecilnya ini, ia pun berhasil membeli mesin penggiling padi yang beroperasi hingga hari ini. Mengingat waktu kerjanya cukup padat, ia mulai fokus dalam usaha kecilnya ini dengan beternak babi dan operasi mesin giling serta aktifitas lainnya di kebun.

Sungguh tidak egois, walaupun kerjaan menumpuk, selain sibuk dengan usahanya dan saat ini ia juga terpilih sebagai anggota BPD Desa Hale, pria yang sudah dikaruniai 3 orang anak ini (Jose, Putri dan Wulan) sejak mendengar Wahana Tani Mandiri (WTM) merekrut kader tani di Desa Hale, Juni 2016 ia pun semangat untuk bergabung dengan WTM. Menurutnya, ia senang bergabung karena ada beberapa tujuan anatara lain; ia mau belajar pertanian dan mau mendorong orang sekampungnya dalam hal bertani yang benar, dan menurutnya hal ini akan dilakukan sesuai dengan apa yang diperoleh dari WTM.

Pria hitam manis ini, memang sudah pernah melakukan advokasi sendiri  dan membentuk sebuah kelompok tani yang cukup solid di tahun 2013 yang aktif sekitar 1 tahun, sejak masih berada di kampung sebelahnya Kaborbuluk. Namun sejak memboyong istri bersama anak pertamanya, Putri ke Enbatun kampung ayahnya, rupanya kelompok yang dibentuknya kehilangan sosok ruben dan perlahan nama kelompok itu pun menghilang. Dan saat ini sejak dengan WTM, Ruben kembali sudah membentuk tiga kelompok dampingan di desanya dibawa bimbingan WTM, antara lain kelompok, Suka Tani, Maju Tani dan Tani Lestari. Ia juga terlibat sebagai ketua kelompok di salah satu kelompok yakni Tani Lestari.


Sejak bergabung dengan WTM sebagai Kader Tani, Ruben mengaku senang dan berniat untuk mendampingi petani sekampungnya terkhusus kelompok tani yang dibentuknya untuk mencapai kemandirian sesuai platform WTM. Ruben mengaku senang dengan WTM yang salah satunya menerapkan pola pertanian organik yang memang sesuai dengan keinginannya. Selain itu, menurutnya pola pendekatan yang dilakukan WTM memang menarik, karena WTM bukan memberikan sumbangan material melainkan sumbangan pengetahuan teknis dan mendorong petani melakukannya sendiri. (MM-Tim KN)

Minggu, 28 Agustus 2016

SANGGO, PETANI SAYUR ORGANIK DARI MAGEPANDA

Selestina Sanggo, lahir di Duli sebuah dusun kecil, desa Rero Roja, Kecamatan Magepanda, pada tanggal 13 Maret 1976. Di kampung ini ia biasa sapa dengan nama Sanggo. Mama Sanggo memiliki 3 orang anak, 2 puteri dan 1 orang putera. Ibu berkacamata memiliki postur tubuh tinggi, dan ia pun selalu membantu siapa saja yang membutuhkannya. Mama sanggo juga aktif di bidang kerohanian, selain sebagai  tim relawan  dalam program-program bersama Plan dan Caritas. 

Sejak tahun 2015, ia bergabung dengan WTM sebagai salah satu kader. Beliau ini cukup aktif dalam melakukan advokasi, baik dalam kebijakan maupun secara teknis. Ia dimandatkan mendampingi  2 kelompok tani di desa Magepanda; yaitu Kelompok Rapa Laka dan kelompoknya sendiri Sinar Tani Kawa Su’a.  

Selestina Sanggo, Petani Sayur Organik di Pasar Alok-Mof
Dalam diskusi tentang pengembangan tanaman pangan dan sayuran, bersama Fasilitator Lapangan WTM, Maria Martha Muda yang mengutarakan tentang bagaimana seorang petani mampu merawat kebunnya sendiri dengan mengembangkan keanekaragaman tanaman pangan dan berbagai jenis sayuran. Diskusi topik ini membuat ia tertarik, dalam pikirannya mama Sanggo. Beliau kemudian bersama anggota kelompok dampingannya merencanakan  bahwa semua anggota harus memiliki lahan sayur. 

