Minggu, 13 Agustus 2017

KADER TANI DILANTIK SEBAGAI PEMPIMPIN DESA HALE

Albertus Ruben bersama Istri, Anak dan Antonius A. Yani (Ketua BPD Hale)
Maumere KN, Setelah pertarungan melawan tiga rekannya beberapa pekan lalu dalam ajang Pemilihan Kepala Desa (Pilkades), Albertus Ruben akhirnya dilantik menjadi Kepala Desa Hale periode 2017-2023 Kecamatan Mapitara, Kabupaten Sikka.  Acara pelantikan diselenggarakan di Ibukota Kabupaten Sikka, Maumere, pada tanggal 09 Agustus 2017 di gedung Sikka Convension Center (SCC) bersama 36 kepala desa lainnya.

Saat ditemui tim KN usai acara pelantikan di kediamannya,  Albertus Ruben menyatakan bahwa dirinya akan serius mengurus Hale kedepan. Menurut Ruben, Desa Hale selama ini sungguh prihatin dalam urusan pemerintahan desa dan nyaris kembali ke desa induk Hebing. Hal ini dipantau melalui keluhan masyarakat selama dirinya menjadi anggota BPD dan aktif sebagai Kader Tani melalui program Critical Ecosystem Patnership Found (CEPF) yang bekerjasama dengan Wahana Tani Mandiri (WTM) Sikka.

Ruben berkomitmen, bahwa selain membenahi Desa Hale secara managemen pemerintahan, ia juga berniat akan meperbaiki kondosi ekonomi masyarakatnya terutama bagi petani. Hal ini sesuai visi misi yang dipaparkan saat kampanye di empat dusun di Desa Hale beberapa waktu lalu.

Ruben mengakui, bahwa wilayahnya sungguh berpotensi dan patut disyukuri sehingga perlu dikembangkan demi kesejahteraan masyarakatnya. Dengan demikian dirinya akan dengan sungguh membangun Desa Hale secara lebih baik.

"Menurut saya, menjadi kepala desa, bukan ajang mencari pekerjaan atau popularitas menjadi utama, namun sebagai putra pribumi saya merasa prihatin dengan kampung halaman saya sendiri atas keterpurukan masyarakat dari berbagai hal yang selama ini terjadi" ungkap Ruben.

Lanjut Ruben, untuk mewujudkan visi dan misi saya, tentunya tidak terlepas dari dukungan semua masyarakat, pihak pemerintah terkait dan kepada sauadara saya yang kalah dalam pertarungan ini.

Penutur Cerita: Mus Mulyadi (Fasilitator Lapangan WTM-CEPF)

Selasa, 08 Agustus 2017

HIKMAH DARI SUDUT KEBUN

HIKMAH DARI SUDUT KEBUN
(sebuah Permenungan)
Mus Mulyadi
Albertus Ruben, Kepala Desa Hale bersama teman-teman Kadernya pada Acara Pemangkasan Kakao di Hale

Ketika kita mengikuti pertemuan atau diskusi formal di kantor-kantor atau dalam sebuah rapat yang digelar resmi tentunya merupakan hal yang lazim dilakukan dan tidak sedikit orang berkomentar bahwa situasi ini cukup melelahkan.

Ruangan yang gerah, monopoli pembicaraan, perbedaan pendapat tanpa solusi, melebarnya pokok pembicaraan, alhasil melelahkan saraf otak dan akhirnya kadang berdampak buruk pada implementasi yang tidak maksimal usai membuat suatu kesepakatan.

Sebuah metode yang berbeda alah kawan-kawan petani dampingan Wahana Tani Mandiri (WTM). Terkesan sederhana namun berarti. Cerita penuh gelak tawa dan canda ria di balik sepihnya alam terbuka di pondok-pondok, kebun-kebun ataupun di pinggir kali. Namun jangan kira hanya sekedar canda ria yang tidak berarti.

Ada segudang makna disana, persaudaraan, kekeluargaan,  terjalinannya hubungan sosial antar sesama dan sederet semangat yang siap dituntaskan.

