Rabu, 03 Februari 2016

WTM Rayakan HUT ke-20

Direktur WTM menjelaskan tentang isu Buku terbitan WTM
Dalam memperingati Hari Ulang Tahun ke-20, Wahana Tani Mandiri (WTM) mengambil tema perayaan Berkarya, Solider dan Mandiri. Secara sederhana, tema ini adalah ekspresi pengalaman lembaga yang mana  terus berkarya dalam semangat solidaritas dalam mencapai cita-cita ke-mandiri-an. 

Perayaan syukur peringatan Hari Ulang Tahun WTM yang dipimpin oleh Pater Wenseslaus Edy, Mgl. yang dihadiri oleh para Kader Tani, Utusan Kelompok Tani, para mantan staf, mitra dan para undangan lainnya. Perayaan syukur ini diselenggarakan di Puskolap Jiro Jaro, Tana Li, Mego. 
Dalam renunganya, Pastor yang berordo The Gods of Love mengatakan bahwa perayaan hari ini adalah berkah bagi WTM dan bagi semua umat. Bahwa perjalanan WTM selama dua puluh tahun ini pasti memiliki sejarah yang panjang dan tentunya ada banyak pengalaman yang menggembirahkan dan bahkan ada yang memiluhkan. Tetapi semua itu hendaknya dipandang sebagai berkah Allah yang perlu disyukuri. WTM telah memilih petani sebagai sahabat, agar bagaimana bersama petani ada kebangkitan dalam memperjuangkan kehidupan lahiriah yang ramah terhadap alam dan berkelanjutan.

Direktur Wahana Tani Mandiri (Carolus Winfridus Keupung) mengatakan bahwa, sejak keberdiriannya 29 Januari 1996, WTM berkarya bersama-sama petani sebagai bagian integral dari proses pembangunan manusia seutuhnya. Prinsipnya, manusia hidup untuk memanusiakan manusia Lain" yang diimplementasikan dalam sebuah filosofi: datanglah kepada rakyat, tinggalah bersama mereka dan mulailah dari apa yang mereka punya. Pada hari yang penuh syukur ini diucapkan terima kasih kepada para petani, kader, mitra dan para donatur yang selalu siap mendukung kerja-kerja WTM. 

Sedangkan, Tovik Koban (Sekretaris badan pembina) mengatakan bahwa perayaan HUT ini merupakan momentum bersejarah bagi WTM agar tidak patah semangat mengadvokasi petani baik dalam pengembangan usaha tani ataupun berbagai kegiatan lainnya. Kami dari badan pembina menitipkan pesan agar WTM terus bersemangat dalam mengadvokasi hak-hak petani, demikian ujar sang reporter TV-one wilayah Flores.

Setelah itu dilanjutkan dengan caffe WTM dengan menghadirkan para mantan staf. Hampir semua mereka memberi apreseasi kepada lembaga yang telah membesarkan dan membekali mereka sehingga mereka juga mendapatkan kesempatan berekspresi di luar WTM. Misalnya, Paskalis, Sonya, Herman Mbupu mengurai cerita tentang kisah pengalamannya ketika bersama WTM. 
Setelah itu, dilakukan lounching buku "Membangun Kemandirian Petani" yang merupakan rangkuman pengalaman para fasilitator WTM sejak 20 tahun yang lalu. Bahwa penerbitan buku ini hendaknya memacu lembaga agar kemudian dalam waktu-waktu mendatang perlu menerbitkan buku-buku yang berkisah tentang petani. 

Sebagai puncak perayaan dilakukan pemotongan tumpen 20 tahun WTM oleh Direktur WTM. Kemudian sebagai ungkapan kebersamaan dilakukan pembagian kepada semua mantan staf dan beberapa tokoh masyarakat yang hadir dalam acara itu. 

Sedangkan Herry Naif (Ketua Panitia) yang dihubungi secara terpisah mengatakan bahwa acara yang dilangsungkan dalam penuh kesederhanaan, tetapi sungguh bermakna dalam mengikat-eratkan persaudaan antara WTM dengan para alumni dan para petani dampingan. Perayaan HUT ini menjadi momentum refleksi kelembagaan secara internal dan eksternal. Karena tanpa itu, lembaga akan kehilangan arah dan cita-cita. Acara ini pun dibuat bersama sebagai petani agar kondisi kekeringan yang berkepanjangan ini tidak menjadi beban dalam upaya perbaikan kualitas hidup. Solidaritas antar yang satu dengan yang lain menjadi kekuatan mereka dalam menghadapi kondisi keterbatasan pangan tahun ini, ujarnya.