Dalam pertemuan itu juga sempat ia sampaikan bahwa untuk pengembangan sayur sangatlah tidak sulit, kita hanya beli bibitnya saja sedangkan pupuk dan pestisida organik  sudah tersedia di kebun sendiri tinggal saja kita mengelolah. Apa susahnya, kalau kita mulai mencoba. 

Diskusi topik ini menjadi titik awal yang memotifasi anggota kelompok dampingannya. Karena begitu penasaran  dan penuh semangat  mama Sanggo sampai menyewakan lahan kecil  dari keluarganya buat  usaha tanam sayur.  Walaupun miliki lahan berhektar-hektar tetapi diusahakan untuk tanam padi sawah dan ladang. 

Menurutnya,  tanaman itu untuk kita hidup. Sambil menunggu padi mending, saya manfaatkan tanaman sayur sehingga uang selalu ada.  Waktu yang begitu singkat untuk mengelola 12 bedeng.  Tetapi herannya, permasalahan waktu bukanlah menjadi sebuah tantangan maka waktu ini sunggu dimanfaatkan sehingga secara de facto, bedeng-bedeng ini sudah dipenuhi dengan sayur sawi dan kangkung karena memang jenis sayur ini masa panennya  lebih cepat.

Setiap 2 hari sekali, ia selalu mengunjungi usaha kecilnya itu sekaligus menyiramnya  dan tidak lupa memberi pupuk organik secara teratur. Dari hasil pupuk organik tersebut kondisi sayur sawi daunnya segar dan sehat, batangnya besar begitu pun kangkung. Pada awal panen pendapatan yang ia terima sekitar 3 jutaan rupiah, sejak itu panen sering dalam 2 hari sekali sehingga pendapatan yang ia terima sampai sekarang bisa mencapai belasan juta rupiah, (Rp 15.650.00). keberhasilan mama sanggo dalam waktu 5 bulan, ia sudah memperoleh pendapatan yang lumayan. Ini adalah sebuah pengalaman yang baginya adalah luar biasa dan menjadi motivasi bagi petani yang lain, ujar Sanggo. 

Dari hasil kerja kerasnya 6 anggota lainnya  mendapat kesejahtraan yang sama  pula, paling tidak bawang sekilo, gula sekilo dan kopi sekilo tersedia di dapur mami. Pada umunya rata-rata setiap anggota mengembangkan sayur sawi hijau dan kangkung. Hasil panen ia bawa jual ke pasar Alok-Maumere dan ada beberapa konsumen yang menjadi pelanggannya. 

Sayur dan kangkung organik dari kebunnya menjadi bahan pembanding bagi para konsumen di pasar Alok dan malah ditunggu oleh para pelanggannya. Gara-gara sayur organik membuat Ibu dengan ciri khas berkacamata ini bukan terkenal di kampungnya saja tetapi sudah familiar di kompleks pasar alok - Maumere karena sayurnya yang berorganik dan  berhigienis. Produksi sayur organik dari Magepanda menggeser daerah penghasil sayur lainnya seperti Waigete.

Anehnya apabila mama sanggo belum muncul di pasar pasti pelanggannya langsung menanyakan belum datangkah ibu yang kacamata itu. Sayurnya simpan lama tapi masih segar, kita makan tidak rasa nyiluk, enak dan gurih.

Sabtu, 27 Agustus 2016

Hendrikus Gedo, Petani Ulet dan Disiplin


 Kelompok Tani Kaju Naja O’a adalah salah satu kelompok yang berdomosili di dusun Nawuteu tepatnya di desa Kolisia B, Kecamatan Magepanda. Kelompok ini bergabung bersama WTM (Wahan Tani Mandiri) sejak tahun 2014. Kelompok ini beranggotakan 24 orang yang terdiri dari 15 orang laki dan 9 orang perempuan.

