Selasa, 05 Juli 2016

DOKUMEN LAPORAN PEMBENTUKAN KELOMPOK TANI

PROGRAM: PENINGKATAN PENDAPATAN MASYARAKAT DALAM MENDUKUNG MANAJEMEN EKOSISTEM BERKELANJUTAN DI KAWASAN EGON

1.      LATAR BELAKANG
Mayoritas penduduk kecamatan Mapitara adalah petani dengan sistem pertanian ladang pindah (gilir-balik). Kondisi tanah di seputaran wilayah Mapitara tergolong subur, karena berada di kawasan vulkanik Egon. Pola pertanian yang diterapkan warga belum menjamin sebuah pengelolaan pertanian berkelanjutan. Tidak heran, bila kualitas hidup yang lebih baik tidak dicapai, namun masifnya kerusakan lingkungan di kawasan tersebut terus terjadi. Sebab, hampir semua situasi keterbatasan disikapi masyarakat dengan melakukan alternatif pekerjaan lain, yaitu dengan merambah hutan, melakukan aktifitas ilegal loging untuk kebutuhan kayu yang mana dijual dalam bentuk kayu bahan bangunan dan kayu bakar.
Program “Peningkatan Pendapatan Masyarakat dalam Mendukung Manajemen Ekosistem berkelanjutan di Kawasan Egon”, menawarkan sebuah model pengelolaan pertanian yang komprehensif dengan mengedepankan pengelolaan lingkungan yang berkeadilan sosial dan ekologis menuju tujuan keselamatan bersama.
Telah dilakukan beberapa langkah strategis program oleh WTM di awal program sebagai upaya memperkuat kapasitas petani baik secara konsep maupun teknis pertanian. Identifikasi dan pembentukan kelompok tani yang diperkuat dengan struktur kepengurusan dari 25 kelompok tani dampingan yang tersebar di desa Natakoli, Hale, Hebing dan Egon Gahar merupakan hal utama yang dilakukan. Diyakini, kelompok tani yang memiliki organisasi dan memiliki sistem manajemen kelompok berdampak postif kepada petani dalam mencapai kemandirian baik kepada keluarga tani ataupun kelompoknya.
Kelompok tani adalah sekelompok orang yang memiliki visi dan misi yang sama dalam mengembangkan usaha taninya. Atau kelompok tani adalah kumpulan petani yang terikat secara formal atas dasar keserasian, kesamaan kondisi lingkungan (sosial, ekonomi, dan sumber daya). Itu berarti mereka (petani) memiliki kedekatan dan sehati dalam berjuang bersama.
Beberapa faktor pengikat, diantaranya:
·        Adanya kepentingan bersama anggotanya,
·         Adanya kesamaan kondisi sumber daya alam dalam usaha tani,
·         Adanya kondisi masyarakat dan kehidupan sosial yang sama,
·         Adanya saling percaya-mempercayai antara sesama anggotanya,
   Adanya kepemimpinan kelompok yang mengorganisir kegiatan kelompok dan memimpin manajemen kelompok tani yang disepakati bersama.


Beberapa faktor internal ini, dijamin kerja sama antara individu serta perlu dilakukan pengembangan usaha taninya sesuai dengan daya dukung lingkungannya tentunya akan memberi nilai positif bagi kehidupan petani.
Oleh karenanya, pendampingan terhadap petani melalui pendekatan kelompok dilaksanakan sejalan dengan pendekatan terhadap pengembangan wilayah. Kelompok tani hendaknya dijadikan sebagai media belajar organisasi dan bekerja sama antar petani, dalam upaya produksi pertanian, teknis produksi dan pemasaran.
Petani harus didorong untuk hidup selaras dengan alam melalui pola pertanian terpadu. Sejak awal, petani perlu diperkenalkan tentang sistem pertanian organik, konservasi tanah dan air, pengembangan perkebunan yang ramah terhadap hutan. Lebih dari itu, ada usaha-usaha alternatif yang dikembangkan seperti pengembangan ternak yang akan meningkatkan pendapatan ekonomi petani.
Dalam konteks itu, pelaksanaan program tersebut dibutuhkan pembentukan kelompok tani di desa Natakoli, Egon Gahar, Hebing dan Hale sebagai media dalam mempermudah koordinasi dan konsolidasi.
Pembentukan 25 kelompok tani yang beranggotakan 485 anggota (L, 408) dan (P, 77)  juga mengintegrasikan semangat dan tekad kebersamaan dalam mengejawantakan upaya pencapaian kualitas hidup petani di Mapitara. Selain itu, mendorong rakyat (petani) di wilayah Mapitara agar secara berkelompok melakukan pemulihan lingkungan demi menjadikan alam sebagai pelayan kehidupan. Malah ini dijadikan sebagai spirit dalam proses penyelamatan hutan dan perbaikan sistem atau pola pertanian yang diemban warga Mapitara.