Lebih lanjut, ia mengungkapkan mengenai kekeringan yang dianggap sepeleh. Padahal semestinya dari awal sudah dipersiapkan langka-langka kongkret sebagai upaya mitigasi dalam ancaman keterbatasan pangan.










 

EVALUASI SEMESTERAL DIFOKUSKAN PADA DISKUSI KEKERINGAN


Mengakhiri semester I, Program Peningkatan Kapasitas Masyarakat Tani dalam Adaptasi Perubahan Iklim lewat Pendekatan Usaha Tani Berbasis Konservasi dilakukan evaluasi semesteral yang dihadiri oleh 25 Kader Tani dampingan Wahana Tani Mandiri (WTM). Kegiatan ini dilakukan WTM dalam kerjasamanya dengan Miserior Jerman di Pusat Sekolah Lapangan (PUSKOLAP) Jiro-Jaro (01/02).
Direktur Wahana Tani Mandiri (WTM) Winfridus Keupung dalam pembukaan acara mengatakan bahwa “terkait dengan situasi kita saat ini, kita sudah banyak melakukan kegiatan. Jika ada kendala di lapangan kita akan membahas bersama. Namun, kita juga harus memikirkan tentang situasi Sikka saat ini terkait dengan kemarau panjang. Hampir semua daerah NTT sudah mengumumkan darurat bencana, hanya Sikka yang belum membuat pernyataan sikap mengenai permasalahan ini.
Lebih lanjut, Win menggambarkan bahwa beberapa diskusi kami di beberapa forum resmi, kekeringan menjadi sorotan banyak pihak yang mana berdampak luas seperti apa yang dilihat kawan-kawan di lapangan. Untuk itu, saya mengharapkan bahwa diskusi hari ini difokuskan pada beberapa poin penting yaitu, lingkungan Hidup, pendapatan masyarakat, dan apa respon kita?
Kegiatan yang difasilitasi oleh Herry Naif, Koordinator Advokasi, Riset, Pengelolaan lingkungan dan Hasil WTM, mencoba menghantar diskusi agar para peserta memberikan sebuah potret ekologi di wilayahnya. Dengan demikian gambaran akan dampak kekeringan dapat dilihat tentang apa yang sudah direspon warga dapat ditindaklanjuti pemerintah lokal (desa) dan Pemkab Sikka.

Pada acara ini pun, Herry menyinggung soal wacana akan adanya Pertambangan Emas di wilayah Liakutu, Parabubu. Artinya sejak dini harus sudah dipikirkan mengenai strategi dan penguatan bagi warga. Mendengar informasi itu, para peserta menyatakan bahwa kami tidak mau wilayah kami digaruk seperti yang terjadi di tempat lain. Karena tambang hanya meninggalkan masalah bagi rakyat.

POTRET EKOLOGI
Dari diskusi tersebut, para peserta dari kecamatan Mego mengidentifikasi perilaku yang tidak berperspektif penyelamatan lingkungan, seperti: kebakaran Hutan dan lahan pada musim kemarau, kebakaran hutan secara sengaja dan tidak disengaja, Penebangan pohon secara serampangan, Pengambilan material C yang berlebihan tanpa UKL/UPL. Melemahnya aturan adat serta peranan struktur dan lembaga adat tidak berfungsi secara baik.
Herry sedang fasilitisasi Diskusi Kelompok Kecamtan Mego
Sedangkan di kecamatan Tanawawo, dapat diidentifikasi juga bahwa kondisi kawasan Hutan lindung sudah dijadikan lahan garapan masyarakat. Kawasan hutan adat sudah dijadikan lahan garapan karena sebagian masyarakat tidak punya lahan dan fungsi dari pemangku adat tidak berjalan.
Begitupun dengan para peserta dari Kecamatan Magepanda, Kondisi lingkungan kurang teratur (pemukiman tidak tertata, kebersihan kampung tidak terjaga) dan tanaman pohon kurang. Banyak ternak yang dilepas karena baru sebagian yang memiliki kandang. Lahan untuk hutan lindung sudah tidak ada lagi, karena kawasan sudah dijadikan lahan garapan masyarakat. Banyak lahan miring yang tidak ditanami pohon.