Bukan cuma itu, mengalirnya inspirasi dari setiap peserta menjadi topik hangat, yang kemudian menjadi coretan rencana kerja kelompok.

Yah, tentu berbeda ketika berhadapan dengan sahabat tani, mereka butuh sebuah penjelasan yang mudah dicerna dengan suasana santai. Penjelasan disertai praktek adalah jawaban pasti untuk setiap persoalan.

Seperti cerita dari sahabat tani Desa Hale, Kecamatan Mapitara dibawa dampingan kader tani Albertus Ruben, Antonius Teysen dan Gerfasius Alfred yang telah menerapkan metode ini mengakui telah ada perubahan semangat di tingkat anggota kelompok tani.

WTM LAKUKAN KAJIAN PSDA DI DUA DESA

Will Woda (Koord. Advokasi CEPF sedang Fasilitasi PSDA di Dobo Nuapuu
Maumere, KN. Dalam rangka mewujudkan pelatihan Legal Drafting, dibutuhkan sebuah kajian awal sebagai materi dalam proses pelatihan tersebut. Untuk itu, dua tim tersebar di wilayah desa Dobo Nuapu'u dan Napugera. Di Dobo Nuapu'u difasilitasi oleh Wihelmus Woda (Koordinator Advokasi CEPF) dan Aleks Bambang, Koordinator Pertanian WTM, yang juga dihadiri Sergius Solo, Kepala Desa Dobo.

Herry Naif, sedang Fasilitasi Kajian PSDA
Sedangkan di Desa Napugera, difasilitasi oleh Herry Naif, Koordinator Program WTM-CEPF, Martinus Maju dan Yohanes Dawa (Fasilitator Lapangan Misereor). Juga hadir pada saat itu, Stefanus Tuda.

Kedua kegiatan ini dilakukan bersamaan di desa masing-masing tetapi pada hari yang sama yakni, tanggal 5 Agustus 2017. 

Kajian di desa Napugera, menggunakan Metode PRA terkhusus alat bantu Diagram Venn (pemetaan aktor). Dalam proses itu, diidentifikasi ada begitu banyak aktor baik internal maupun eksternal yang ikut berperan di desa Napugera. 

Diidentifikasi bahwa aktor yang berperan selama ini adalah Kepala Desa, BPD, Poktan, Kelompok Wanita Tani, Dinas Pertanian/PPL, Dinas POK, Pansimas,  Tokoh Masyarakat, Tokoh Agama, Tokoh Adat, Dinas PMD, Pemerintah Kecamatan, Polisi Desa, Babinsa, OMK.

Dari berbagai aktor yang ada kemudian dibuat klasifikasi untuk menentukan jauh dekat sesuai dengna peran. Dalam kajian itu kemudian ditentukan jauh-dekat sesuai dengan peran yang dimainkan oleh para aktor. 

Kajian ini dilakukan sebagai sebuah proses awal sebelum dilakukan pelatihan legal drafting, yang mana merupakan salah satu kegiatan dari program “Peningkatan Kapasitas Petani dalam Adaptasi Perubahan Iklim lewat Pendekatan Usaha Tani Berbasis Konservasi” kerja sama WTM dengan Misereor. (Ryn - KN)



WTM-MISEREOR JERMAN LAKUKAN PELATIHAN PERUMUSAN PERDES

Robert Ray (Kepala Dinas PMD Sikka) dan Win Keupung (Direktur WTM)
Maumere - KN. Wahana Tani Mandiri (WTM) dalam kerja samanya dengan Miseror Jerman dalam Program “Peningkatan Kapasitas Petani dalam Adaptasi Perubahan Iklim lewat Pendekatan Usaha Tani Berbasis Konservasi”, salah satu aktivitasnya adalah advokasi kebijakan, yang mana mendorong pemerintah lokal (desa) untuk mengedepankan kebijakan yang berpihak pada petani dan kelestarian lingkungan hidup. Kegiatan Pelatihan Perumusan Peraturan Desan ini dilakukan di Puskolap Jiro-Jaro, Tana Li, Desa Bhera, Kecamtan Mego, Kabupaten Sikka, (6-10/08).