2.      TUJUAN
Tujuan yang ingin dicapai dalam kegiatan pembentukan kelompok tani  di wilayah Mapitara yang dilengkapi dengan struktur kepengurusan,  adalah :
·         Mengorganisir dan Mengkonsolidasi para petani di Mapitara dalam wadah/organisasi kelompok tani  yang telah dibentuk;
·         Mendata kembali  dan memastikan kelompok HKm beserta keanggotaanya  di wilayah Mapitara
·         Memetakan permasalahan organisasi

3.      PROSES DAN HASIL
Berasas pada ketiga tujuan program tersebut, ada beberapa aktifitas telah dirancang untuk memenuhinya. Karena itu, mengawali program tersebut, WTM mendiskusikannya secara kelembagaan dan kemudian ditugaskan tim melakukan tugas pembentukan kelompok tani dan struktur organisasi yang telah dibentuk dan sedang berjalan agar dipastikan pelaksanaan program.
Beberapa aktifitas yang disepakati adalah tatap muka dengan pemerintah desa, sosialisasi dan pembentukan kelompok tani di daerah yang belum ada.

3.1.            PROSES KEGIATAN
Tatap Muka/Sosialisasi Program dengan Pemerintah Desa
Pertemuan dengan pemerintahan desa di Mapitara diantaranya: Pemerintah Desa Hebing, Pemerintah Desa Nata Koli, Hale dan Egon Gahar sebagai wujud sosialisasi porgram. Selain itu, maksud sosialisasi ini juga secara tidak langsung meminta dukugan pemerintah lokal/desa untuk memberikan dukungan baik berupa kebijakan atau alokasi budget yang berpihak pada pengembangan petani.
Lebih dari itu, pemerintah desa juga perlu menjadikan upaya penyelamatan lingkungan melalui usaha tani dan berbagai kebijakan lain yang berpihak pada lingkungan terutama dalam memulihkan lingkungan.

Sosialisasi Program  dan Pendataan Kelompok Tani
Sosialiasi program kepada kelompok sasar yang akan menjadi penerima project (partisipan) juga dilakukan konsolidasi dan reorganisasi kelompok tani yang telah macet atau tidak berjalan. 
Dari hasil konsolidasi di awal program terjadi perbedaan data jumlah kelompok tani yang mana pada proposal itu, 545 sedangkan setelah dipetakan oleh Tim WTM terdapat 485. Karena itu, terjadi perbedaan jumlah dengan sebelum pendataan riil program, yakni 60 orang.
Sedangkan kelompok tani pada proposal ada 25 kelompok, tetapi setelah dilakukan konsolidasi jumlah kelompok tani menjadi 28 karena ada pemekaran di kelompok napun kontas yang awalnya 1 kelompok menjadi 3 kelompok.

3.2 PEMBENTUKAN KELOMPOK TANI DAN STRUKTUR PENGURUS
Pembentukan kelompok tani di daerah yang belum pernah ada kelompok tani dan penguatan struktur kepengurusan di tingkat kelompok tani menjadi hal urgen yang perlu dilakukan. Malah, WTM melihat bahwa tanpa kelompok tani, program ini akan tidak efektif dalam pelaksanaan. Pembentukan kelompok tani menjadi tuntutan yang harus dibuat agar mempermuda proses pendampingan dan komunikasi tim WTM dengan para petani.
Lebih dari itu, kelompok tani yang dilengkapi dengan struktur organisasi menjadi wadah petani dalam menyeringkan pengalaman dan pengetahuan mereka akan usaha tani. Malah dengan kelompok tani juga para petani saling membantu dalam usaha tani.

3.2.1 DESA EGON GAHAR
Egon Gahar adalah sebuah desa yang sangat dekat dengan gunung api Egon. Desa ini memiliki 3 dusun yakni Baokrenget, Welinwatu dan Lere. Jarak perkampungan dengan gunung api hanya 7-8 km. Itu berarti bahwa secara kebencanaan, perkampungan ini menjadi kawasan rentan yang harus selalu sigap.
Dari sisi kehutanan, desa ini menjadi salah satu desa enclave di kawasan lindung Egon Ilimedo.
Wahana Tani Mandiri dalam programnya bersama CEPF melakukan advokasi teknis kebijakan selain advokasi teknis pertanian. Perkembangannya, masyarakat desa ini telah mendapatkan Ijin Usaha Pengelolaan Hutan dalam program Hutan Kemasyarakatan (IUP-HKM). Hanya saja, bahwa masyarakat belum memiliki rencana kerja HKM. Karena itu penerapan dari HKM hingga hari ini masih terkatung-katung.
Dari dua bulan ini, WTM telah membangun 1 kelompok tani Lero Bekor 1 yang tidak tergabung dalam kelompok HKM. Kelompok ini beranggotakan 20 orang, diantaranya 18 laki-laki dan 2 perempuan.  Sedangkan pendampingan petani yang tergabung dalam kelompk HKM desa Egon Gahar itu memiliki pengurus inti, Ketua Firminus Piru, Sekretaris Bernadus Gete dan Alines Tana sebagai Bendahara.
Dari hasil konsolidasi lapangan, 3 sub kelompok HKM telah memiliki kepengurusan dan keanggotan yang jelas, yakni HKM 1 beranggotakan (20), HKM 3 dan HKM 4 masing-masing  beranggotakan (25). Sedangkan kelompok HKM 2 beranggotakan (20), belum memiliki kepengurusan lengkap tetapi sementara dipilih bapak Bernadus Buhe sebagai Koordinator sambil menunggu pembentukan struktur kepengurusan.
Untuk itu, total pemeganggan IUP HKM desa Egon Gahar (HKM MAPI DETU TARA GAHAR) adalah 90 orang dan kelompok tani Lero Bekor 1 yang beranggotakan 20 orang.