Tentunya di dalam sebuah komunitas pasti memiliki tipikal atau ciri yang berbeda dari masing-masing anggotanya. Berbeda dengan yang satu ini anggota dengan nama lengkapnya Hendrikus Gedo, lahir di sebuah kampung kecil Masekea, pada tanggal 6 Juli 1962 Ia mempunyai 3 orang, 1 putra dan 2 putri dan 4 orang cucu.

Hendrikus Gedo dengan sapaan akrabnya bapa Minggus dianugerahi sebagai seorang petani yang tulen. Sosok yang begitu semangat dan boleh dikatakan sangat aktif dan kreatif.

Kini, bapa Minggus dipercayakan sebagai salah satu pengurus yang mana bertugas sebagai operator mesin, karena kebetulan kelompok ini memiliki sumur bor yang dimanfaatkan oleh anggota untuk kebutuhan air minum dan siram sayur. Tugas yang dipercayakan kepada Bapa Minggus ia laksanakan dengan sungguh-sungguh dan bertanggung jawab, tepat waktu sehingga aggota tetap semangat.  Apabila ada kemacetan atau kesalahan teknis dalam menggunakan mesin bor air, Bapa Minggus langsung menghadirkan tenaga ahli untuk memperbaikinya.
Hanya dalam kesehariannya di kelompok, bapa Minggus dikenal memiliki watak keras dan tegas sehingga anggota bisa belajar disiplin sehingga pada saat pertemuan anggota semuanya hadir.

Dalam setiap pertemuan selalu ada konsep baru yang ia lontarkan dan ternyata diterima baik oleh anggotanya.

Awalnya belum ada arisan kelompok, tiba-tiba dengan spontan dan nada begitu halus beliau menyampaikan “Bagaimana kalau  dibuat arisan kecil sehingga bisa membantu kita anggota“. Ungkapan spontan ini kemudian disepakati anggota untuk mengumpulkan uang (Iuran) yang mana setiap anggota duapuluh ribu rupiah  (Rp. 20.000) sebagai  dana awal kelompok.

Bagi Bapak yang mempunyai empat orang anak ini, menurutnya pendampingan WTM cukup bagus. Sangat berbeda dengan pendampingan-pendampingan yang sebelumnya dan sementara ini ia ikuti, ujarnya.

Walaupun hanya dengan ilmu dan teknik pola pertanian yang sederhana sudah cukup membantu para petani, tergantung pada petani  untuk melihatnya sebagai kesempatan emas untuk anggota terapkan.

Pada tanggal 1 Juni 2016, Fasilitator Maria Martha Muda (Fasilitator Lapangan Wilayah Magepanda)  bersama anggota melakukan praktek Teknik Olah Jalur di kelompok Kaju Naja O’a. Praktek ini langsung di kebunnya. Sebelumnya lahan sudah disiapkan dengan baik, kira-kira sekitar 20 mx 20 m luasnya. Bapa Minggus selama 2 minggu tidak pernah istirahat hanya karena mencangkul tanah sedalam 50cm, dengan lebar 1 m panjang 7 m untuk olah jalur ini. Dari lahan yang ada semuanya sudah dicangkul sesuai petunjuk yang diberikan. Jumlah olah jalur yang dicangkul berjumlah 20 lajur. 

Jangankan 2 atau 3 orang yang kerjakan, 5 orang pun pasti tidak sanggup bahkan tidak bisa menghabiskan waktu hanya dalam 2 minggu. Tetapi bagi bapa benar-benar mau ujicoba, apakah ilmu yang diberikan WTM bisa dibuktinyatakan? demikian ulasnya.
Ternyata benar, pada bulan berikutnya; yaitu bulan Agustus pada saat kunjungan ke kebunnya, lahan yang dijadikan praktek tersebut semuanya sudah dipenuhi dengan tanaman jagung. Jagung tumbuh subur, karena awalnya bahan organik yang disisihkan cukup padat.  Di samping sebelah atas lahan yang masih sisa, ia tanami dengan terung organik, tanahnya pun subur, daunnya hijau dan sudah mulai berbunga.
Mari kita belajar dari Bapa Minggus,  seorang petani yang tekun, ulet, aktif dan penuh sabar. Apa pun sesuatu yang baru, ia ingin mencobanya.