Kegiatan perumusan Peraturan Desa dihadiri peserta dari Desa Dobo Nuapu’u, Napugera dan Bu Selata difasilitasi oleh Yohanes Suban Klede (PBH – Nusra). 

Sebelum pelatihan dilakukan acara pembukaan yang dihadiri oleh Carolus Winfridus Keupung (Direktur WTM), Robertus Ray, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD), Yohanes Suban Kleden (Fasilitator dari PBH Nusra).

Winfridus Keupung, mengungkapkan bahwa kerja sama WTM-Misereor Jerman ini telah berlangsung 4 (empat) tahun. Bahwa selama interval waktu ini dilihat bahwa ruang kebijakan lokal memegang peran penting dalam upaya menciptakan sebuah kebijkan yang berpihak pada kelompok tani dampingan.

Sedangkan, Robertus Ray, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat desa (PMD) dalam sambutannya mengatakan bahwa Apreseasi kepada Lembaga Wahana Tani Mandiri (WTM) yang memiliki kepedulian terhadap desa. 

Saya berharap bahwa produk Peraturan Desa yang dihasilkan itu hendaknya memperhatikan keadaan dan kebutuhan wilayah masing-masing desa. Dan kami berhadap ke depan kita bisa berkolaborasi antara pemerintah dengan LSM sebagai mitra dalam mendukung Program Pembangunan Desa.
Setelah itu, Robert Ray, memberikan materi tentang kebijakan Pembangunan dan Otonomi desa sebagai materi pertama dalam pelatihan perumusan peraturan desa.

Yoh. S. Kleden sedang memfasilitasi Pelatihan Perancancangan PERDE
Selanjutnya Yohanes Suban Kleden memfasilitasi peserta tentang bagaimana membuat sebuah peraturan desa dengan memperhatikan kaidah-kaidah hukum. Prinsipnya peraturan desa yang dibuat tidak bertentangan dengan Undang-Undang atau peraturan yang lebih tinggi. 

Yohanes juga memfasilitasi tentang bagaimana membuat Analisa ROCCIPI sebagai sebuah metode dalam pembuatan peraturan desa, karena dengan analisa ini akan membantu para peserta dalam merumuskan substansi dan pasal-pasal apa saja yang mau diutarakan dalam peraturan desa tersebut. (Ryn-KN)


Sabtu, 05 Agustus 2017

CEPF DAN PERKUMPULAN BURUNG INDONESIA MONITORING PROGRAM WTM



Herry Naif (Koord. Program WTM presentasi pelaksanaan program
Program “Improving Ecosystem Management and Livehoods Around Egon Mountion” kerja sama Wahana Tani Mandiri dengan Perkumpulan Burung Indonesia dan Critycal Ecosystem Partnership Fund (CEPF) yang sudah berjalan setahun di wilayah Kecamatan Mapitara. Ada berbagai aktifitas usaha tani dan advokasi pengelolaan kawasan hutan yang lestari terus gencar dilakukan WTM itu, dimotoring dan dievaluasi bersama tim Perkumpulan burung Indonesia dan CEPF.

Karena itu, kegiatan Monitoring dan evaluasi dilakukan selama dua hari (3-4) Agustus 2017. Pada hari, Kamis 3 Agustus dilakukan diskusi dengan presentasi program oleh Herry Naif (Koordinator Program WTM-CEPF). Beberapa materi yang dipresentasikan adalah Kegiatan Studi Pengelolaan Sumber Daya Alam yang telah dilakukan di 4 desa (Natakoli, Egon Gahar, Hale dan Hebing), Legal Drafting mulai dari pelatihan hingga pada penyusunan Peraturan Desa (PERDES), yang mana: Perdes Hebing tentang Perlindungan Kawasan Mata Air, Perdes Hebing tentang Penertiban Ternak; Perdes Natakoli tentang Perlindungan Kawasan Mata Air dan Perdes Egon Gahar tentang Pengelolaan Air Minum. Bahwa desa Hebing dan Egon Gahar sudah pada tingkatan Konsultasi ke Pemerintah Kecamatan sedangkan Hale dan Natakoli pada tingkatan Konsultasi Publik, ulas Herry.