3.2.2 DESA HALE
Desa Hale adalah sebuah desa sebagian besar berada di pesisir dan satu dusun berada dalam kawasan hutan lindung (dusun Glak). Kendati demikian, sebagian warga Hale memiliki lahan kebun di dalam kawasan lindung yang sedang diproses IUP HKM-nya.
Hingga hari ini, IUP HKM Hale secara resmi belum ada. Untuk itu, selain melakukan proses advokasi untuk legalitas IUP HKM Hale, tetapi secara faktual WTM dan CEPF perlu melakukan kerja-kerja teknis pertanian agar diterapkan sebuah pola pertanian yang berkelanjutan. Pertanian selaras alam harus menjadi spirit petani agar kerusakan alam di kawasan Egon Ilimedo dari waktu ke waktu diminimalisir.
Pendampingan di desa Hale, ada kelompok 7 kelompok HKM dan 1 kelompok tani (Natar Maget) yang berada di luar kawasan, yakni kelompok Natar Mage. Dari hasil kerja sosialisasi dan pembentkan kelompok tani, telah dibentuk 7 kelompok HKM yang berjumlah 115 Orang dengan struktur pengurus dan 1 kelompok tani Natar Maget yang beranggotakan 14 orang.

3.2.3 DESA HEBING
     Desa Hebing terletak diantara desa Natakoli dan desa Hale. Jumlah penduduk desa Hebing 425 KK atau 1990 jiwa, (L: 964 dan P: 1026), (lih. Statistik BPS Sikka, 2015). Mayoritas penduduk desa Hebing adalah petani, kendati mereka berada di pinggiran pantai yang mana 322 m dari permukaan laut.
        Dalam kaitan dengan pelaksanaan progam ini, kelompok tani yang didampingi itu rata-rata berada di luar kawasan.
    Kelompok-kelompok tani yang didampingi WTM di desa Hebing telah dibentuk 7 Kelompok Tani dengan struktur kepengurusan. Total jumlah partisipan projek di desa Hebing itu sebanyak 118 jiwa, 90 Laki-laki dan 28 Perempuan
  Setelah dibentuknya 7 kelompok tani tersebut, dilakukan pencatatan dan pengidenfitikasian keanggotaan dari kelompok-kelompok tani desa Hebing agar mempermudah komunikasi dan secara pasti mengetahui berapa banyak partisipan.
           
3.2.4 DESA NATAKOLI
         Desa Natakoli menjadi desa perbatasan antara kecamatan Mapitara dengan kecamatan Doreng. Desa Natakoli memiliki 3 dusun yakni; Umatawu, Wolomotong dan Natakoli. Natakoli merupakan desa terluas di kecamatan Mapitara, 25,37 Km².
         Dalam menyikapi konflik tenurial hutan dengan negara (Dinas kehutanan), warga tidak menerima kalau kawasan kelolanya diklaim menjadi kawasan lindung. Sebab menurut mereka, sebagian besar lahan mereka dicaplok menjadi kawasan lindung dalam versi pal batas 1984 yang sebelumnya areal kelola rakyat.
      Pengimplementasian program di desa Natakoli diperlakukan berbeda dari ketiga desa program lainnya. WTM lebih memilih mengkoordinasi kelompok tani terutama dalam advokasi teknis pertanian. Sedangkan urusan Hutan Kemasyarakatan (HKM), desa Natakoli menolaknya.
Di desa Natakoli telah dibentuk 6 Kelompok Tani dengan struktur kepengurusan. Total jumlah partisipan projek di desa Hebing itu sebanyak 126 jiwa, 99 Laki-laki dan 27 Perempuan

4. PENUTUP
Laporan ini, kami sampaikan sebagai potret awal dari perkembangan dalam pengimplementasian program. Bahwa ada beberapa perbedaan data kelompok tani dari proposal dengan pelaksanaan program. Ini dimaknai sebagai dinamika organisasi dan pelaksanaan program.
Untuk itu, kami telah menyampaikan beberapa temuan awal sebagai dasar dalam mengimplementasikan program “Penigkatan Pendapatan Masyarakat dalam Mendukung Manajemen Ekosistem Berkelanjutan di Kawasan Egon” merupakan sebuah program kerja sama antara Wahana Tani Mandiri dengan Critycal Ecosystem Partnership Fund (CEPF).

Sabtu, 02 Juli 2016

PENELITIAN UJI TERAP PADI FILIPINA

PENELITIAN UJI TERAP PADI FILIPINA
1.       Nama                                                   : Siprianus Rehing
Kelompok                                            : Nuahe Pega
Desa                                                      : Bu,u Selatan
Jenis Padi                                             : Pili Tapol