DAMPAK KEKERINGAN
Di wilayah kecamatan Magepanda kondisi sangat panas sehingga banyak tanaman yang mati, seperti tanaman perkebunan seperti kakao, kelapa dan pisang. Musim tanam di persawahan terlambat, bahkan gagal panen. Benih terlanjur tua karena kekurangan air bahkan tidak ada air.
Selain itu, di kecamatan Mego masyarakat kekuarangan air untuk mengairi sawah dan air minum untuk konsumsi sehari-hari. Fakta yang ditemukan, di kecamatan Mego bahwa banyak sumber mata airu yang mengalami penurunan debit di enam titik yakni, Ae Sule, Ae Mude, Ae Leko Ta’a, Ae Piri, Eko Watu Api dan Ae Ngaja, Gomo Rena (kering). Sedangkan di Dobo Nuapu'u, ada tiga mata air yang kondisinya baik dan terawat yakni, Ae Lera, Ae Sie, Ae Gare. Di desa Desa Dobo: ada dua mata air yakni Ae Sule dan Nio Sasi.
Sedangkan di Kecamatan Tanawawo, dapat diidentifikasi bahwa ada lima mata air yakni Watu Reta Jawa yang masih dipakai untuk masyarakat Nualako. Pohonya kurang tetapi airnya masih bisa dipakai untuk memenuhi kebutuhan warga sehingga perlu adanya penghijauan. Mata air Ae Rio (terdapat di kampung Nua Muri) yang bermanfaat bagi masyarakat Nua Muri, Watu Gana, Wolonio, Rategatu, Wolo Oja, Wolosoko, Wolosambi dan Nua Gudu. Mata air Ae Wolofai yang terdapat di Wolofai dan dipakai masyarakat Wolofai dan Wologana. Mata air Ae Bebo Kaki yang terdapat di Bebho dan digunakan di kampung Naka Boko. Mata air Lia Niki dan Ae Lokaroka yang ada di Lokaraka dan dikonsumsi oleh masyarakat setempat.
Di Desa Loke ada sumber mata air Rate Bito, Ae Lowo Gomo yang ada di Ratelabhu (musim panas debitnya berkurang), Ae Jita Lo’o, Ae Bubu yang ada di Loda lolo dan merupakan air yang paling bersih, dan Ae Lowo Kenda yang ada di Lia Ju yang debitnya selalu stabil walaupun di musim panas. Sedangkan di desa Renggarasi Mata air Ae Re’a yang ada di Mbeja yang dipakai oleh masyarakat kampung Mbeja, Wurundari dan Lamba Lero. Mata air Udu Kana yang ada di Wolo Kepo dan dipakai oleh masyarakat Wolofeo, Watu Teke, Watu Kuku, Nua tol dan Lia Bheke. Mata air Udu Rongge yang ada di Detu Mage dan digunakan untuk masyarakat Nua Tol. Mata air Lowo wumbu ada di desa
Sedangkan di Kecamatan Magepanda; Desa Done ada 10 mata air: Mata air Lewolere: sudah direalisasikan penanaman dan perawatan secara baik dari pendampingan Wethlands bersama WTM. Kondisi debit air di musim kemarau biasanya mmenurun. Mata air Bajone dan Mata air Ae Au sudah direalisasikan penanaman dan perawatan secara baik. Debit airnya sangat sedikit sehingga di musim hujan pun debit airnya sangat sedikit, sedangkan di musim kemarau Kairnya mengering. Di Desa Reroroja ada 4 mata air; seperti Wolo Koli, Wela Timba, Ae Kepo dan Tenda Ki. Selain itu ada sumber mata air ae keti, ae au, ae owo, di Dusun Koro. Sedangkan di desa Desa Kolisia B dan sumber mata air; Koja deka dan Lengga

REKOMENDASI:
  1. Pembuatan dan perbaikan bendungan dan saluran Irigasi untuk daerah-daerah potensi persawahan di kabupaten Sikka;
  2. Pengadaan sarana pengelolahan hasil sebagai pengembangan usaha-usaha alternatif petani dalam upaya peningkatan pendapatan ekonomi petani;
  3. Penanaman pohon di daerah mata air dan daerah-daerah yang gundul dan kawasan tangkapan air dengan mengidentifikasi pohon lokal yang mendatangkan air;
  4. Perlindungan dan Proteksi terhadap bibit lokal masyarakat dengan melakukan proses pemulian benih;
    5. Menjadikan pertanian selaras alam dengan mengembangkan usaha pertanian terpadu;