Sedangkan pengelolaan HKm Mapi Detun Tara Gahar sudah pada tahapan Pembahasan dan Penyempurnaan Rencana Kerja Hutan Kemasyrakatan (RK-HKm) dan pembersihan lahan, diharapkan awal musim tanam, telah dilakukan penanaman sesuai dengan design kebun yang sudah direncanakan, harapnya.

Pada tanggal 4 Agustus, dilakukan Kunjungan lapangan ke Kelompok Tani Lero Bekor I, desa Egon Gahar. Kegiatan kunjungan ini dihadiri oleh Grand Director CEPF Amerika, Daniel Rohberg, Tiburtius Hani (Perkumpulan Burung Indonesia), Direktur WTM, Herry Naif Koordinator Program WTM dan para fasilitator lapangan.

Setelah dilakukan pantau beberapa kebun coklat yang sudah dilakukan pemangkasan, kebun hortikultura dan kandang ayam, dilakukan diskusi rombongan yang difasilitasi oleh Herry Naif (Koordinator Program WTM-CEPF). Dalam diskusi itu, menurut Daniel bahwa ia sangat bangga karena para petani sudah memulai dengan sebuah pola usaha tani yang menjadikan kelestarian lingkungan hidup sebagai salah satu hal penting. Lebih dari itu, dia mengakui bahwa wilayah ini masih sangat hijau, dan malah ia juga mempertanyakan tentang bagaimana rakyat memenuhi kebutuhan kayu.

Menurut Anselmus Gogu (ketua kelompok tani Lero Bekor yang sekaligus kader tani) mengucapkan terima kasih kepada CEPF dan WTM yang bersedia mengunjungi kelompok kami. Bahwa penebangan pohon dilakukan setelah kami mendapatkan ijin dari Dinas Kehutanan melalui survey lokasi. Namun, kami juga tidak memungkiri kalau ada yang melakukan ilegal logging karena ada yang ingin mendapatkan banyak uang. Tetapi hampir sudah setahun aktifitas ilegal logging tidak ditemukan. semoga hal ini terus terjadi sehingga kawasan Egon Ilimedo, harapnya.

Kemudian dilanjutkan dengan diskusi Rombongan Kunjungan lapangan ini dengan para pengurus dari 4 sub kelompok HKm dari HKm Mapi Detun Tara Gahar yang dilakukan di Kantor desa Egon Gahar yang difasilitasi oleh Yustinus Yanto.

Hadir dalam diskusi itu Tiburtius Hani, Daniel Dorthberg (Grant Director CEPF) Yanvitalis Yulianus (Kepdes Egon Gahar), Win Keupung (Direktur WTM) dan Herry Naif (Koordinator Program WTM-CEPF).

Win Keupung dalam sambutannya mengatakan bahwa Kita perlu kembali melihat pengelolaan kawasan HKm yang sudah mulai berjalan. Ada beberapa aktifitas mulai jalan. Kita sudah punya kesepakatan melalui RKHKm mengakomodir tentang berbagai hal sebagai pedoman. Kami juga sudah berkoordinasi dengan desa agar HKm yang sedang berjalan ini terus dijaga.

Kami memberi apreseasi  terhadap dinamika yang sedang terjadi. Terasa lebih rumit di awal tetapi senang karena sudah mulai berjalan.  Kami berharap bahwa ini tugas pemerintah desa ke depan. Kita berharap juga komunikasi yang sudah dibangun dengan UPT-KPH  agar apa yang sudah dibangun selama ini terjaga baik, ujar Win.

Menurut saya, tanggung jawab penyelamatan hutan ini bukan hanya tanggung jawab pemeriintah tetapi tanggung jawab warga dan kita semua. Kita semua perlu mengamankan kawasan ini. Karena kawasan ini sangat bermanfaat untuk seluruh warga sikka. Karena itu, kami dari WTM kami menempatkan staf di sini agar HKM di sini lebih aktif agar kita bergerak maju. Dan ini berdampak positif pada pengelolaan dan kehidupa nkita terutama kesejahteraan, ujar Direktur WALHI NTT (2007-2010).