PENGAMATAN
-          Tanggal Tanam                                          : 13 Januari 2016
-          Tanggal Tumbuh                                        : 22 Januari 2016
-          Jumlah Anakan                                          : 2-3 anakan
-          Tinggi Tanaman                                          : 90-100 cm
-          Tanggal Berbunga                                      : 1-6 April (68-74 hari)
-          Panjang Malai                                             : 20-15 cm
-          Jumlah Biji Per Tanaman                            : 40 Butir
-          Jumlah Tanaman Yang Dipanen                 : 116 Tanaman Per Bulir
-          Tangga Panen                                             : 2 Mei 2016 (102 Hari)
-          Hasil Panen                                                  70 gr (4.640 Biji)
CIRI-CIRI TANAMAN
-          Tanaman ditanam di petak sawah
-          Butuh banyak air
-          Batang besar dan berwarna hijau
-          Bentuk daunnya panjang, lebar, lurus dan tidak melengkung
-          Malainya panjang
-          Bentuk bulirnya panjang, lonjong, serta berbulu
-          Warna bulir kuning kecoklat-coklatan

-          Bulir padat dan berisi

Senin, 27 Juni 2016

WTM LAKUKAN EVALUASI BULANAN, PERENCANAAN KELEMBAGAAN DAN STAF

Maumere, KN. Sebuah tradisi kelembagaan Wahana Tani Mandiri, yang harus dilakukan setiap bulan. Pertemuan Staf bulan Juni ini dipimpin Herry Naif (Koordinator Program) WTM yang berlangsung di kantor WTM, hadiri oleh Direktur WTM, para koordinator bidang, bagian dan para staf lapangan (27/06/16).

Rapat Evaluasi WTM, Bulan Juni
Evaluasi bulan ini diawali dengan sapaan oleh pimpinan sidang dan presentasi dari setiap staf, yang mana diawali oleh Getrudis Dari keuangan program kerja sama WTM-Miserior, mengenai pengeluaran keuangan dari berbagai aktifitas program. Begitupun dengan keuangan program kerja sama WTM-CEPF (Ernestina Hariona) tentang hal yang sama dalam aktifitas program di Mapitara. 

Dalam evaluasi tersebut, Herry menegaskan bahwa keuangan perlu disampaikan kepada para staf agar mengetahui tentang posisi keuangan. karena ini adalah wujud dari transparansi yang mendukung akuntabilitas kelembagaan. 

Alex (Fasilitator Lapangan Tanawawo) menyatakan bahwa di wilayah dampingannya petani engga melakukan pemangkasan kakao, kuatir dengan panas panjang yang dialami kemarin dimana banyak kakao bisa mati kekeringan. Selain itu, Alex menjelaskan mengenai padi filipina varietas pili tapol yang dikembangkan Sipri Rehing (Kader Tani Bu Selatan) yang mana tingginnya mencapai 110 - 115 Cm dan bulirnya panjang: Gabahnya, panjang – lonjong. Warna kuning kehitam-hitaman. Selain itu, Alex menguraikan bahwa kelompok Tuke Laka di Korobhera menjadi side pengembangan ternak kambing yang akan didanai oleh pemerintah. karena itu telah disepakati agar para anggota harus memiliki kandang agar pemeliharaannya efektif.

Martinus Maju (Fasilitator Lapangan) wilayah Mego menguraikan soal produksi minyak kelapa dari 4 kelompok tani yang dilakukan masih sesuai kebutuhan. Para petani masih lebih memilih menjual kopra karena harga kopra sedang melambung dan bila dianalisis kelapa dijual kopra jauh lebih menguntungkan petani dimana harga kopra berkisar Rp.8000/kg. 

Sedangkan Maria Marta Muda (Fasilitator Lapangan Magepanda menyinggung soal beberapa aktifitas yang dilakukan seperti praktek olah jalur, pembuatan kandang ayam, penyemprotan kakao, dan kaji terap akan pencegahan penyakit ayam menggunakan bahan lokal.

Pada hari Selasa, (28/6) para fasilitator lapangan pada program "Membangun Kapasitas Petani dalam Mendukung Sistem Manajemen Ekosistem Berkelanjutan  di Kawasan Egon". Mus Mulyadi, mengulas mengenai pembentukan kelompok di Glak yang awalnya 1 Kelompok, lalu dimekarkan menjadi 4 kelompok agar muda dikonsolidasi. Sedangkan di desa Natakoli, juga hal yang sama. Para anggota kelompok tani didorong untk menyiapkan kandang ayam.

Marianus Mayolis (Fasilitator Lapangan, desa Hebing) juga mempresentasikan tentang perkembangan konsolidasinya. Rencananya bahwa akan diadakan vaksin ayam tetapi dari hasil investigasi lapangan ditemukan bahwa banyak ayam di wilayah Hebing itu mati. Itu berarti, bahwa vaksinasi tidak bisa dilakukan maka para anggota kelompok difasilitasi untuk membuat perencanaan petani, kelompok tani, dan pembuatan kandang untuk proses pemeliharaan ayam yang teratur dan termanajemen.

Begitupun dengan Gabriel Maryanto, mempresentasikan tentang proses fasilitasi pembentukan kelompok tani/Hutan Kemasyarakatan (HKM). Beriringan dengan program HKM, yang mana sudah terbentuk kelompok HKM maka dibangunlah kelompok sub HKM untuk memudahkan pengorganisasian dan pengimplementasian Rencana Kerja RKHKM. Sedangkan di sana juga dibangun kelompok Tani Lero Bekor 1 yang tidak terkategori sebagai pengelol HKM. Selain itu, juga dilakukan perencanaan kelompok tani dan kelompok.