Sabtu, 30 Januari 2016

TIGA KELOMOK TANI KOLISIA B BUAT PUPUK ORGANIK DAN PESTISIDA ORGANIK

Kabar Nuhang, Tiga kelompok tani, (Sumur Bor, Kaju Naja O'a dan Sinar Harapan). Kelompok Sumur Bor beranggotakan 28 orang, melakukan pembuatan pupuk organik (6/01) dan pestisida organik (23/01). Sedangkan Kaju Naja O'a (21) melakukan pembuatan pupuk organik (25/01) sementara dalam proses fermentasi. Kelompok Sinar Harapan beranggotakan 30 Orang, pelajar SD dan SMP bersemangat melakukan pembuatan pupuk organik. Tujuan mereka agar membantu mereka dalam pembiayaan sekolah. Kegiatan-kegiatan ini difasilitasi oleh fasilitator WTM, wilayah kecamatan Magepanda.

Seusai kegiatan ini, Yohanes Moning (53) kader tani Desa Kolisia B, menyatakan bahwa pembuatan organik ini adalah motifasi bagi petani di wilayah ini. Karena kami di sini, orang harus melihat hasilnya. Bahwa kami selama ini dijajah dengan pembelian pupuk kimia yang mana kami harus menanggung biaya produksi yang mahal, ujarnya.

Lebih lanjut ia bercerita bahwa kelompok tani wilayah Kolisia B yang bukan dampingan WTM ingin pergi megambil pupuk urea tidak diberi karena katanya Kolisia B sudah buat pupuk organik. Ini menarik karena kami dibiasakan agar terus menjadikan organik sebagai pilihan petani.

Sedangkan menurut Erry, bahwa kelompok tani di Kolisia B memang awalnya sulit dikoordinasi. Tetapi berkat perjuangannya kemudian ada  tiga (3) kelompok tani yang didampingi WTM. Ini menjadi peluang agar mendorong petani di sana menjadi petani organik dan lebih dari itu mereka bisa menjadi lebih baik sesuai dengan idaman mereka.

Kamis, 28 Januari 2016

EVALUASI BULANAN DAN KEPANITIAN HUT WTM


Herry, Erry dan Tinus sedang Mendengar sharing
Dalam kesibukan para staf Wahana Tani Mandiri, evaluasi bulanan tetap menjadi rutinitas kelembagaan. Evaluasi bulanan yang dilakukan itu untuk mengechek perkembangan advokasi lapangan. Evaluasi kali ini tidak dihadiri Direktur (Carolus Winfridus Keupung) karena sedang berada di luar daerah. Untuk itu, evaluasi dipimpin oleh Herry Naif, Selaku Koordinator Advokasi, Riset, Organisasi dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Wahana Tani Mandiri di Pusat Sekolah Lapangan (PUSKOLAP) Jiro-Jaro, (28-29/01). 

Dalam pengantar, Herry menegaskan bahwa kesibukan dalam mempersiapkan HUT WTM tidak menghalangi rutinitas kelembagaan. Evaluasi menjadi kewajiban yang harus dilakukan. Tanpa evaluasi, kita tidak mengetahui seberapa perkembangan di komunitas.  Metode evaluasi yang digunakan adalah dengar pendapat dari para fasilitator lapangan dan staf WTM secara keseluruhan. 

Erry Muda (Fasilitator lapangan) di wilayah kecamatan Magepanda. Ia menginformasikan bahwa setelah petani dalam penantian yang lama  karena ketidakstabilan hujan, sekarang para petani sedang melakukan penanaman padi sawah, setelah hampir seminggu diguyur hujan terus. Pada kesempatan itu, ia menyampaikan mengenai beberapa aktifitas soal perlindungan kawasan air dimana warga berinisiasi melakukan penanaman pohon lokal di kawasan sumber mata air. 

Berbeda dengan, Dedy Aleks Bambang (Fasilitator Lapangan) wilayah Kecamatan Tanawawo yang lebih menekankan soal petani peneliti. Bahwa keempat peneliti asal kecamatan Tanawawo telah melakukan penanaman pada blok penelitian mereka. Yang menarik bahwa pada persiapan dan penanaman warga utusan dari setiap kelompok dampingan di desa hadir dalam persiapan dan penanaman. Keterlibatan mereka merupakan bagian dari belajar bersama, demikian ujar putra batak yang tinggal di Dobonuapuu. 