Sedangkan Yanvitalis Yulius, Kepdes Egon Gahar mengulas bahwa HKm itu  prosesnya panjang. Sejak 2013, pengelolaannya mandek. Sejak pendampingan dari WTM pengelolaan HKM mulai berjalan baik. Wilayah HKm itu ada di popo regang dan Wolon Busur. 
Hari ini, saya mewakili masyarakat desa Egon Gahar menyatakan bahwa kami sangat berbangga dengan kunjungan CEPF dan Perkumpulan Burung Indonesia. Pak Daniel dari CEPF, pastinya merasakan sebuah keunikan di wilayah ini, ujar Yulius.

Sedangkan Daniel Rorberg, Grand Director CEPF Amerika mengatakan bahwa Saya senang sekali bisa melihat tempat ini. Saya di Amerika duduk di kantor tidak tahu apa yang dikerjakan oleh WTM dan Anggota Kelompok tani dan HKm di sini.

Hari ini, Saya bisa datang langsung dan melihat langsung, karena kesannya lebih enak. Kami percaya bahwa lingkungan dan manusia  itu itu penting. Kemitraan di antara dinas, masyarakat, pada akhirnya hasilnya lebih baik. Saya bisa mendukung kegiatan-kegiatan ini dengan senang hati.

Ketua Forum HKm Mapi Detun Tara Gahar, Firmus Piru mengatakan bahwa IUP HKm ada sejak tahun 2013. Tetapi karena tidak ada aktifitas maka tahun 2015 kami melakukan insiatif untuk mendistribusikan lahan pada anggota namun ditegur Dinas kehutanan dan dibatalkan. Sampai dengan 2016 juga belum ada.

Namun setelah dilakukan musyawarah besar HKm Mapi Detun Tara Gahar oleh WTM dan UPT KPH Sikka yang dihadiri oleh anggota, mulai saat itu kegiatan HKm mulai berjalan sampai hari ini. Hanya saja saya tidak mengikuti seluruh proses, ujar Kepsek Welin Watu.

Menanggapi diskusi tersebut, Benediktus Buhe, menceritakan bahwa Saya kerja di areal HKm sesuai dengan pembagian. Saya sudah buat pondok. Di Welin Watu kami sedang kerja di Popo Regang. Kami ada 20an anggota melakukan kegiatan di sana. Hingga hari ini beberapa anggota di arealnya sudah punya teras, ujar Bene.

Gonzales, anggota BPD Egon Gahar mengatakan bahwa kita gunakan areal HKm itu untuk menghijauhkan.  Kita harus menunjukkan bahwa secara turun temurun kita menjaga hutan kita. Kita makan dan minum dari hutan yang ada.

Daniel Rothberg menanggapi sharing dan diskusi dengan petani, ia mengatakan bahwa Kita punya dasar untuk lebih maju. Orang sudah mulai mengertinya. Saya melihat bahwa ini sebuah langkah yang baik, kemitraan yang baik dengan masyarakat dan pemerintah itu memberikan sesuatu yang baik dan itu mulai berjalan jelas. Kita punya harapan. Kita sudah dapat IUP, kelola dengan baik.
Sedangkan Tibur Hani dari Perkumpulan Burung Indonesia mengatakan bahwa  Saya mengajak kita semua untuk menjaga kepercayaan. Di banyak tempat, ada pengalaman negatif mereka tebang pohon dan kemudian berdampak buruk terhadap keterbatasan dan bahkan kekeringan air. IUP itu adalah kepercayaan pemerintah kepada kita untuk menjaga alam.

Kita mendapat berbagai layanan dari alam. Kalau alam sakti kita tidak bisa mendapatkan pelayanan yang baik, ujar Tibur.

Yosef Arianto salah satu peserta dari BKSDA unit Sikka menanggapi bahwa kami sangat mendukung HKm yang dibangun.  Kami lebih fokus kepada hutan konservasi. Kami tidak mengerti baik tentang HKm. Prinsipnya kami mendukung dan mendorong pengelolaan yang melestarikan hutan.