Seusai evaluasi, dilakukan perencanaan bulanan untuk kelembagaan dan tiap staf. Karena itu, adalah indikator yang akan dilihat pada bulan Juli nanti.  (Tim - KN)






Selasa, 21 Juni 2016

PETANI HARUS PUNYA RENCANA KERJA

Maumemre, KN. Menindaklanjuti kegiatan pelatihan Traning of Trainer dan Konservasi Tanah dan Air  bagi kader tani Mapitara yang dilakukan sejak 6-11 Juni 2016, WTM kembali melakukan kunjungan balik yang dikoordinasi oleh Kristoforus Gregorius (Koordinator Pertanian) dan Wihelmus Woda (Koordinator Lingkungan & Advokasi) bersama ketiga Fasilitator lapangan untuk terjun kembali ke wilayah Mapitara, sejak 13/06/16 sampai semua kelompok mendapat giliran.

Menurut Kristoforus, kunjungan ini tentunya akan bertemu langsung dengan kelompok tani yang sudah dibentuk agar berdiskusi bersama. Bahwa, pertemuan difokuskan pada Perencanaan Petani dan Perencanaan Kelompok Tani dalam menjalankan usaha tani mereka. Kegiatan yang dilangsungkan  dimaksudkan agar para petani memiliki arah yang lebih baik dalam melakukan pengelolaan usaha tani. Kegiatan serupa harus dimiliki oleh setiap petani dan kelompok tani dampingan WTM, demikian kata, Kristo.

Sebelum melakukan diskusi perencanaan kelompok bersama petani, para punggawa WTM melakukan koordinasi dengan ketua kelompok tani dan kader tani untuk melihat waktu yang tepat untuk bisa  melakukan diskusi secara efisien.


Kelompok pertama yang menyatakan siap berdiskusi setelah dikoordinasi  adalah kelompok Watu Kogang di dusun Galit desa Hebing.  Setelah didatangi oleh Mus Muliadi, Mayolis dan Will Woda, Senin 13 Juni 2016, Maksensius selaku ketua kelompok  menyatakan siap mengkonsolidasi anggotanya saat itu juga untuk melakukan pertemuan bersama di keesokan harinya (Selasa, 14 Juni 2016).

“Saya selalu siap untuk mendatangkan teman-teman anggota kelompok besok, sebab saya pikir ini adalah kegiatan yang sangat bermanfaat bagi kami di awal program berjalan, supaya apa saja yang dicita-citakan, apa yang ingin dijalankan secara bersama dapat kita rencanakan dengan baik,” ujar Kepala Dusun Galit.

Kegiatan dibuka langsung oleh Ketua kelompok, Maksensius Edison. Pada saat pembukaan ia mengatakan sangat senang kelompoknya menjadi kelompok pertama yang difasilitasi. “Kami merasa senang sekali dikunjungi dan langsung diadakan diskusi bersama. Hari ini semua anggota kelompok hadir karena mereka merasa tertarik. Kami sangat berterimakasih atas kunjungan ini, ungkap Kader Tani WTM ini.

Disamping itu, Kristoforus Gregorius, ketika memimpin kegiatan diskusi perencanaan  kelompok tani, menyatakan bahwa demi meraih sebuah kesuksesan perlu adanya rencana yang baik. Dengan demikian kegiatan apa saja yang ingin kita kerjakan dalam perjalanan proses untuk mencapai tujuan  dapat kita ukur secara bersama.

Lebih lanjut Kristo menjelaskan tentang alur-proses bagaimana dalam pembuatan perencanaan petani. Hal yang perlu dibuat pertama adalah perencanaan kebun atau usaha petani anggota. Sebelum membuat perencanaan petani dan perencanaan kelompok, kita harus melakukan indentifikasi masalah sehingga berbagai persoalan yang dialami petani selama ini muncul ke permukaan.

Setelah teridentifikasi permsalahan petani dan kelompok, kita memilah permasalahan mana yang menjadi  permasalahan keluarga tani yang menjadi permasalahan bersama dan permasalahan komunitas yang dapat dilakukan oleh kelompok. Setelah itu, dibangun kesepakatan kegiatan apa saja yang akan direncanakan berdasarkan masalah yang sudah terkumpul dari proses sebelumnya.

Tahap yang berikut kita mulai membuat perencanaan kelompok. Akan tetapi, kita tidak hanya sampai di sini saja. Setelah dibuat perencanaan kelompok, kita harus masuk pada tahapan yang terakhir yaitu membacakan kembali perencanaan yang sudah dibuat dan diminta kesepakatan terakhir sebagai penegasan dan itu menjadi keputusan kelompok”, sambung alumni SPMA Boawae ini.

Aleksius Laro, salah seorang anggota kelompok tani yang dihubungi Kabar Nuhang seusai kegiatan, mengungkapkan perasaan senangnya karena kembali didampingi WTM dengan pola pendampingan yang agak berbeda. “Kami merasa senang jika dikunjungi dan diberi pemahaman seperti ini karena selama ini kami mendapat banyak masalah tetapi kami tidak mampu menyelesaikannya secara tuntas. Kami memiliki keterbatasan. Kami berharap WTM selalu mendampingi kami sehingga kami terbantu dalam mencari jalan keluar persoalan kami sebagai petani”, ujarnya dalam bahasa daerah.