Selasa, 10 Mei 2016

BEATRIKS RIKA, SUKSES KAWINKAN PADI

Beatriks Rika, Lahir di Lekebai 29 April 1968. Ia adalah petani perempuan yang dipercaya oleh Wahana Tani Mandiri sebagai salah satu kader tani yang mengurusi(memfasilitasi) tiga kelompok tani di Lekebai.

Dalam program kerja sama WTM dengan Miserior Jerman,ada satu aktifitas penelitian yang dilakukan oleh para kader tani dan petani. Beatriks kemudian mengikuti pelatihan pemulian benih melalui perkawinan silang. Ia  melakukan perkawinan silang padi Chiherang dan Kupa sebagai wujud real dari ilmu yang diperolehnya. 
Beatriks Rika sedang
 Memperhatikan Panen yang ada di Persawahannya

Sebagai uji coba pribadi,  saya buat agar bila sukses, saya akan kemudian menularkannya kepada kelompok tani dampingan WTM yang dikoordinasinya (Kelompok Tani Sinar Tani, St. Yosep, Moretau Mbombe, Usaha Bersama). Ternyata dari perkawinan padi yang ia lakukan telah menghasilkan 8 bulir padi hasil perkawinan yang siap ditanam atau disemaikan agar kemudian mendapatkan benih padi (F1).

Dari padi (F1) ini akan ditanam dan kemudian akan diikuti terus agar melihat apa sifat dan ciri padi ini seperti yang diinginkannya atau tidak? ujarnya saat ditemui di kediamannya. Tambahnya, saya punya catatan yang lengkap soal perkembangan penelitian kawin silang ini. Akan saya serahkan kepada WTM untuk dibuat buku saku atau apalah, ulas Beatriks.

Saya mengawali kegiatan ini dengan menanam dan memantau perkembangan padi. Dari beberapa pohon padi yang siap kawin dipindahkan dari persawahan ke polibag agar memudahkan pemantauan. 


Ada beberapa polibag yang ditanam padi itu kemudian digunting malai jantannya, dan dibungkus. Setelah sehari, dilakukan pengchekan apakan hasil peguntingan tersebut berhasil. dari beberapa tangkai yang digunting itu semuanya siap kawin.

Bulir padi hasil kawin silang
Dari hasil pemantauan tersebut semua malai yang digunting itu siap kawin maka dikawinkan dengan sel jantan yang sudah disiapkan. Perkawinan silang ini menyita banyak perhatian, yang mana pagi dan sore harus dipantau perkembangannya, ujar Beatriks.

Bekat jeri payah dan ketekunannya, uji coba perkawinan silang padi chiherang dan Kupa ternyata sukses, yang mana ada 8 bulir padi yang diperoleh dari satu tangkai (hasil pantau, 12 April).

Kedelapan bulir ini dibiarkan sampai masa panennya dan kemudian dijemur dengan beralaskan kertas minyak kemudia setelah kering dibungkus dengan kain basah selama 2-3 hari. Pada pada tanggal 3 Mei 2016, saya membungkusnya dan tanggal 5, saya chek ternyata sudah muncul kecambah maka saya pindahkan ke polibag untuk disemaikan. 

Sementara saya dalam perawatan agar benih hasil kawin ini dikembangkan, ulas Ketua Seksi Pemberdayaan Perempuan Paroki st. Maria Imaculata Lekebai. 