Lebih lanjut, Yosef mengungkapkan bahwa HKm semestinya lebih berkaitan dengan KPH. Egon Gahar menjadi kawasan penyanggah.  Kami juga mendukung kegiatan HKm. Namun BKSDA fokus pada yang statusnya Suaka Margasatwa. (Rin-KN)

Jumat, 04 Agustus 2017

WTM DAN PEMDES BHERA SELENGGARAKAN PELATIHAN MANAJEMEN

Martinus Maju sedang memfasilitasi Pelatihan di Lekebai (2/8/17)
Maumere-KN. Wahana Tani Mandiri (WTM) dalam Program Penguatan Kapasitas Masyarakat Tani dalam Adaptasi Perubahan Iklim lewat Usaha Tani Berbasis Konservasi, dalam kerja samanya dengan Miseror itu, dalam pelaksanaan Pelatihan Manajemen Kelompok Tani bekerja sama dengan Pemerintah Desa Bhera, Kecamatan Mego.

Kegiatan pelatihan ini dihadiri oleh Simon Wara (Kepala Desa Bhera), Wihelmus Wara (Ketua BPD Bhera), Martinus Maju (Fasilitaotor Lapangan Kecamatan Mego dan Yohanes Dawa (Fasilitator Lapangan Kecamatan Tanawawo) serta Herry Naif (Koordinator Program WTM-CEPF). Peserta kegiatan yang hadir dalam kegiatan itu adalah pengurus kelompok (ketua dan sekretaris dari 11 kelompok tani di desa Bhera).

Simon Wara, pada acara pembukaan mengatakan bahwa manajemen kelompok tani yang ada di desa Bhera baik yang didampingi WTM maupun yang belum didampinginya harus dibenahi. Bila tidak kelompok tani itu akan menjadi Bebu (bentuk dan bubar), kata Simon.

Sebelum dilakukan acara itu, dilakukan pengukuhan 2 kelompok tani yakni; Kelompok Bitawara dan Rate Wae) sebagai kelompok tani baru di desa itu.

Sedangkan, Wihelmus Wara (Ketua BPD Bhera) mengatakan bahwa kelompok-kelompok tani yang ada ini harus serius mengikuti peningkatan kapasitas yang diselenggarakan oleh lembaga-lembaga yang masuk ke desa ini, agar dari waktu ke waktu ada perubahan yang signifikan. Malah lebih bagus kalau semua kelompok dampingan yang ada di desa ini didampingi WTM, katanya.

Sedangkan Martinus Maju (Fasilitator Lapangan WTM) mengulas bahwa kelompok-kelompok tani yang ada hari ini bukanlah kelompok baru, karena telah sejak lama didampingi WTM. Hanya saja bahwa dalam sekian lama perlu ada pemugaran manajemen sehingga juga ada reorganisasi dan restrukturisasi.

Lebih dari itu, kelompok tani harus memiliki sebuah perencanaan, monitoring dan evaluasi. Karena itu akan menjadi indikator untuk dilihat sehat tidaknya sebuah kelompok tani yang ada, kata Tinus.

Herry Naif, Koordinator Program CEPF membawakan materi tentang tipe-tipe kepemimpinan dan Kerja sama. Dalam materi itu, para peserta menyebutkan berbagai tipe pemimpin yang tampak selama ini seperti: otoriter, demokratis, karismatik dll.

Dalam ulasannya, Herry menegaskan bahwa sebuah kelompok tani harus diorganisir dan memiliki manajemen yang transparan dan akuntable. Dengan itu bisa dibangun kerja sama dengan pihak luar karena secara internal sudah kuat. Tetapi bila dalam kelompok masih amburadul maka jangan bermimpi untuk bekerja sama dengan pihak luar. (Ryn-KN)



<marquee>WTM LAKUKAN VAKSIN AYAM DI 3 KELOMPOK TANI DI EGON GAHAR</marquee>

Ansel Gogu (Kader Tani WTM) sedang Vaksin ayam anggota Kel. Tani Egon Gahar, KN , Dalam rangka mendorong sebuah pola budi daya ternak t...