PETANI HARUS PUNYA RENCANA KERJA

Maumemre, KN. Menindaklanjuti kegiatan pelatihan Traning of Trainer dan Konservasi Tanah dan Air  bagi kader tani Mapitara yang dilakukan sejak 6-11 Juni 2016, WTM kembali melakukan kunjungan balik yang dikoordinasi oleh Kristoforus Gregorius (Koordinator Pertanian) dan Wihelmus Woda (Koordinator Lingkungan & Advokasi) bersama ketiga Fasilitator lapangan untuk terjun kembali ke wilayah Mapitara, sejak 13/06/16 sampai semua kelompok mendapat giliran.

Menurut Kristoforus, kunjungan ini tentunya akan bertemu langsung dengan kelompok tani yang sudah dibentuk agar berdiskusi bersama. Bahwa, pertemuan difokuskan pada Perencanaan Petani dan Perencanaan Kelompok Tani dalam menjalankan usaha tani mereka. Kegiatan yang dilangsungkan  dimaksudkan agar para petani memiliki arah yang lebih baik dalam melakukan pengelolaan usaha tani. Kegiatan serupa harus dimiliki oleh setiap petani dan kelompok tani dampingan WTM, demikian kata, Kristo.

Sebelum melakukan diskusi perencanaan kelompok bersama petani, para punggawa WTM melakukan koordinasi dengan ketua kelompok tani dan kader tani untuk melihat waktu yang tepat untuk bisa  melakukan diskusi secara efisien.

 Kelompok pertama yang menyatakan siap berdiskusi setelah dikoordinasi  adalah kelompok Watu Kogang di dusun Galit desa Hebing.  Setelah didatangi oleh Mus Muliadi, Mayolis dan Will Woda, Senin 13 Juni 2016, Maksensius selaku ketua kelompok  menyatakan siap mengkonsolidasi anggotanya saat itu juga untuk melakukan pertemuan bersama di keesokan harinya (Selasa, 14 Juni 2016).

“Saya selalu siap untuk mendatangkan teman-teman anggota kelompok besok, sebab saya pikir ini adalah kegiatan yang sangat bermanfaat bagi kami di awal program berjalan, supaya apa saja yang dicita-citakan, apa yang ingin dijalankan secara bersama dapat kita rencanakan dengan baik,” ujar Kepala Dusun Galit.

Kegiatan dibuka langsung oleh Ketua kelompok, Maksensius Edison. Pada saat pembukaan ia mengatakan sangat senang kelompoknya menjadi kelompok pertama yang difasilitasi. “Kami merasa senang sekali dikunjungi dan langsung diadakan diskusi bersama. Hari ini semua anggota kelompok hadir karena mereka merasa tertarik. Kami sangat berterimakasih atas kunjungan ini, ungkap Kader Tani WTM ini.

Disamping itu, Kristoforus Gregorius, ketika memimpin kegiatan diskusi perencanaan  kelompok tani, menyatakan bahwa demi meraih sebuah kesuksesan perlu adanya rencana yang baik. Dengan demikian kegiatan apa saja yang ingin kita kerjakan dalam perjalanan proses untuk mencapai tujuan  dapat kita ukur secara bersama.

Lebih lanjut Kristo menjelaskan tentang alur-proses bagaimana dalam pembuatan perencanaan petani. Hal yang perlu dibuat pertama adalah perencanaan kebun atau usaha petani anggota. Sebelum membuat perencanaan petani dan perencanaan kelompok, kita harus melakukan indentifikasi masalah sehingga berbagai persoalan yang dialami petani selama ini muncul ke permukaan.

Setelah teridentifikasi permsalahan petani dan kelompok, kita memilah permasalahan mana yang menjadi  permasalahan keluarga tani yang menjadi permasalahan bersama dan permasalahan komunitas yang dapat dilakukan oleh kelompok. Setelah itu, dibangun kesepakatan kegiatan apa saja yang akan direncanakan berdasarkan masalah yang sudah terkumpul dari proses sebelumnya.

Tahap yang berikut kita mulai membuat perencanaan kelompok. Akan tetapi, kita tidak hanya sampai di sini saja. Setelah dibuat perencanaan kelompok, kita harus masuk pada tahapan yang terakhir yaitu membacakan kembali perencanaan yang sudah dibuat dan diminta kesepakatan terakhir sebagai penegasan dan itu menjadi keputusan kelompok”, sambung alumni SPMA Boawae ini.

Aleksius Laro, salah seorang anggota kelompok tani yang dihubungi Kabar Nuhang seusai kegiatan, mengungkapkan perasaan senangnya karena kembali didampingi WTM dengan pola pendampingan yang agak berbeda. “Kami merasa senang jika dikunjungi dan diberi pemahaman seperti ini karena selama ini kami mendapat banyak masalah tetapi kami tidak mampu menyelesaikannya secara tuntas. Kami memiliki keterbatasan. Kami berharap WTM selalu mendampingi kami sehingga kami terbantu dalam mencari jalan keluar persoalan kami sebagai petani”, ujarnya dalam bahasa daerah.