Ini adalah sebuah pengalaman yang membanggakan secara kelembagaan bersama wahana Tani Mandiri dan secara pribadi, demikian ungkapnya.

Saya akan terus mengikuti perkembangannya, sampai pada adanya sebuah varietas baru yang akan saya beri nama pare 3S (Sega, Sela Sona). Nama ini saya beri sesuai dengan nama leluhur kami di Lekebai, demikian harapan perempuan peneliti yang terlibat dalam banyak kegiatan di desa baik dari institusi agama dan LSM. 


Senin, 29 Februari 2016

Ferdinandus Yandayani Wula Hidup Bersama Petani

Terlahir Sebagai putra sulung dari tiga bersaudara membuat Ferdinandus Yandayani Wula tumbuh menjadi sosok yang  bertanggungjawab. Sejak kecil ia selalu aktif membantu orang tuanya dalam berbagai rutinitas harian mereka. Ketika beranjak remaja ia juga selalu aktif dalam berbagai kegiatan orang muda di wilayahnya baik itu di bidang sosial maupun agama. Hal inilah yang kemudian menempa Yan menjadi sosok anak muda yang mempunyai semangat sosial yang tinggi. Semangat ini pulalah yang menggiring nong hitam manis ini mengambil jurusan Ilmu Sosial di UNWIRA Kupang, usai menamatkan pendidikan tingkaat SLTA-nya.

Setelah memperoleh Gelar Sarjana Sosial tahun 2008, pemuda pecinta klub Barcelona ini kembali ke kampung halamannya untuk mengamallkan ilmu yang telah diperolehnya. Dengan berbekal ilmu sosial dan pengalaman berorganisasi semasa kuliah, Yan lalu mengabdikan diri membuat berbagai terobosan yang kemudian banyak berkontribusi bagi perkembangan kampung Tuwa yang telah memberikan berbagai sumber-sumber kehidupan baginya. Berkat pengabdiannya dan kedekatannya dengan semua kalanganmasyarakat, tamatan UNWIRA ini kemudian terpilih menjadi BPD periode 2010-2016.

Di wilayah tempat ia berdomisili Yan dikenal sebagai penggagas berbagai aksi sosial dan ide-ide segar tentang bagaimana membangun kampung atau desanya menjadi yang lebih baik. Selain itu Yan juga dikenal dengan sosok yang dekat dan peduli dengan masyarakat tani.  Kepeduliannya terhadap keadaan masyarakat tani  menggugah pria berbadan tegap ini  bergabung dengan WTM pada tahun 2009 dengan harapan untuk meningkatkan kualitas hidup para petani, walaupun ia harus bergelut dengan ilmu baru yang bukan menjadi basic studinya. Namun hal itu tidak menyurutkan semangatnya (Teknik Pertanian), untuk terus membantu meningkatkan kuatas hidup sesamanya. Yan mengakui selama bergabung bersama WTM, ia mendapat berbagai hal baru, mulai dari teknik pertanian hingga pendampingan kelompok tani. “Saya sangat tertarik dengan berbagai terobosan yang dibawah WTM, sebab pola pendampingan seperti ini baru saya temukan dan saya merasa sepertinya cocok dengan cita-cita saya untuk mengembangkan kualitas kami sebagai masyarakat tani di wilayah ini, baik itu di pendapatan, teknik usaha tani maupun pola pikir masyarakat” ujar pria yang selalu tampil dengan gaya rambut plontos ini.  Lebih ketua stasi Tuwa inimengakui bahwa telah banyak perubahan yang dirasakan setelah kami bergabung menjadi kelompk tani dampingan WTM, Kini tiga kelompok dampingannya mengalami perkembangan yang baik.

<marquee>WTM LAKUKAN VAKSIN AYAM DI 3 KELOMPOK TANI DI EGON GAHAR</marquee>

Ansel Gogu (Kader Tani WTM) sedang Vaksin ayam anggota Kel. Tani Egon Gahar, KN , Dalam rangka mendorong sebuah pola budi daya ternak t...