Sedangkan, Martinus Maju yang dikenal sebagai penjaga jantung puskolap Jiro-Jaro menekankan bahwa kendatipun dalam kesibukannya menyiapkan segala yang perlu tentang HUT WTM tetapi ia juga menyempatkan diri ke kampung-kampung. Ia lebih menekankan soal pendataan mata air lokal di desa agar diketahui dan kemudian direspons. Panas panjang tahun ini menjadi pembelajaran untuk perbaikan kualitas hutan terutama daerah penyanggah. Malah dengan lelucon ia katakan bahwa orang di dataran Mego punya jantung lagi kontrol oleh orang Poma dan Napu Gera. Kalau mereka nakal, maka yang ada di datara Mego akan mengalami banyak masalah terutama permasalah air.

Di sela-sela kegiatan itu juga hadir, Kristoforus Gregorius. Dari evaluasi itu ia menakankan bahwa kru WTM harus tampil dengan pendekatan yang menarik empati dan teknis usaha tani. Secara kelembagaan WTM telah memiliki kapasitas untuk itu. Karena itu diharapkan para fasilitator tidak ambigu dalam menyampaikan teknis. Karena itu kekuatan dan kekhasan WTM. Kita bukan pencatat data lapangan yang datang dan melaporkan jumlah anggota, tetapi kita hadir untuk membantu petani dalam menyelesaikan persoalan-persoalan yang dihadapi rakyat, demikian ujarnya.

Setelah itu, Herry mengajak untuk mengevaluasi kepantian HUT WTM. Dari hasil identifikasi persiapan, Herry yang selaku ketua Panitia Perayaan Syukur ke-20 WTM menyatakan bahwa persiapan disimpulkan sudah 70%. Karena itu, para kru WTM berjuang agar mensukseskan acara ini. Kita tidak mau, mengundang orang lalu persiapanya morat-marit, demikian ujar putra TTU. 

Selain itu, disinggung juga mengenai perawatan varietas padi lokal yang sudah ditanam di kebun contoh WTM. Menurut Tinus, bahwa sudah dua kali dilakukan penanaman, kita berharap dengan normalnya hujan sekarang memberi pertumbuhan yang baik agar cita-cita WTM sebagai pusat belajar dan laboratorium benih padi tercapai.




Sabtu, 23 Januari 2016

KELOMPOK SINAR TANI LAKUKAN RAPAT EVALUASI TAHUNAN

Rapat Evaluasi Tahunan Kelompok Sinar Tani Lekebai (21/01)
Kelompok tani "Sinar Tani" beranggotakan 15 Orang. Kelompok ini didirikan sejak tahun 2005. Dalam usia yang kesepuluh kelompok usaha tani melakukan rapat evaluasi tahunan sebagai momentum perbaikan manjamen (21/01) yang dihadiri oleh pemerintahan kecamatan Mego, Wahana Tani Mandiri, Ria Bewa Mego (tokoh adat), Badan Ketahanan Pangan Kabupaten Sikka dan berbagai organisasi lainnya.

Wihelmus Wara (ketua kelompok)  dalam sambutannya pada kegiatan yang dihadiri oleh 50-an rang ini menyatakan bahwa jumlah kelompok ini, kendati kecil jumlahnya tetapi mereka memiliki aktifitas yang menghidupi anggota, seperti: Usaha Tani, Simpan Pinjam dan lumbung pangan. Malah sekarang bersama Wahana Tani Mandiri (WTM) kerja sama dengan Miserior melakukan “penelitian kawin silang varietas padi” ujarnya.