Selasa, 14 Juni 2016

WTM dan CEPF Kenalkan Konservasi Untuk Petani Sikka

 Sumber: http://www.timorraya.com/wtm-dan-cepf-kenalkan-konservasi-petani-sikka/
WTM dan CEPF Kenalkan Konservasi Untuk Petani Sikka
Minggu, 12 Juni 2016 | 14:46

Bagikan Halaman ini

WTM Perkenalkan Konservasi Tanah dan Air untuk Kader Tani Mapitara Kabupaten Sikka Propinsi Nusa Tenggara Timur.
Laporan timorraya.com
Citos Natun

Maumere,—Wahana Tani Mandiri (WTM) mengadakan Pelatihan Konservasi Tanah (PKT)  dengan Air dalam kerja sama dengan Critycal Ecosystem Partnership Fund (CEPF) di bawah program “Peningkatan Pendapatan Masyarakat dalam Mendukung Menejemen Ekositem Berkelanjutan di Kawasan Egon Ili Medo”.Kegiatan pelatihan itu dihadiri 15 peserta, utusan dari Desa Natakoli, Hale, Hebing dan Egon Gahar difasilitasi oleh Kristoforus Gregorius dan Winfridus Keupung di Puskolap Jiro-Jaro, Tana Li, Desa Bhera, Kecamatan Mego, Kamis (9/6/2016)

Dalam sambutannya,Winfridus Keupung mengatakan makhluk hidup dan alam semesta merupakan dua unsur penting  yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Keduanya memiliki ikatan saling ketergantungan yang sangat kuat. Porsi ketergantungan makhluk hidup terhadap alam jauh lebih besar. Mahkluk hidup memiliki ketergantungan yang penuh terhadap alam, sebaliknya alam menyediakan layanan; seperti tanah dan air bagi keberlangsungan semua mahkluk hidup di dunia.

WTM awalnya, lanjut Win, menjadi agen pupuk kimia. Namun dalam perkembangannya, WTM kemudian melakukan kaji banding terhadap perbedaan penggunaan pupuk organik dan pupuk kimia.
“Dari kajian yang dilakukan WTM menemukan sebuah dampak positif yang dimiliki pupuk organik. Bahwa petani di Flores yang masih banyak bergantung pada alam hendaknya menjadikan alam sebagai sebuah lalyanan. Karena itu dengan konsep ini tentunya petani juga turut menjaga kelestarian lingkungan. Mereka disebutnya green’s farmer,” ujar win .
Dalam pelatihan ini juga materi  yang diberikan mengenai “Konservasi tanah dan air”, dan “Pertanain Berkelanjutan” yang mana harus dilihat dari aspek ekologi, ekonomi, teknologi dan pemberdayaan. Dalam materi Pemupukan tanaman, dijelaskan tentang pupuk organik dan pestisida organik.
Dalam pelatihan ini, Kristo juga menyebutkan beberapa keunggulan pupuk organik diantaranya, Meningkatkan kandungan air dan dapat menahan air untuk kondisi berpasir, Meningkatkan daya tahan terhadap pengikisan, Meningkatkan pertukaran udara, jumlah pori-pori dan sifat peresapan air untuk kondisi tanah liat, Menurunkan tingkat kekerasan lapisan permukaan tanah, Mengandung unsur hara makro mikro yang lengkap, Aman (ramah lingkungan), Efektif dan ekonomis (murah/mudah di dapat), Menghilangkan residu kimia.
Setelah proses belajar in class, peserta juga melakukan praktek pembuatan pestisida organik dan pupuk organik yang telah disiapkan. Diharapkan dengan pelatihan ini akan memberikan sebuah pemahaman riil agar para kader bisa memperaktekannya di lapangan. Sebab bahan-bahan dasar pembuatan pestisida organik ini banyak terdapat di kawasan Egon Ilimedo
Hermus Peong salah satu peserta pelatihan yang juga adalah pemimpin kelas selama pelatihan mengatakan bahwa pelatihan ini sangat bermafaat di lapangan.
“Ini menjadi bekal bagi kami dalam upaya memfasilitasi kegiatan usaha tani di kelompok tani. Selain itu juga kami akan mengadvokasi kebijakan di tingkat pemerintah lokal agar mengakomodir kepentingan petani di desa,” papar Hermus.
Sumber: http://www.timorraya.com/wtm-dan-cepf-kenalkan-konservasi-petani-sikka/

WTM Maumere Latih 15 Kader Tani Matipara

Sumber: http://www.duta-news.com/2016/06/13/wtm-maumere-latih-15-kader-tani-matipara/
WTM Maumere Latih 15 Kader Tani Matipara
Senin, 13 Juni 2016 | 15:21

Foto : Wahana Tani Mandiri (WTM) Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) bekerjasama dengan Critycal Ecosystem Partnership Fund (CEPF) melatih 15 Kader untuk mengawali program Peningkatan Pendapatan Masyarakat dalam Mendukung Menejemen Ekositem Berkelanjutan di Kawasan Egon Ili Medo.

Maumere, Duta-news.com – Wahana Tani Mandiri (WTM) Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) bekerjasama dengan Critycal Ecosystem Partnership Fund (CEPF) melatih 15 Kader untuk mengawali program Peningkatan Pendapatan Masyarakat dalam Mendukung Menejemen Ekositem Berkelanjutan di Kawasan Egon Ili Medo.
Traning Of Trainer (TOT) ini berlangsung di Puskolap Jiro-Jaro, Tana li, desa Bhera, Kecamatan Mego Kabupaten Sikka selama empat hari, mulai dari Tanggal 6-9 Juni 2016. Pelatihan ini dihadiri utusan dari Desa Natakoli, Hale, Hebing dan Egon Gahar dan difasilitasi oleh Herry Naif dan Win Keupung.
Sementara dalam TOT tersebut, peserta kader tani dilatih bagi tentang Pendidikan Community Organizer, dan teknik memfasilitasi dipandu oleh Herry Naif dan Carolus Winfridus Keupung.
Pimpinan Wahana Tani Mandiri, Winfridus Keupung  ditemui media ini Senin (13/06/2016) di ruangan kerjanya mengatakan, bahwa makhluk hidup dan alam semesta merupakan dua unsur penting  yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Keduanya memiliki ikatan saling ketergantungan yang sangat kuat.
WTM, awalnya menjadi agen pupuk kimia, namun dalam perkembangannya, kami kemudian melakukan kajian banding terhadap perbedaan penggunaan pupuk organik dan pupuk kimia. Dari kajian itu, WTM menemukan sebuah dampak positif yang dimiliki pupuk organik. “Petani di Flores yang masih banyak bergantung pada alam hendaknya menjadikan alam sebagai sebuah layanan,” katanya.
Karena itu, dengan konsep ini tentunya petani juga turut menjaga kelestarian lingkungan. Mereka disebutnya green’s farmer, ujar win Keupung.
Kita akan melatih petani, tentang Konservasi tanah dan air, dan juga soal struktur dan tekstur tanah. Bahwa tanah yang subur harus memiliki perimbangan antara unsur liat, pasir dan debu. Selain itu juga harus didukung oleh unsur hara makro seperti Nitrogen (untuk pertumbuhan tanaman), Kalium (memperkuat batang dan bunga) dan Phospor (pertumbuhan akar dan batang). Juga unsur hara mikro yang dibutuhkan tanaman yakni; besi (fe), Seng (zn) Tembaga (cu), mangan (Mn), Boron (B), Molipden (mo).
Sementara itu, Kristo salah satu pemateri mengatakan, pertanain berkelanjutan harus dilihat dari aspek ekologi, ekonomi, teknologi dan pemberdayaan. Pemupukan tanaman, kata kristo, pupuk organik dan pestisida organik beberapa manfaat diantaranya, meningkatkan lapisan olah permukaan tanah, Meningkatkan populasi jasak renik atau mikroorganisme tanah, Meningkatkan daya serap akar dan daya serap tanah terhadap air, Memperbaiki perembesan air, serta pertukaran udara dalam tanah, Meningkatkan produksi tanaman semaksimal mungkin, Menstabilkan ph tanah, Meningkatkan kapasitas tukar kation, kapasitas buffer dan daya pegar air, Menyuburkan dan menggemburkan tanah, Mempercepat proses penguraian bahan-bahan organik, Merangsang pertumbuhan akar dan pembentukan sistem perakaran yang baik, sehingga dapat mengambil unsur hara yang banyak dan menjadikan tanaman sehat dan kuat, Memperbesar prosentase pembentukan bunga menjadi buah dan biji.
Dikatakan Kristo, beberapa keunggulan pupuk organik diantaranya, Meningkatkan kandungan air dan dapat menahan air untuk kondisi berpasir, Meningkatkan daya tahan terhadap pengikisan, Meningkatkan pertukaran udara, jumlah pori-pori dan sifat peresapan air untuk kondisi tanah liat, Menurunkan tingkat kekerasan lapisan permukaan tanah, Mengandung unsur hara makro mikro yang lengkap, Aman (ramah lingkungan), Efektif dan ekonomis (murah/mudah di dapat), Menghilangkan rasidu kimia, Aplikasi yang mudah (bisa diaplikasikan sebelum atau sesudah masa tanam).
Ia berharap, setelah proses belajar in class, peserta juga melakukan praktek pembuatan pestisida organik dan pupuk organik yang telah disiapkan. Dengan pelatihan ini akan memberikan sebuah pemahaman riil agar para kader bisa memperaktekannya di lapangan. Sebab bahan-bahan dasar pembuatan pestisida organik ini banyak terdapat di kawasan Egon Ilimedo, kata Kristo.
Hermus Peong salah satu peserta pelatihan mengatakan bahwa pelatihan ini sangat bermafaat bagi kami di lapangan. Ini menjadi bekal bagi kami dalam upaya memfasilitasi kegiatan usaha tani di lapangan nanti.
“Kegiatan seminggu kami sudah dapat banyak ilmu, bagaimana memfasilitasi dan kemudian dengan beberapa pengetahuan dasar tentang konservasi tanah dan air. Ini adalah dasar, kami berharap WTM selalu siap meningkatkan kapasitas kami di lapangan dengan beberapa fasilitator lapangan,” katanya. (Jhon de Gomes).

<marquee>WTM LAKUKAN VAKSIN AYAM DI 3 KELOMPOK TANI DI EGON GAHAR</marquee>

Ansel Gogu (Kader Tani WTM) sedang Vaksin ayam anggota Kel. Tani Egon Gahar, KN , Dalam rangka mendorong sebuah pola budi daya ternak t...