Kelompok tani ini mempunya jaringan baik dari kabupaten dan Wahana Tani Mandiri dan kegiatan yang dilakukan bersama P4S Jiro-Jaro juga turut serta para anggota yang hadir membuat semakin menjadi bangga. Mereka banyak banyak mendapat informasi dan pengetahuan dan informasi yang baik. Kelompok ini banyak dikunjungi instansi-instansi pemerintah.
Rencana Kerja Kelompok Tani Sinar Tani Lekebai, untuk tahun 2016 sampai dengan pengolahan hasil minyak kelapa murni dan Penelitian kawin silang varietas padi lokal kerja sama dengan WTM (KN.3)

Kamis, 21 Januari 2016

Forum Peduli Penanggulangan Bencana Sikka Turun langsung lapangan

Setelah Forum Peduli Penanggulangan Bencana Kabupaten Sikka bertemu dengan Wakil Bupati SIkka (15/01), Paulus Nong Susar disepakati agar ada pertemuan koordinasi para pihak terutama instansi-instani yang berperan dalam penanggungalan bencana. Tetapi hingga hari ini agenda pertemuan koordinasi itu belum dijalankan padahal pengungsi sudah mengalami beberapa problem.

Karena itu, Forum yang diketuai Alex Armanjaya dan Sekretaris (Carolus Winfridus Keupung ini berinsiasi melakukan diskusi terbatas di Kantor Yayasan Flores Sejahtera, yang dihadiri oleh yaspem, PMI, WTM, Sares, Caritas Maumere, WVI dan Child Fund.

Dalam diskusi itu Adityo dari PMI mempresentasikan soal kondisi lapangan yang sedang terjadi. Bahwa di pengungsian itu permasalah yang ada itu banyak tetapi kami melihat bahwa persedian air sangat terbatas. Ada beberapa mata air yang sudah dicemarin. Ada tengki air yang dikirim tetapi hanya pergi antar dan pulang maumere, padahal bila tengki itu ada di sana pasti akan sangat membantu mereka, demikian ujarnya.

Dari presentasi itu kemudian forum menyepakati agar memberikan bantuan sesuai dengan kapasitas yang dimiliki terutama pakaian dan susu untuk empat puluhan bayi, pembalut, makanan dll. Forum bertekad untuk mengantar langsung bantuan yang ada ke daerah pengungsian.

KEMENTAN JANGAN HANYA UTAMAKAN KEPENTINGAN RAKYAT JAKARTA, HARUS NAIKAN HARGA SAPI DI NTT


Berita “Kementan Pangkas Rantai Distribusi Sapi NTT”, yang hampir dipublikasi media lokal di NTT  tentang Kementrian Pertanian telah memangkas sejumlah rantai distribusi sapi yang dibawa dari Nusa Tenggara Timur menuju DKI Jakarta. Bahwa Rantai distribusi yang panjang membuat harga daging sapi menjadi mahal.

Menanggapi berita ini,  Carolus  Winfridus Keupung Direktur Wahana Tani Mandiri menilai bahwa pertama-tama kami mengapreseasi kebijakan Kementrian Pertanian yang mana mulai memperhatikan kebutuhan riil masyarakat Indonesia, ujarnya.
Namun ada beberapa hal yang ini kami garis bawahi, diantaranya: pertama, Kementerian Pertanian dengan kebijakan pangkas rantai distribusi sapi NTT terkesan hanya melindungi para konsumen di Jakarta, tetapi tidak memberi perlindungan dan peningkatan kualitas hidup petani/peternak NTT. Padahal Kementrian Pertanian seharusnya menelurkan sebuah kebijakan dimana peternak NTT juga harus mendapatkan impak dari kebijakan tersebut. Bukan hanya sekedar mengantarpulaukan sapi atau membuka pasaran tetapi bagaimana dengan perlindungan bagi petani/peternak, demikian ujar mantan Direktur WALHI NTT
Lebih dari itu, aktifis yang sudah melanglang buana ini juga melihat bahwa Kementerian Pertanian belum memiliki kebijakan agar bagaimana menambah populasi sapi di NTT, karena bila hanya diutamakan adalah pendistribusian lalu bagaimana dengan proses produksi sapi di NTT agar berkelanjutan dalam jangka waktu yang panjang. Kuatinya bila ini tidak diperhatikan, hanya sekali kirim setelah itu tidak ada yang dikirim lagi. Padahal kita mau agar sapi dijadikan sebagai salah pendongkrak ekonomi di NTT ketika kekeringan panjang yang sedang dialami warga.

<marquee>WTM LAKUKAN VAKSIN AYAM DI 3 KELOMPOK TANI DI EGON GAHAR</marquee>

Ansel Gogu (Kader Tani WTM) sedang Vaksin ayam anggota Kel. Tani Egon Gahar, KN , Dalam rangka mendorong sebuah pola budi daya ternak t...